SUAMI MASA DEPAN

SUAMI MASA DEPAN
Cinta Tak Selamanya Indah


__ADS_3

"Ya ampun mengganggu kesenangan saja," kesal Milano.


Namun membuat Mil dapat bernapas lega, karena untuk saat ini bibirnya masih aman.


Kemudian Mil ingin beranjak dari pangkuan Milano, namun pinggangnya langsung di tahan oleh Milano.


"Tetap diam di sini!"


"Tapi Pak, eh maaf sayang," ucap Mil saat mata Milano melotot ke arahnya, karena lagi lagi lidahnya keseleo.


"Bagus," sambung Milano dan tangannya langsung membelai rambut Mil.


"Sayang aku turun ya," pinta Mil saat pintu ruang kerja Milano masih di ketuk dari luar.


Namun Milano tidak menanggapi apa yang baru saja Mil katakan, karena sekarang dirinya langsung menyuruh seseorang yang masih mengetuk pintu ruang kerjanya.


Mil yang masih berada di pangkuan Milano menatap seseorang yang baru saja masuk ke dalam, bergantian dengan menoleh ke arah Milano.


"Jangan menatapku begitu," ujar Milano sambil mengusap wajah Mil menggunakan jari jari tangannya.


"Untuk apa–"


"Jangan banyak bertanya," ujar Milano menghentikan ucapan Mil, karena dirinya tahu apa yang akan di katakan nya. "Dia yang akan menggantikan pekerjaan kamu mulai hari ini,"


"Apa Pak Mila memecat ku?"


"Pak?"


"Iya,"


"Panggil aku sayang!"

__ADS_1


"Tapi ada orang," bisik Mil di telinga Milano.


"Memangnya kenapa? Anggap saja dia bukan orang,"


"Anjrot jika bukan bosku, sudah aku tendang ke Alaska sana," batin Dino yang berdiri tepat di depan meja kerja Milano. "Bisa bisanya kalian main pangku pangkuan seperti itu di hadapan aku, inget dek cinta tak selamanya indah," batinnya lagi.


'Ish jangan bicara begitu, meskipun dia bukan orang, tapi dia sahabatku tahu," sambung Mil.


"Parah nih bocah satu," ucap Dino pelan setelah mendengar apa yang baru saja Mil katakan, hingga ucapannya tak terdengar di telinga Mil maupun Milano.


"Lagian kenapa kamu bisa berteman dengan dia sih sayang?"


"Entahlah," jawab Mil sambil mengangkat ke dua bahunya.


"Ehem," Dino berdeham untuk menghentikan obrolan Milano dan juga Mil yang terus saja meledaknya.


"Jangan berdehem begitu. Aku sudah memberi tahu apa pekerjaan kamu, jadi sekarang kerjakan pekerjaan barumu," perintah Milano yang sengaja memilih Dino untuk menggantikan pekerjaan Mil.


"Nanti dulu, berarti kamu memecat aku sayang?" tanya Mil yang sebelumnya tidak tahu jika Dino sang sahabat akan menggantikan pekerjaan.


"Siapa bilang. Kamu juga akan tetap bekerja, dan pekerjaan kamu akan lebih berat. Karena siang malam kapan pun aku menginginkan kamu, kamu harus datang untukku sayang,"


Milano mencubit pelan hidung Mil dengan gemas.


"Uwek, ingat cinta tak selamanya indah," sambung Dino.


Tentu saja membuat Milano dan juga Mil langsung menatap ke arahnya.


"Kenapa masih di sini? Cepat keluar dan kerjakan pekerjaan kamu!" perintah Milano.


"Eh sayang nanti dulu. Jangan menyuruhnya untuk keluar,"

__ADS_1


"Memangnya kenapa?"


"Aku yakin dia belum paham dengan pekerjaannya, jadi aku ingin memberi tahunya terlebih dahulu," ujar Mil yang sebenarnya ingin terlepas dari Milano.


Dan saat Milano lengah Mil segera beranjak dari pangkuan nya. Namun belum juga melangkahkan kakinya, tiba tiba Milano menarik pinggangnya dan mendudukkan kembali di pangkuannya.


"Apa kamu ingin mengelabuhi aku sayang? Jangan harap kamu bisa melakukan itu," ujar Milano yang sekarang memeluk Mil dari belakang, saat Mil duduk di pangkuannya dengan tubuh membelakangi Milano. "Dan kamu, cepat keluar dari sini, dan jangan mengganggu kesenanganku. Apa kamu ingin jadi obat nyamuk?"


"Kalau bisa sih jadi nyamuknya Pak,"


"Dino!"


"Eh maaf Pak. Aku permisi dulu, selamat bersenang senang," ujar Dino yang langsung meninggalkan ruangan tersebut.


Mil menghembuskan nafasnya kasar, karena kali ini pasti dirinya tidak bisa lolos lagi.


"Mana bibirmu sayang. Kamu sudah siap kan?"


"Tentu, tapi aku minum dulu ya. Aku haus sekali dari tadi belum minum,"


"Boleh dua menit," Milano pun melonggarkan pelukannya.


"Terima kasih sayang," ujar Mil yang langsung berdiri dari pangkuan Milano dan berjalan menuju lemari pendingin yang ada di ruangan tersebut.


Namun sekarang Mil berbelok arah dan langsung berlari menuju pintu ruang kerja Milano.


"Kaburrrrrrrrrrrrrrr,"


"Sayang. Awas kau nanti!" teriak Milano saat baru sadar Mil baru saja mengelabuhi nya.


Bersambung........................

__ADS_1


__ADS_2