Suami Gangster

Suami Gangster
di kurung


__ADS_3

Aurel yang melihat kejadian itu di depan mata nya terjatuh di tanah


"Lagi lagi hal itu terjadi lagi,hiks kenapa aku baru sadar? Jika ke hidupan ku ini hanya sebekas permaianan? Kenapa semua nya selalu berakhir seperti ini? Apa setelah ini Rey tak akan mempercayai ku lagi? Dan Dia akan menelantar kan ku hiks" Aurel menangis,meringkuk di lutut nya.


Devi yang melihat itu juga ikut menangis lalu ikut memeluk tubuh sang ibu"mama jangan menangis! Ini bukan salah mama jadi mama tak boleh menangis"


Tak ada jawaban.


Dari arah dalam,Dava keluar sambil menguap,Iya baru saja terbangun dari tidur siang nya,mengusap beberapa kali mata nya kemudian melotot"mama! Devi!" Pekik Dava lalu berlari ke arah Mama dan Devi.


"Apa yang terjadi kenapa kalian menangis?" Dava panik,namun tak ada jawaban dari Aurel.


"Devi apa yang terjadi?"


Devi menggeleng kan kepala nya ,iya juga tak tau apa yang terjadi sebenar nya.


Aurel mendongak kan kepala nya lalu mengusap air mata nya"kalian berdua tetap di sini! Jangan pergi ke mana mana,mama pasti kembali nanti mama akan bertanggung jawab dan menjelas kan ini pada papa kalian" ucap Aurel dengan nada Serius di angguki oleh Dava dan Devi.


Aurel pergi namun Iya tak sengaja menjatuh kan selembaran yang di berikan oleh Geby kepada nya,Devi yang melihat itu memungut nya dan begitu terkejut.


"Ini?"


"Ada apa Devi? Dan apa yang di tangan mu" tanya Dava yang juga ikut penasaran.


Devi segera menyembunyikan Selembaran itu di belakang punggung nya lalu tersenyum masam"bukan apa apa kok kak! Ini hanya barang yang ibu jatuh kan tak penting kok! Aku akan mengembalikan nya nanti"


Dava yang mendengar itu hanya mengangguk kan kepala nya percaya akan perkataan Devi.


"Ini lomba bermain biola? Tapi lokasi nya di kota B apa aku bisa mengikuti nya tapi- aih sudah lah aku sampai kapan pun tak akan mau lagi mengikuti lomba lomba begini lagipula aku sudah berjanji." Batin Devi yang wajah nya kembali murung,meremas kuat selembaran di belakang punggung nya.


Di lain sisi,Aurel berjalan ke arah salah satu suster yang kebetulan lewat dan menanyakan kamar pasien dengan nama :N.y Dinda/Dinda ,dan akhir nya menemukan nya.

__ADS_1


Aurel memilih untuk duduk di luar menunggu mereka keluar,Aurel memeremas kuat rok nya,iya gugup akan apa yang akan terjadi.


Kryet


Pintu terbuka,Silvi keluar terlebih dahulu di ikuti Jingga,Rey dan Dokter,


Nampak raut wajah mereka lega seperti nya kondisi N.y Dinda sudah membaik.


Setelah dokter pergi,Silvi menoleh kan kepala nya dan kembali emosi"kamu!!..Kenapa kamu masih ada di sini? Gara gara kamu Ibu ku harus di rawat di rumah sakit selama 2 minggu karena masih ada masalah di kepala nya,beruntung kepala nya tak terbentur keras dan semakin parah atau tidak kamu tak akan selamat!" Marah Silvi dengan nada dingin.


Aurel berdiri lalu menggertak kan gigi nya,cukup! Ini sudah cukup"bukan aku yang melakukan itu!"


Silvi mendekat lalu menampar wajah Aurel"jika bukan kamu siapa lagi?!"


Aurel terdiam,lalu menoleh ke arah Jingga menatap tajam ke arah Jingga"Dia yang melakukan nya,Iya Dia!!"


Plak!!


"Tak pernah ku sangka kamu akan melakukan hal memalukan ini Aurel! Jika kamu memang salah seharus nya kamu minta maaf bukan malah melempar kan ke salahan mu pada orang lain" ucap Rey dengan dingin dan arogan.


Aurel terdiam berdecak kesal"oh sekarang kamu juga sudah tidak memepercayai ku lagi? Ternyata mulut pria itu hanya omongan belaka nya dan JUGA AKU TAK SALAH DAN TAK PERLU MINTA MAAF!!" teriak Aurel lalu hendak pergi namun tangan nya di gemgam oleh Rey.


"Ikut aku!" Rey menarik paksa tangan Aurel,menuju keluar rumah sakit dan hal itu di saksikan oleh Jingga.


"Emm..Pertunjukan yang menarik" batin nya


Aurel meringis pelan ketika iya di masuk paksakan ke dalam mobil,Rey membawa mobil mengebut akibat emosi hal itu membuat Aurel hanya bisa berdoa agar tak mengalami kecelakaan.


Saat sampai di rumah Rey langsung menarik tangan Aurel secara paksa"lepas! Mau kau bawa aku kemana Rey?!"


Plak!

__ADS_1


Lagi lagi Rey menampar wajah Aurel bedanya kali ini tamparan nya lebih keras dari sebelum nya"berisik!! Aku akan memberikan mu hukuman,pertama kamu mencelakai ibu ku! Ke dua kamu berselingkuh"


Aurel tersentak kaget"selingkuh? Tidak Rey ku mohon jangan percaya tentang itu" Aurel menangis namun percuma saja kali ini hati Rey benar benar telah beku.


Rey melempar kan sebuah majalah ke wajah Aurel lalu mendorong nya masuk ke dalam gudang,menutup pintu rapat rapat,tanpa di sadari Rey sedari tadi hal itu di saksikan oleh Dava dan Devi.


"Papa! Apa yang papa lakukan? Kenapa papa mengurung mama,buka pintu nya pa" teriak Dava menangis di ikuti oleh Devi,


Merasa jengkel akan sifat ke dua nya Rey tak memperdulikan nya lalu pergi.


Dava terjatuh di depan pintu gudang begitu pun Devi"mama!"


Aurel yang berada di dalam juga ikut menangis"Dava,Devi..Hiks,kalian pergilah ini sudah hampir malam tidur lah kalian pasti lelah kan" ucap Aurel mencoba menguat kan diri nya


"Tapi mama-" ucapan Dava terpotong"tidak perlu cemas kan mama,mama bukan anak kecil lagi jadi mama bisa menjaga diri mama sendiri yang penting kalian sehat"


Mendengar hal itu Dava dan Devi hanya mampu mengiyakan nya lalu pergi.


Aurel menghela nafas panjang lalu membuka majalah yang di lempar kan oleh Rey tadi,mata nya melotot ketika melihat banyak foto nya yang tengah bermesraan dengan pria lain(di edit oleh orang tak berahlak),Air mata kembali mengalir dari pipi Aurel


"Sebenar nya seberapa banyak musuh yang ku punya?"


Bertepatan waktu itu,Silvi dan Jingga baru saja kembali dan di suguh kan oleh pemandangan rumah yang begitu sepi,hal itu membuat ada rasa kurang dalam hati Silvi namun iya tak mau mengakui nya.


"Kakak! Apa kamu benar benar berpikir jika ini semua memang kesalahan Aurel? Apa kamu tak mencurigai orang lain sama sekali?" Jingga tersenyum misterius membuat raut wajah Silvi menjadi heran"maksud mu?"


"Apa kamu tak berpikir jika Aurel selalu tertekan karena selalu di salah kan?"


Silvi merenung"hmm..Munkin tapi itu kan salah nya  yang selalu mencari masalah"


Jingga yang mendengar itu kembali tersenyum manis lalu mengajak Silvi untuk beristirahat.

__ADS_1


__ADS_2