
Aurel menjatuh kan rahang nya tak percaya akan apa yang baru saja iya dengar
"Apa? Cemburu!."
Rey semakin mendekat lalu menindih tubuh Aurel.
"Apa yang kau lakukan cepat turun dari tubuh ku" Aurel mencoba memberontak tapi percuma saja iya tak se kuat Rey
"Sekali lagi kau membuat ku cemburu aku tak akan mengampuni mu,maka dari itu menurut lah dan jangan lirik pria lain" ucap Rey dengan sorot mata tajam yang membuat Aurel hanya mampu meledan ludah nya kasar.
Ada apa dengan orang ini? Kenapa iya tiba tiba menjadi seperti ini? Apa semua pria di luar sana juga akan sama ketika tengah cemburu? Tidak munkin.
Rey segera turun dari tubuh Aurel,melangkah pergi meninggal kan kamar
"Dasar pria sialan!, berani mengunci ku di sini apa kamu gila cepat keluar kan aku, kenapa kau datang jika kau tak ingin mengeluar kan ku hah?" Teriak Aurel dari dalam tapi hanya di anggap angin lalu oleh Rey.
Kabar tentang foto yang mendadak viral itu sudah menyebar ke seluruh kota Z,Rey lupa untuk membersih kan tentang Foto itu agar tak di anggap aneh oleh orang lain.
Hingga kabar itu sampai ke telinga Dava dan Devi,semua orang tahu jika Aurel adalah Ibu dari Dava dan Devi itu pun sudah lumayan lama
"Hei bukan kah itu anak dari wanita yang foto nya sedang viral itu?" Tanya salah satu siswa
"Iya hahah ternyata hanya anak seorang pelacur aku ingin melihat apa mereka masih punya muka untuk datang ke sekolah? Tapi ternyata mereka lebih berani dari yang di pikiran ku"
Semua orang menertawakan dan mengejek Dava Dan Devi tentu saja hal itu tidak di terima oleh Dava hingga iya memukul habis habisan orang yang mengejek ibu nya.
"Kalian semua biadab jangan pernah hina ibu ku!,Ibu ku itu orang baik-baik" teriak Dava namun malah mendapat tertawaan dari teman-teman nya.
Akibat Dava yang memukul salah satu siswa iya pun di panggil ke runag kepsek lalu di beri hukuman untuk membersih kan toilet satu minggu bahkan guru yang dulu nya membangga banggakan mereka kini tak ada lagi hanya karna foto editan sialan itu.
Di kamar mandi.
"Kak? Apa perlu aku bantu?" Tanya Devi yang tak tega melihat kakak nya bekerja sendiri
"Tak perlu aku bisa sendiri" ucap nya dengan tegas
"Yoo.. Kenapa kalian di sini?" Reva datang, sesekali menguap.
Dava tak memperdulikan Reva iya masih kesal akan perubahan sikap guru-guru
__ADS_1
"Kau kenapa sih? Tak seperti biasanya? Kau seperti sedang marah coba cerita"
Dava menatap aneh kepada Reva"apa kau sudah memakan obat mu? Kita ini musuh bodoh"
"Tak papa lah sesekali mendengar curhatan musuh" ucap Reva dengan mantap,Dava duduk di kursi yang berada di dekat sana di ikuti oleh Reva sedang Devi? Iya menatap heran ke dua nya
"Jadi begini..." Dava menceritakan semua yang iya alami,Reva mangguk-mangguk
"Jadi benar toh itu ibu mu, pantas mirip tapi seperti nya itu semua hanya kebohongan"
Dava menaikan alis nya bingung begitu pula dengan Devi iya juga penasaran akan apa yang di maksud oleh Reva
"Kalian berdua jangan menatap ku seperti itu aku kasih tahu ya semalam itu ibu mu ke temu sama aku ke resto dan antar aku ke rumah tapi saat aku nyuruh orang lain buat ngikutin kakak itu pigi nya kerja bukan kemana mana jadi itu semua cuman ke bohongan saja"
Dava mengguk mangguk mendengar penjelasan Reva jadi benar Aurel tidak bersalah iya di tuduh
"Sudah dulu nanti kita lanjut bicara nya aku ingin mengerjakan pekerjaan ku" ucap Dava yang lega bahwa ibu nya tak bersalah,dengan semangat yang ber api api Dava pun menyelesai kan membersih kan toilet dengan cepat
"Wah kakak hebat bisa membersih kan toilet dengan cepat" puji Devi yang langsung membuat telinga Dava naik 5 centimeter"iya hebat tapi jangan lupa kau masih harus membersih kan toilet selama seminggu" ucap Reva
Dava menaikkan alis nya"darimana kau tahu?" Reva menghela nafas"tentu saja karena aku yang menyaran kan untuk memberimu hukuman ini" ucap Reva dengan senyum puas di wajah nya
pulang sekolah
Dava dan Devi segera ber gegas pulang ke rumah.
Se sampai nya di rumah Dava melihat ke adaan rumah yang hening tanpa penghuni
"Kemana semua orang?"
"Entah" sahut Devi lalu berjalan naik ke atas di ikuti oleh Dava
Mereka berdua masuk ke dalam kamar Rey dan Aurel dan di kaget kan oleh Rey yang tengah duduk melamun
"Papa..!" Kedua nya berteriak.
Rey menoleh lalu membuka tangan nya bersiap memeluk ke dua nya"ada apa?" Tanya Rey agak dingin
"Pap..! Cepat jelas kan kemana mama? Kenapa aku tak melihat nya beberapa hari ini?" Ucap Dava terus terang.
__ADS_1
Rey terdiam tak tau harus berkata apa "pa jawab" teriak Dava kesal akan perlakuan Rey yang tak mau menjawab pertanyaan nya
"Kalian berdua tak perlu tahu" ucap Rey dingin,ke dua nya menggertak kan gigi lalu pergi dari sana
"Papa jahat..!" Teriak ke dua nya saat sudah di luar
Rey menghela nafas.
Dert dert
Bunyi hp Rey berbunyi seseorang menelfon nya ternyata itu adalah Vano
"Ya ada apa?" Tanya Rey
"Tuan markas di serang para mafia sialan itu membunuh semua anak buah kita!"
Rey menggertak kan gigi nya lalu melempar kan hp nya
"Awas saja kau Al aku akan membuat mu menderita ,pertama kau begani mendekati Aurel dan sekarang kau berani bermain main dengan ku aku tak akan mengampuni mu" teriak Rey dalam hati.
Selepas berganti pakaian Rey keluar dari kamar ,pergi ke arah garasi dan lupa jika Dava dan Devi berada di rumah
Dava dan Devi yang tak sengaja melihat ke pergian Rey pun menjadi penasaran dan mengikuti Rey dengan Dava mengendarai mobil mini yang berada di garasi,percayalah Dava bisa membawa mobil itu asal tak ketahuan polisi
Mereka berdua mengikuti mobil Rey dari belakang hingga sampai ke hutan
"Kak ini dimana?" Tanya Devi agak takut karena jalanan semakin gelap padahal ini masih siang
"Jangan takut.Kakak akan menemani mu kok" ucap Dava menenangkan Devi,Devi mengangguk
Mobil Rey berhenti di depan semak-semak yang cukup lebat,Rey masuk ke dalam semak melihat itu timbul ke raguan dalam hati Dava dan Devi tapi segera mereka singkir kan ke dua nya juga masuk ke dalam sesuai apa yang mereka lihat.
Ke dua nya bersembunyi di balik pohon,mata mereka melotot ketika melihat banyak orang yang saling bunuh membunuh
"Apa ini kak? Kenapa banyak darah" ucap Devi dengan lutut bergetar munkin iya bisa tenang menghadapi satu orang dengan luka parah tapi ini terlalu banyak.
Dava segera menenang kan Devi agar tak ceroboh.
"**** pelan kan suara mu Devi jangan sampai ada yang mendengar atau kita akan mati di sini" bisik Dava di angguki oleh Devi.
__ADS_1