
"Mama jangan bercanda, lebih baik mama keluar dari kamar aku sekarang juga!"
Milano yang sekarang beranjak dari tidurnya, turun dari tempat tidur dan menarik tangan sang mama.
"Aku masih muda Ma, dua puluh tujuh tahun. Langkahku masih panjang. Jangan menyuruh aku untuk menikah. Lebih baik mama suruh tuh Brian," ujar Milano menyebut nama sang kakak yang tinggal dan menetap di Brazil.
"Tapi dia normal,"
"Terus, Mama pikir aku tidak normal. Tega sekali mama mengatakan hal itu, Aku juga normal Ma, mama kira aku gila,"
"Tapi kan buyung kamu lunglai,"
"Ma, tapi tadi sudah berdiri,"
"Mama tidak percaya, kecuali kamu membuktikan pada Mama dengan menikahi Mil. Mama sejak pertama melihat Mil sudah menyukainya, dan dia sangat cocok dengan kamu Mila,"
"Mama! Pergilah!"
"Baiklah jika kamu tidak mau menikah dengan Mil, mama akan menyuruh Brian menikahi dia. Karena Brian besok akan kembali," sambung mama Feli untuk memanasi sang putra, lalu melangkah kan kakinya keluar dari kamar.
Setelah kepergian mana Feli, Milano berfikir sejenak dengan apa yang baru saja di katakan oleh sang mama.
__ADS_1
Dan entah mengapa dirinya merasa tidak terima jika Brian sang kakak yang akan di jodohkan dengan Mil.
Lalu Milano mendekat ke arah tempat tidur dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar.
Mil membuka matanya saat jam dinding di kamar tersebut menunjukkan pukul delapan pagi, dan Mil langsung beranjak dari tidurnya dan turun dari tempat tidur tanpa menyadari jika di kamar tersebut ada seseorang yang berdiri tepat di depan pintu kamar yang terbuka.
Dan Mil hanya diam terpaku di tempatnya saat menyadari dirinya masih berada di dalam kamar yang semalam, lalu Mil menghembuskan nafasnya kasar dan duduk di pinggiran tempat tidur.
"Terlambat sudah ke kantor, tapi tidak masalah, aku kesiangan juga karena pak Mila dan aku juga ada di rumahnya,"
"Ini hari minggu, bukannya kantor tempat kamu bekerja weekend libur?" tanya seorang pria yang sedari tadi berdiri di depan pintu, dan sekarang berjalan mendekat ke arah Mil.
Tentu saja Mil segera menoleh ke arah sumber suara, di mana ada sosok pria dengan tubuh proposional dengan wajah bagaikan aktor tampan Hollywood yang memiliki garis wajah tegas.
Namun bukannya menjawab pertanyaan Mil, pria tersebut malah memberikan paper bag di tangan Mil.
"Mama menyuruh aku untuk memberikan pakaian ganti untukmu, dan perkenalkan aku Brian," ujar pria tersebut yang tak lain dan tak bukan adalah kakak dari Milano.
Yang sekarang langsung meraih tangan Mil dan menjabat tangannya.
"Mama sudah memberi tahu aku, kamu adalah asisten pribadi Mila. Benar seperti yang mama katakan kamu sangat cantik," rayu Brian sambil mengukir senyum ke arah Mil.
__ADS_1
Sementara itu Milano yang baru keluar dari dalam kamarnya dan masih mengenakan baju tidur, menghampiri mama Feli yang berada di ruang makan sedang menyiapkan sarapan bersama dengan salah satu asisten rumah tangganya.
"Ma, banyak sekali mama menyiapkan sarapan?" tanya Milano sambil menarik salah satu kursi untuknya duduk.
"Apa kamu lupa Mil masih berada di sini?" tanya mama Feli dan masih sibuk mempersiapkan sarapan tanpa menatap sang putra. "Bukan hanya itu, tapi Brian juga baru sampai rumah, maka dari itu mama sengaja masak yang banyak,"
"Brian?"
"Iya. Dan dia sedang membangunkan Mil di kamar tamu. Mama sengaja menyuruh dia agar Brian mengenal Mil,"
"Apa!" seru Milano yang langsung beranjak dari duduknya, dan berlari menuju ke arah kamar tamu di mana Mil berada.
Mama Feli yang melihat sang putra, langsung menggelengkan kepalanya sambil mengukir senyum.
"Bukan hanya cantik, aku yakin kamu sangat baik, dan aku bisa melihat itu dari ke dua bola mata kamu yang begitu indah," Brian coba untuk merayu.
Membuat Mil langsung memalingkan wajahnya merasa malu mendengar ucapan Brian, apa lagi baru kali ini Mil mendapat rayuan dari seorang pria.
"Aku suka wanita yang malu malu seperti kamu,"
"Pret!"
__ADS_1
Bersambung........................