Suami Gangster

Suami Gangster
bagaimana kalau ke gunung?


__ADS_3

Jingga menyapu rumah itu dengan amat teliti,bernyanyi riang sana sini,mencari perhatian.Iya tahu sedari tadi Ibu nya Rey terus melihat nya jadi Dia menggunakan kesempatan ini sebaik munkin.


"Asal aku terlihat baik dan pantas di mata nya pasti aku bisa merebut hati nya" batin Jingga


Jingga tak berhenti di sana Iya mengambil kempel lalu mengepel seluruh ruangan itu,Iya benar benar lelah"Jingga bertahan lah ini demi agar tujuan mu tercapai!" Ucap Jingga dalam hati nya menyemangati diri nya sendiri


Hal itu membuat Ibu Rey yang sedari tadi melihat nya dari lantai atas memincing kan mata nya heran,sebap tak biasa nya Jingga bersifat seperti ini.


Ibu Rey berjalan menuruni tangga sembari memain kan hp nya,berjalan ke arah Jingga dan dengan sengaja menumpah kan air di ember"Aduh..Maaf,Aku benar benar tak sengaja" ucap Ibu Rey lalu berjongkok ingin mengambil ember.


"Tak apa nyonya!,Aku bisa melakukan nya,Anda bisa istirahat tak baik Jika nyonya pemilik rumah membantu ku yang hanya tinggal menumpang di sini" ucap Jingga dengan ramah sembari berjongkok membersih kan ke kacauan yang di buat oleh Ibu Rey


"Sialan!.Apa benar tak sengaja? Atau kau ingin menguji ku?, heh' benar benar bodoh Aku akan membuat mu memberikan kepercayaan mu padaku dan saat itu tiba kamu akan mengalami kekecewaan yang dalam!" Batin Jingga lalu melanjut kan pekerjaan nya yang tadi setelah Ibu Rey pergi ke dapur.


"Aneh'Apa hanya perasaan ku hari ini Dia sangat berbeda Dia tak seperti biasa nya,apa lagi yang Dia rencanakan?" Batin Ibu Rey lalu duduk di kursi.


Ibu Rey terus saja terpikir akan perubahan sikap dari Jingga.


"Eh? Tante,kenapa duduk melamun di situ? Apa perlu aku buat kan teh" ucap Jingga tiba tiba yang sudah selesai melakukan kegiatan nya tadi


"Ah ya boleh" spontan Ibu Rey menjawab ucapan Jingga hal itu membuat Jingga pergi menyeduh teh dan kembali se saat kemudian.


"Ini tan,Teh nya" ucap Jingga lalu menaruh secangkir teh itu di hadapan Ibu Rey,Agak ragu namun Dia hanya mengangguk kan kepala nya.


Ibu Rey sangat canggung akan ke adaan saat ini,Jingga tak kunjung duduk membuat Ibu Rey merasa bersalah"kamu duduk lah tak baik berdiri terus!"


Jingga segera duduk di kursi lalu menatap ke arah Ibu Rey dengan dalam dalam.


"Oh iya tante aku ingin bicara apa boleh?"


"Bicara? Tergantung" Dia menyeruput teh nya"kamu tidak minum?"


"Tidak usah" ucap Jingga tersenyum palsu

__ADS_1


"Sebenar nya aku ingin mengajak tante ke suatu tempat aku ingin membuktikan pada tante bahwa aku tak seburuk itu di mata tante aku ingin membuktikan nya!.Apakah boleh?"


Ibu Rey mengerut kan alis nya bingung.


"Kalau boleh tau kemana?"


"Pegunungan Dhision" ucap Jingga lalu tersenyum.


(Kita ganti sebutan ibu Rey jadi nyonya Dinda-nama nya Dinda;)


NyonyaDinda tertegun"pegunungan? Apa Dia tau aku sangat menyukai tempat seperti pegunungan?, tapi itu mustahil!" Batin Nyonya Dinda


"Bagaimana tan?"


"Emm..Baiklah tapi kali ini saja dan aku hanya bisa pergi akhir pekan nanti kamu setuju?"


"Tentu saja."Jingga tersenyum sedang kan hati nya memaki habis habisan Nyonya Dinda


"Baikalah karena kamu sudah selesai berbicara aku ke kamar dulu dan istirahat lah kamu pasti lelah" Dia berdiri lalu pergi meninggal kan Jingga.


-


Jam demi jam berlalu,hari demi hari berlalu.Tak terasa akhir pekan pun tiba,nampak Jingga tengah berkemas,Dia benar benar kelelahan seminggu ini demi meningkat kan kepercayaan Nyonya Dinda pada nya.


Iya selalu terlihat ramah dan baik hati,Dan sangat suka menolong hal itu tentu saja membuah kan hasil,perlahan demi perlahan hati Nyonya Dinda mulai bergerak dan memberikan satu kesempatan untuk Jingga.


Tapi apa kah Jingga akan menggunakan nya dengan benar?


Jingga tersenyum ramah ketika melihat Nyonya Dinda sudah memasukkan barang barang yang mereka perlukan ke dalam mobil.Bahkan Silvi yang selalu melihat mereka tak bisa ikut karena bujukan dari Jingga.


"Hati hati nya Jingga!Jaga diri mu baik baik dan juga jaga Ibu" ucap Silvi lalu memeluk tubuh Jingga erat.


Jingga membalas pelukan itu dengan hangat"cih ingin rasa nya ku robek mulut mu itu" batin Jingga mengepal tangan nya kuat di balik badan Silvi.

__ADS_1


"Kakak kalau begitu aku dan Tante pergi dulu nya!" Ucap Jingga lalu masuk ke dalam mobil begitu pun dengan Nyonya Dinda


Selama perjalanan tak ada percakapan sama sekali,Jingga tak mau membuka pembicaraan sedang kan Nyonya Dinda fokus menyetir mobil agar tak mengalami kecelakaan karena kondisi jalan yang cukup macet.


Mereka berkendara hampir Satu jam lama nya karena letak pegunungan itu memang agak jauh dari rumah.Jingga turun dan menatap takjub tempat yang akan menjadi tempat berteduh mereka selama dua hari.


Nyonya Dinda mengunci pintu mobil lalu berjalan masuk ke area pegunungan,mobil tak bisa masuk ke pegunungan karena kondisi jalanan yang begitu buruk,jika sekedar kereta biasa munkin masih bisa.


Nyonya Dinda terus saja berjalan ke arah puncak,mereka mendaki dan bertekad untuk memasang tenda di puncak.


"Huh' Tante berhenti sebentar aku lelah,kita lanjut sebentar lagi"


Nampak nafas Jingga tak beraturan,Iya benar benar kelelahan.Hal itu membuat Nyonya Dinda merasa Iba lalu mengambil botol minum nya memberikan nya pada Jingga


"Ini minum!kau pasti haus" Dia menyodor kan botol minum itu dan dirterima dengan baik oleh Jingga.Jingga segera meminum nya.


Beberapa saat kemudian Jingga berdiri"ini sudah mendingin ayo Tan kita lanjut kan perjalanan nya" ucap Jingga penuh dengan semangat.


Ke dua nya pun kembali melanjut kan jalan nya,mereka baru sadar jika mereka masih berada di tengah tengah pegunungan jadi puncak nya masih ada setengah jalan lagi.


Nyonya Dinda menyandar kan tubuh nya di pohon sembari minum.


"Tante apa kamu pernah berpikir jika aku jahat!"


Pertanyaan dari Jingga hampir saja membuat Nyonya Dinda tersedak ludah nya sendiri.Pertanyaan ini cukup sulit untuk Dia jawab karena kini wanita itu tiba tiba berubah menjadi gadis baik hati yang polos dan lugu.


"Dulu Aku menganggap mu sebagai wanita rendahan karena penampilan mu yang begitu rendahan dan cara mu yang menjijik kan mengoda Rey tapi setelah ku lihat lihat sekarang kau jauh berbeda dengan yang ku lihat dulu" tutur Nyonya Dinda dengan jujur nya.


"Apa kah Dia sedang memuji ku atau menghina ku?" Batin Jingga kesal.


"Oh begitu nya jujur saja aku sudah berusaha untuk berubah dari diri ku yang dulu agar Tante menerima ku dengan tulus.Tapi seperti nya aku terlalu percaya diri!tapi yasudah lah karena ini sudah tengah siang sebaik nya kita lanjut kan perjalanan nya sebelum malam tiba" ucap Jingga lalu mendahului Nyonya Dinda


"Apa benar sesederhana itu?" Gumam Nyonya Dinda.

__ADS_1


__ADS_2