SUAMI MASA DEPAN

SUAMI MASA DEPAN
Jual Mahal


__ADS_3

Mil yang duduk di bangku penumpang di sebelah kiri Milano yang sedang fokus mengemudi, melirik sekilas ke arah atasannya tersebut.


Percuma saja dari tadi Mil berbicara namun tidak di tanggapi oleh Milano.


"Sebenarnya hari ini pak Mila memiliki telinga atau tidak sih. Aku sudah bilang pada Pak Mila untuk memutar balikkan mobilnya, karena ponsel aku tertinggal di rumah Bapak, tapi malah diam saja. Dan ini sudah setengah perjalanan," kesal Mil.


Tentu saja Mil kesal karena ponsel nya tertinggal di rumah Milano, padahal dari kemarin dirinya belum menghubungi paman Anton yang memang tinggal bersama dengannya di sebuah apartemen sederhana tidak jauh dari perusahaan Milano


"Tenang saja ponselmu tidak akan aku jual, ponsel kentang mana laku untuk di jual,"


"Ish menyebalkan sekali, bisa bisanya aku jatuh cinta pada pria seperti ini," gerutu Mil dan memalingkan wajahnya untuk menatap ke luar jendela.


Baru juga memalingkan wajahnya, Mil kembali menatap ke arah Milano yang sekarang mengendarai mobilnya memasuki area parkir sebuah toko ponsel.


"Pak ke–"


Mil menghentikan ucapannya saat Milano yang sudah memarkirkan mobilnya turun dari mobil.


"Kamu tunggu saja di sini," perintah Milano sebelum menutup pintu mobil di mana tadi dirinya duduk.


"Pak Mi–"


Dan lagi lagi Mil yang ingin bertanya pada Milano tidak jadi meneruskan ucapannya, karena Milano sudah menutup pintu mobil tersebut.

__ADS_1


"Kenapa dia jadi menyebalkan seperti ini ya setelah aku dekat dengannya, ish ish tak patut, awas saja jika aku sudah dapat memilikimu akan aku buat kau bertekuk lutut padaku pak Mila,"


Mil yang merasakan lapar pun, langsung memegangi perutnya, namun setelahnya langsung tersenyum saat melihat ada penjual nasi uduk tidak jauh dari tempatnya berada.


"Ya Tuhan, aku sudah lama tidak makanan nasi uduk yang gurih di padu dengan berbagai lauk dan siraman sambal kacang," ucap Mil dan tatapan matanya terus tertuju ke arah penjual nasi uduk tersebut.


Dan Mil yang sudah terbayang nikmatnya makanan tersebut ingin membuka pintu mobil di mana dirinya duduk, namun belum juga membukanya, Milano sudah kembali lagi masuk ke dalam mobil.


"Ini untuk kamu,"


Milano yang sudah duduk di kursi pengemudi menaruh paper bag kecil di pangkuan Mil.


"Ini apa Pak?" tanya Mil namum tidak di jawab oleh Milano yang sekarang sudah melajukan mobil miliknya.


"Jika di tanya jawab kek" batin Mil lalu mengambil paper bag kecil yang ada di pangkuannya.


Alangkah terkejutnya Mil, ketika mendapati isi di dalam paper bag tersebut adalah ponsel keluaran terbaru dari merek ternama, yang memiliki harga selangit.


"Pak ini–"


"Itu untuk kamu, pengganti ponsel kentang mu yang tertinggal di rumahku, dan di situ juga sudah ada nomor baru, kamu pakai itu saja," ucap Milano memotong perkataan Mil tanpa menatapnya.


"Terima kasih Pak. Tapi kenapa pak Mila memberikan ponsel ini untukku? Apa karena pekerjaan aku bagus? Tapi ini ponsel mahal loh Pak, apa Pak Mila tidak salah memberikan ponsel ini untuk aku?" tanya Mil bertubi tubi mengingat lagi harga ponsel tersebut harga nya berkali kaki lipat dari gaji yang di terimanya di kantor.

__ADS_1


Namun bukannya menjawab pertanyaan Mil, Milano malah menghentikan laju mobilnya tepat di depan sebuah restoran yang menyajikan makanan khusus vegetarian.


"Turunlah, sebelum kembali ke rumah kamu makan dulu," perintah Milano pada Mil, lalu turun dari mobil.


Bukan tanpa alasan Milano menghentikan mobilnya di restoran tersebut.


Karena dirinya sering melihat Mil memakan makanan vegetarian.


"Ya ampun apa Pak Mila sudah mulai menyukaiku? Kenapa dia sangat baik padaku? Jika iya aku akan terus jual mahal ah," ucap Mil yang langsung turun dasi mobil.


*


*


*


Sementara itu bibi Maria dan juga Angel yang masih berada di dalam mobil yang terparkir di sebuah tempat parkir apartemen, terus mengamati setiap penghuni apartemen yang keluar dari gedung.


"Mama lebih baik kita pulang, mungkin yang mama lihat itu bukan papa,"


"Diamlah! Mama yakin papa kamu tinggal di apartemen ini. Dan mama yakin pasti dia tinggal dengan si burik itu," ujar bibi Maria yang belakangan ini sempat mengikuti sang suami yang jarang tidur di rumah.


Dan di apartemen sekarang dirinya berada, beberapa kali melihat sang suami masuk ke gedung apartemen tersebut.

__ADS_1


Bibir Maria yang sedang mengamati setiap penghuni yang keluar dari gedung apartemen, langsung menautkan keningnya saat melihat sesuatu.


Bersambung..............


__ADS_2