Suami Gangster

Suami Gangster
Awal Mula


__ADS_3

Di arah barat kota. Di dalam sebuah rumah sakit. Seorang wanita berkisar usia 19 tahun, perlahan membuka mata. Dia menetralkan cahaya yang masuk kedalam retina mata. Setelah beberapa menit, dia menyadari sesuatu hal


"Kenapa, aku berada di rumah sakit?" kata Aurel dalam hati.


Aurel mengalihkan pandangan pada Ibu dan Ayah yang sedang berbincang dengan nada kasar. Dia bertanya-tanya dalam hati


Ada, apa ini... Pusing sekali.


Beberapa saat kemudian. Ibu menoleh, lekas dia mendekat kemudian menampar wajah Aurel. Hal itu membuat wanita itu terheran, kemudian bertanya


"Kenapa, Ibu menampar, Apa aku telah berbuat sebuah kesalahan?" kata Aurel sedikit berbisik


Ibu Aurel Menghela nafas. "Aurel


Ibu ingin kamu berkata jujur. Siapa yang menghamili kamu?"


H-hamil? Apa, Ibu sedang bercanda?


"Maksud Ibu, apa? Aku mana ada hamil."


Lagi-lagi pertanyaan yang sama keluar. Tetapi Aurel hanya menjawab seadanya. Dia tidak tahu, jika dia benar hamil.

__ADS_1


"Sudah cukup! Aurel, jangan pura-pura lagi, kamu tahu kamu hamil, mengandung anak seseorang. Jika kamu memberitahu siapa yang menghamili mu Ibu akan meringankan hukuman....!"


Aurel tersenyum sendu. Matanya berbinar ingin menangis, sifat asli wanita ini sudah ditunjukkan. Aurel kemudian mengepal erat selimut putih yang membalut tubuhnya. Dia menggertakkan gigi.


Kenapa kamu memiliki perubahan sikap yang begitu cepat. Sejak kecil tidak mengasihi ku secara sungguh-sungguh, l


Aurel kemudian memejamkan mata untuk mengingat kejadian semalam. Hingga dia teringat akan seseorang "CLARISSA!" kata Aurel dengan amarah, ketika membuka mata.


Pekan lalu, Clarissa mengajaknya kesebuah bar didekat kampus. Dia yang begitu percaya dengan sahabat hanya mengikut. Tapi siapa sangka, dia malah dijebak, alhasil melakukan kesalahan satu malam hingga hamil.


"Kenapa kamu malah menyalahkan Clarissa. Kamu tahu siapa yang membawamu kesini? Dia Clarissa. Ibu benar-benar kecewa padamu! harusnya aku tidak membawa kamu saat itu." berkata dengan suara nyaring.


Caci aku! Maki aku. Anak yang tidak berguna sepantasnya diperlakukan seperti ini. Untuk apa berkata munafik, jika dalam hati menghina!


"Mrs. Ami, putri Anda baik-baik saja. Janin dalam kandungannya juga sehat dan begitu baik. Nona Aurel sudah diperbolehkan untuk pulang." kata Dokter Gu.


Mrs. Ami yang tidak lain adalah ibu Aurel hanya memasang wajah dingin. Dia menjentikkan jari, kemudian berjalan kearah Dokter Gu.


"Dokter Gu, jika boleh gugurkan saja kandungan dalam rahimnya. Anak yang tidak jelas asal-usulnya, akan menjadi noda keluarga. Keluarga Oliver akan tercemar olehnya."


Dokter Gu terdiam begitu juga semua orang, ruangan itu sunyi, hanyut dalam perkataan Mrs. Ami. Aurel menitikkan air mata, ia memandang kearah perut. Ada belas kasihan.

__ADS_1


Tidak!


Ini anakku. Bagaimana aku tega, mendengarnya janin ini akan digugurkan?


Aku akan berjuang mati-matiaan untuk melindunginya. Kau tidak akan membiarkan ibu bertindak seenaknya.


Aurel menggertakkan gigi, dia membuka selimut. Berjalan kearah Mrs. Ami dengan sedikit pincang, matanya kini melotot dan penuh amarah.


"Aku tidak terima dengan perkataan ibu." kata Aurel yang kemudian menunjuk perutnya. "Ini anakku atas dasar apa ibu mengatakan hal itu. Aku tahu kamu membenciku, tapi setidaknya jangan rebut sesuatu hal yang menjadi milikku.


"Aku tahu! SANGAT TAHU, aku telah melakukan kesalahan besar. Menjadi noda keluarga, tapi tahukah kau? Aku juga punya harga diri. Tidak peduli apa yang terjadi, anak ini tidak bersalah."


"Lancang sekali kamu Aurel, berkata seperti itu pada ibumu!" seru Mr. Adam ayah Aurel. Dia sangat marah, mendekat dan melayangkan tamparan. Tidak perduli, jika yang didepannya sedang hamil.


"KALAU BEGITU AKU KELUAR SAJA! Jika kalian memang tidak menginginkan kehadiranku. Sejujurnya mengadopsi aku karena apa? Kasihan, atau hanya alat untuk menutupi luka Oliver? Aku benci kalian! Mulai saat ini aku bukan bagian keluarga kalian." kata Aurel setengah berteriak. Matanya memerah karena menangis.


"Pergilah! Pergi sejauh-jauhnya. Kamu hanya menjadi beban bagi keluarga kami." perkataan Mrs. Ami menjadi pisau tajam yang menusuk hati.


Aurel menerobos, meninggalkan tempat itu. Dia tidak tahu apa-apa. Menjadi korban karena kekejaman sahabatnya. Amarah meliputi, pria yang menghamilinya, dia sumpah serapah.


Aurel memesan taksi, menuju ke kediaman Oliver. Mengangkut semua barangnya. Dia gunakan uang yang sudah ditabung, untuk membeli tiket pesawat.

__ADS_1


Selamat tinggal kota X, dan selamat datang Kota B. Mulai sekarang, aku akan menjadi orang yang baru. Terlalu lama bersarang dalam ikatan masalalu. Aku ingin menjadi ibu yang baik untuk buah hati yang akan segera hadir dalam hidup.


Selama di kota B, Aurel mencari profesi untuk sementara. Seorang penulis. Untuk biaya hidup di kota. Dan setelah buah hatinya lahir, pekerjaannya menjadi pegawai kantoran. Hidupnya yang dahulu semu kini menjadi berwarna, anaknya kembar! Dengan kecerdasan diatas rata-rata anak seusia mereka. Hidup mandiri dan tidak merepotkan ibu mereka.


__ADS_2