
Dava dan Devi tak pernah menyangka jika Reva akan merayakan ulang tahun mereka bahkan menyediakan pesta pula dan juga mengundang teman teman sekelas.
"Reva makasih atas pesta nya" ucap Devi sembari mengumbar senyum bahkan iya juga bisa lupa jika hari ini adalah hari ulang tahun nya begitu pun dengan Dava
Di saat Dava dan Devi tengah bermain di pesta kecil itu Aurel berjalan ke arah Taman tempat pertama kali iya kesini duduk di atas ayunan
"Ada apa dengan ku?, kenapa aku merasa khawatir dan tak suka saat Rey menjauh? Bukan kah ini yang ku ingin kan? Bukan kah ini akan lebih mudah untuk ku lari" batin Aurel sembari mengoyang goyang kan Ayunan nya
Malam yang dingin dan gelap namun tak bisa menyembunyikan hati Aurel yang tengah menangis pilu iya masih mengingat perkataan sang ayah yang mengatakan jika hubungan nya dan Rey apa akan baik baik saja.
Lain sisi
"Tuan apa kamu marah dengan nyonya?" Ucap Vano ketika melihar raut wajah tak senang dari Rey
"Aku tidak marah hanya saja aku ingin sendiri dulu"
Vano yang mendengar itu hanya menghela nafas nya lalu berjalan keluar dari ruangan Rey.
Setelah kepergian Vano seketika raut wajah Rey berubah drastis iya menggebrak meja dengan kasar,tak pernah iya menyangka jika semua ini ada kaiatan nya dan juga kenapa harus Dia yang di jadikan kambing hitam oleh Ayah Aurel
"Jangan bilang jika malam itu juga adalah ulah nya" batin Rey yang teringat akan malam panas yang iya lalui bersama Aurel.
Sebenar nya malam itu bukan Dia yang bernafsu besar melain kan iya di tipu oleh seseorang
Tok tok
"Masuk!"
Pintu terbuka dan saat itu pula Rey di kejut kan oleh kedatangan seorang wanita yang tak lain adalah Jingga
"Kamu kenapa ada di sini!!"
Jingga mendekat,pakaian Jingga amat seksi dengan aroma farfum yang memikat"kau tahu aku benar benar kesal karena dirimu Al meninggal kan ku dan sekarang ke salah pahaman mu dengan nya lenyap begitu saja cih tak menyenang kan sama sekali, dan di mana istri mu itu? Apa dia tak menjaga mu tak takut di ambil orang."
__ADS_1
Jingga memamerkan paha nya yang mulus dan menggoda tapi hal itu malah membuat Rey jijik lalu segera mendorong tubuh Jingga"wanita murahan!"
"Heh, aku tidak perduli lagi kamu mau menyebut ku apa aku sudah menerima nya tujuan ku kali ini adalah memberikan mu arti kenyamanan yang sesungguh nya Rey aku akan membuat mu menyesal se umur hidup aku akan menghancur kan mu" ucap Jingga dengan sorot mata tajam
Jingga mengeluar kan sebuah obat perangsang lalu memaksa Rey untuk menelan nya,Rey yang lengah pu menelan obat itu,Jingga tersenyum membuka perlahan kancing baju Rey namun Rey berusaha memberontak
BRAK!!
Pintu di dobrak segera Vano mengaman kan Jingga yang ingin berbuat nekad apa otak wanita ini sudah tak ada?
"Lepas kan aku!" Ucap Jingga lalu menghempas kuat tangan Vano
"Tuan" Vano segera memapah tubuh Rey yang kepanasan ke luar iya akan mengantar nya ke rumah di mana Aurel berada
Dan hal itu hanya mampu membuat Jingga kesal.
Se sampai nya di sana Vano segera menurun kan Rey yang sangat kepanasan dengan cepat iya masuk ke dalam menerobos pintu masuk hingga ke kamar yang di tempati Aurel dan ke betulan Aurel ada di sana
Namun tak ada jawaban membuat Aurel hanya mampu geleng geleng kepala,
Sebuah tangan kekar memegang tangan Aurel spontan Aurel menarik tangan nya namun tak bisa karena di cekal oleh Rey
"Eh?- ada apa dengan mu jangan mendekat!" Ucap Aurel semabri menunjuk nunjuk ke arah Rey yang sudah memerah kepanasan
Umaahhh
Sebuah ciuman menempel di bibir Aurel iya membulat kan matanya ingin pergi namun tangan satu nya malah di cekal oleh Rey
"Kamu tak bisa lari uhhh.Kamu temani aku jangan biar kan aku kesepian!"
Aurel yang merasakan jika Rey semakin liar memberontak namun sia sia Rey malah semakin bernafsu seketika itu juga Aurel kembali teringat akan kejadian yang menimpa nya dulu
Malam itu Aurel dengan terpaksa harus melakukan hubungan intim dengan Rey tapi raut wajah Aurel selalu kesakitan.
__ADS_1
Pagi hari tiba Rey membuka mata nya lalu mendapati kamar yang tak asing di mata nya,iya mengalih kan pandangan nya ke samping"emm..Apa semalam aku melakukan nya dengan mu?" Batin Rey lalu memegang dagu Aurel
Sebuah senyum misterius tersinggung di wajah nya,lalu pergi dari sana.
Aurel membuka mata nya lalu mendapati ke adaan diri nya yang telanjang bulat,iya kesal lalu melihat ke samping nya namun tak ada siapa pun di sana
Aurel berjalan ke arah kamar mandi menggunakan selimut lalu mandi,selepas mandi Aurel turun iya berpikir Rey ada di sana namun tak ada siapa pun di sana"apa dia pergi?" Batin Aurel entah mengapa hati nya tak rela namun iya segera menepis pikiran nya itu.
Aurel naik ke atas lalu berjalan ke arah kamar Dava dan Devi membangun kan ke dua nya,ke duanya segera terbangun lalu melakukan aktifitas nya seperti biasa.
Saat di meja makan Devi mulai bertanya"ma? Dimana papa? Apa papa tak ingin mengucap kan selamat?, kemarin papa tak sempat mengatakan nya" ucap Devi dengan raut wajah sedih
Aurel menatap sendu ke arah Devi iya juga tak tau kemana pergi nya Rey"mama tidak tau tapi percayalah ayah mu pasti akan datang dan memberikan kalian hadiah yang paling bagus" ucap Aurel mencoba menyakin kan
Dava dan Devi yang mendengar itu mengangguk lalu kembali makan.
Selepas makan Aurel pun segera mengantar Dava dan Devi ke sekolah lalu pergi ke kantor
Aurel datang dan mendapati banyak karyawan yang menatap nya rendah dan hina namun Aurel lagi lagi tak perduli
Aurel melangkah kan kaki nya ke arah ruangan nya namun langkah nya di hentikan oleh Vania
"Mau kemana?"
"Mau kerja mba, mba sendiri kenapa di sini?" Ucap Aurel dengan nada penasaran
"Kamu tidak perlu bekerja lagi kau di pecat!!" Ucap Vania yang membuat Aurel heran
"Tapi mba-"
"Pergi!!"
Aurel yang mendengar itu menghela nafas lalu berjalan ke luar dari perusahaan itu sebenar nya apa yang telah iya lakukan hingga membuat nya di pecat.
__ADS_1