
Hansell tengah memandang dirinya di sebuah cermin yang ada di kamar mandi, ia bahkan tidak menyangka atas apa yang terjadi tadi malam. Sungguh Hansell tidak menduga jika akirnya logika pria itu akan kalah dengan hati, jiwa pria itu benar-benar meleleh sempurna ketika sentuhan mereka terus saja membuat jantungnya bergemuruh hebat.
"Apa yang harus aku lalukan dengan bekas merah ini" kesal pria itu pada dirinya sendiri.
Tentu Hansell tidak segila itu untuk pergi sekolah dengan bekas merah yang berluang-luang di lehernya, bahkan ini akan memalukan dan bisa mengiring opini orang yang melihat, Hansell menarik ponsel yang terletak di nakas untuk meghubungi Dikra.
"Ada apa?" balas Dikra dari balik ponselnya dengan suara parau, khas orang bangun tidur.
"Dikra leherku memerah, apa yang harus aku lakukan" terus Hansell dengan jengkel.
"Memangnya kenapa dengan lehermu" ucap pria itu.
"Apa kau lupa yang semalam" teriak Hansell dengan kesal, bahkan membuat Dikra menjauhkan ponsel itu saat suara Hansell mampu mengetarkan gendang telinganya.
"Memangnya kenapa tadi malam" ucap Dikra di tengah dirinya menutup mata, bahkan nyawanya belum berpadu dengan raga, bagaimana bisa Dikra mencerna perkataan Hansell yang membingungkan ini.
"Ada kucing liar yang mengigit leherku tadi malam, dan saat ini sudah membentuk bekas merah yang cukup banyak di sepanjang permukaan kulit, aku bahkah ingin memberikan seseorang pelajaran karna menipuku, katanya ia akan memanggilkan dokter untuk mencegah kucing itu mengigit, tapi lihatlah semalam, ia tidak datang, dan membuatku mengalami siksaan oleh kucing liar itu sepajang detik"
"Astaga keterlaluan sekali orang yang menipumu itu....." hingga mata Dikra terbuka sempurna, ia baru sadar jika perumpamaan yang Hansell jelaskan terkait dirinya.
"Hm...." putus Dikra ketika beralih ke mode serius. "Teman, bagaimana dengan lehermu sekarang?" tanya pria itu dengan penuh peduli, sungguh jika pria itu murka, Dikra benar-benar akan merugi besar karna nya, untuk itulah menyadarkan diri adalah langkah terbaik untuk memperbaiki keadaan.
"Leherku sudah memerah karna gigitanya, apa yang harus aku lakukan, bagaimana aku akan kesekolah dengan kondisi seperti ini" teriak Hansell dengan penuh geram, membuat Dikra menjauhkan ponsel itu sekali lagi, seraya tersenyum getir dengan penuh bingung.
"Bagaimana ya...." ucap Dikra dari balik sana seraya mengaruk kepalanya dengan bingung, sungguh Dikra juga tidak mengerti apa yang harus di lakukan untuk menutupinya.
"Cepat katakan apa yang harus aku lakukan" teriak Hansell dengan kesal, hingga Dikra memijit kepalanya untuk di paksa berfikir.
"Bagaimana jika kau gunakan saja syal untuk menutupinya"
"Apa kau gila, orang gila mana yang akan mengunakan syal di musim panas ini" teriak Hansell padanya.
"Kau benar juga.....bagaimana jika di tutupi mengunakan bedak?" usul Dikra.
"Mengunakan bedak??" saut Hansell dengan penuh bingung.
__ADS_1
"Benar!!! Alas bedak yang sering di gunakan oleh wanita itu, aku bahkan sering melihat jika alas bedak itu bisa menutupi bopeng jerawat di wajah mereka, hingga terlihat sempurna, dan kau gunakan saja itu untuk menutupinya" usul pria itu.
"Bagaimana caranya?" tanya Hansell dengan penuh bingung.
"Cobalah kau lihat di internet, mungkin kau bisa paham maksud ku" terus Dikra dari seberang sana, membuat pria itu membuka leptop lipatnya seraya mencari sesuatu yang Dikra maksud.
Matanya tengah menatap layar leptop itu, bahkan Hansell amat lihai mencari dan megetiknya, bahkan pria itu perlahan memahami apa yang harus ia lakukan, hingga dirasa cukup mudah cara pengaplikasianya, membuat Hansell tersenyum sumbringah, sembari mengajak Dikra untuk menemani.
"Dikra ayo beli benda ini" ajak Hansell padanya.
"Minta saja punya Angel" perintah Dikra dari balik sana.
"Apa kau gila, apa yang akan dia katakan jika melihatku seperti ini, bahkan aku tidak bisa berfikir apa yang adik ku fikirkan saat kakak lelakinya meminta Foundation, sudahlah jangan banyak bicara, aku akan menjemputmu untuk ke toko kosmetik sebelum berangkat sekolah" ucap pria itu dengan nada perintah, bahkan belum sempat Dikra menolaknya, Hansell sudah mematikan ponsel itu untuk bersiap-siap pergi.
*
Kedua pria tampan yang sangat elegan itu memasuki toko kosmetik secara bersamaan, bahkan mereka mengunakan jakat untuk menutupi seragam sekolah, serta melengkapi wajah dengan kaca mata hitam dan topi, banyak wanita yang sedang melirik kearah Hansell dan Dikra, hingga rasanya mereka sangat cangung dan gugup ada di toko kosmetik itu.
"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang pelayan toko dengan nada ramah, ia bahkan menundukan badan dengan sikap hormat sembari menahan tawa atas pria yang mengunakan penyamaran lengkap.
"Kami ingin membeli alas bedak" ucap Dikra.
"Kenapa kau norak sekali, bukan alas bedak namanya, tapi Foundation" putus Hansell.
"Benarkah, ah iya itu Nona, kami mau membeli Foundation yang di sebutkannya barusan" terus Dikra.
"Baik tuan, silahkan ikuti saya" ucap wanita itu dengan senyum malu-malu yang tengah ia sembunyikan.
"Ini merek terbaru yang kami miliki, ada beberapa side warna, anda mau yang warna apa?" tanya wanita itu pada pelangannya dengan ramah.
Membuat Hansell dan Dikra saling bertatapan seolah amat bingung untuk menjawabnya.
"Yang mana saja" ucap Hansell degan begitu cangung.
"Maksudnya tuan? Memangnya siapa yang akan mengunakanya" tanya wanita itu dengan nada pengertian.
__ADS_1
Membuat kedua pria itu saling tunjuk satu sama yang lainnya. Bahkan beberapa pegawai wanita nampak tertawa di seberang sana melirik tingkah Hansell dan Dikra.
"Kenapa kau menunjukan, bukankah ini untukmu" dengus Dikra dengan malu, membuat Hansell mengerucutkan bibirnya dengan jengkel.
"Saya lihat warna kulit kalian cukup sama, bagaimana jika mengunakan nomor 1 saja, agar menyatu dengan warna kulitnya" usul wanita itu sembari memberikan sedikit petunjuk.
"Tidak perlu" putus Hansell hingga menarik perhatian pegawai toko yang antusias menjelaskan. "Aku akan membeli semuanya, silahkan bungkus dan aku akan membayarnya" hingga pria itu berjalan angkuh ke meja kasir untuk mempertahankan harga dirinya.
"Hansell apa kau yakin" kejar Dikra saat melihat temanya.
"Kau tenang saja, aku sudah memahami cara untuk mengunakan benda itu ke kulit, akan sangat memalulukan jika aku terlihat mahir mengunakanya, jadi biarkan kita beli semuanya untuk di gunakan sendiri"
"Tapi itu banyak sekali Hansell" kekeh Dikra untuk mencegat sikap implusif Hansell untuk belanja.
"Biarkan saja, harga diriku lebih tinggi pada seluruh harga Foundation sialan ini"
Membuat kedua tangan mereka di penuhi oleh faudation yang Hansell beli, bahkan Dikra tidak menyangka akan sebanyak ini, hingga mereka terlihat seperti perampok pagi-pagi sekali.
Bukanlah ini sangat lucu jika di jadikan berita, Hansell Hamillton lelaki nomor satu di negara merampok faudation pagi-pagi sekali di sebuah toko kosmetik, sunggu memalukan sekali.
Mereka sudah menepi di sebuah trotoar jalan, bahkah mereka memalingkan kepala melirik kearah belakang, bagaimana mungkin kabin penumpang itu di penuhi oleh Faundation yang sangat banyak sekali.
"Bukankah sudah aku bilang untuk membelinya satu saja, dengan bantuan gadis itu kita bisa tahu mana yang sangat cocok untuk kulitmu, sekarang lihatlah benda menjijikan itu, tidak tahu harus di gunakan yang mana"
"Aish! Ini semua karna mu" teriak Hansell kehadapan Dikra.
"Kenapa kau berteriak padaku" kesal Dikra padanya.
"Karna jika kau kembali membawa Dokter, maka semua ini tidak akan terjadi"
"Apa kau tidak tahu, dosis yang Airyn minum itu sangat berbahaya jika di hentikan, bahkan akan terjadi kerusakan syaraf yang sangat fatal jika di berentikan dengan obat-obatan"
"Benarkan..." tanya Hansell dengan pandangan nanar.
"Tentu saja" timpal Dikra seketika.
__ADS_1
Pantas saja reaksinya sangat dahsyat, bahkan setelah gejolak Airyn tenang, barulah ia bisa tidur nyeyak dan itu masih dalam pelukan tubuh Hansell, jika begini siapa yang mengambil keuntungan dari siapa?