
Dua minggu kemudian.
Mil sedang berdiri di depan kaca rias, lalu tatapan matanya terus mengamati dirinya sendiri dari ujung kepala hingga ujung kali dari pantulan cermin yang ada di hadapannya.
Dan senyum terus menghiasi ke dua sudut bibirnya, yang tak hentinya bersyukur di dalam hati. Karena impiannya bisa menikah dengan Milano akhirnya terwujud, meskipun dirinya harus mengubah total penampilannya.
Karena hari ini adalah, hari di mana dirinya akan menikah dengan Milano untuk mengikat janji suci sehidup semati selamanya.
Mil yang masih menatap tubuhnya sendiri dari pantulan cermin, di mana gaun pengantin putih tulang tanpa lengan yang menjuntai panjang ke belakang sudah melekat di tubuhnya, dan riasan wajah yang menyatu dengan kulitnya, membuat Mil terlihat begitu sempurna tanpa celah.
Mil berhenti menatap dirinya sendiri dari pantulan cermin saat paman Anton memegang pundaknya.
"Selamat," hanya itu ucapan yang keluar dari bibir paman Anton, dan tanpa di sadari air mata jatuh membasahi pipinya.
Karena paman Anton susah berhasil membuat Mil mendapatkan apa yang di inginkan nya.
Dan itu membuat paman Anton begitu bahagia. Melihat putri dari wanita yang di cintanya juga bahagia.
Mengingat lagi, selama ini paman Anton begitu baik pada Mil, bukan hanya karena Mil adalah anak dari kakak iparnya, namun Mil juga adalah putri dari wanita yang sangat di cintai nya.
Karena sebelum ibu Mil menikah, paman Anton lah kekasihnya, hingga paman Anton melepas ibu Mil saat dia di jodohkan dengan ayah Mil.
Hingga akhirnya paman Anton yang ingin selalu dekat dengan ibu Mil, memutuskan untuk di jodohkan dengan bibi Maria, agar dirinya bisa terus melihat ibu Mil. Mengingat lagi bibi Maria adalah adik kandung dari ayah Mil.
__ADS_1
"Ish paman, untuk apa menangis," ucap Mil saat mengetahui paman Anton meneteskan air mata.
Paman Anton pun segera mengusap air mata yang ada di pipinya, lalu tersenyum ke arah Mil.
"Apa paman boleh memeluk kamu?" tanya paman Anton.
Tentu saja membuat Mil langsung memeluk sang paman.
"Kata Paman. Aku sudah di anggap anak sendiri, untuk apa paman meminta ijin untuk memeluk ku," sambung Mil saat memeluk sang paman.
"Terima kasih,"
Paman Anton mencium pucuk kepala Mil sebelum melepas pelukannya, lalu memegang ke dua bahunya.
"Terima kasih Paman," sambung Mil.
Dan Mil sekarang melepas ke dua tangan paman Anton yang masih memegangi bahunya, lalu beralih menggenggam ke dua telapak tangannya.
"Terima kasih sekali lagi, karena paman sudah menemani aku hingga detik ini, mendengar semua keluh kesah ku selama ini, dan menjadi penghibur di kala sedihku, bukan hanya itu, paman juga sudah membuat aku akhirnya akan menikah dengan pria yang sangat aku cintai,"
Bukannya menanggapi apa yang baru saja Mil katakan, paman Anton kini memeluk Mil kembali.
"Siapa suruh memeluk Mil, kamu saja belum memelukku hari ini," ujar mama Feli yang baru masuk ke dalam kamar hotel di mana Mil berada.
__ADS_1
Karena memang acara pernikahan Mil dan Milano di adalah di ballroom hotel bintang lima yang ada di pusat kota.
Paman Anton pun segera melepas pelukannya dan menoleh ke arah mama Feli yang sekarang sudah mendekatinya.
"Maaf," ucap paman Anton yang ingin memeluk mama Feli, namun di singkirkan oleh mama Feli yang kini mendekati Mil.
"Sayang apa kamu susah siap?" tanya mama Feli pada Mil, karena beberapa saat lagi Mil dan juga Milano akan mengucap janji suci sehidup semati.
"Siap Ma,"
"Bagus. Sekarang mama akan kembali ke kamar Mila, untuk memberi tahu jika kamu sudah siap,"
Mama Feli yang sedari tadi mondar mandir ke kamar Milano dan juga Mila yang hanya bersebelahan, kini keluar kembali dari kamar Mil sambil menarik tangan paman Anton.
"Ikut denganku. Ada yang ingin aku katakan padamu!"
"Aku ingin di sini bersama dengan Mil,"
"Tidak bisa!" sambung mama Feli yang menarik tangan paman Anton.
Tentu saja membuat Mil langsung tersenyum melihat paman Anton yang di tarik keluar oleh mama Feli.
"Cantik sekali," ucap seseorang yang baru saja masuk ke dalam kamar Mil selepas kepergian paman Anton dan juga mama Feli.
__ADS_1
Bersambung.................