
Udara dingin menusuk hingga tulang tulang Mil, yang tertidur di atas lantai tanpa alas apa pun dari semalam.
Meskipun sinar matahari sudah menerpa tubuhnya, namun rasa dingin itu tidak kunjung melebur.
Hingga Mil tidak lagi bisa menggerakkan tubuhnya, saat baru saja dirinya membuka matanya setelah entah baru berapa menit dirinya tertidur. Setelah semalaman menangisi takdir hidupku.
Mil coba untuk beranjak dari tidurnya dengan susah payah, saat tubuhnya mulai bisa di gerakkan.
Dan saat Mil sudah bisa beranjak dari tidurnya, dan ingin keluar dari ruangan tempatnya berada, Mil mendengar suara beberapa orang yang masuk ke dalam rumah tersebut.
Mil yang penasaran dengan suara tersebut segera keluar dari tempatnya sekarang berada.
Namun saat Mil sudah tahu siapa pemilik suara tersebut, dia langsung menghentikan langkahnya, dan ingin kembali masuk ke dalam ruangan tempatnya semalam dirinya berada.
Namun langkahnya terhenti saat dua anak punk yang baru masuk ke dalam rumah tersebut menghalangi langkah Mil.
"Siapa kamu?" tanya salah satu anak punk yang menghalangi langkah Mil.
"Berani sekali kamu tinggal di kawasan kami," sambung salah satu anak punk yang lainnya.
Karena rumah Mil tersebut yang sudah tidak di huni beberapa tahun, menjadi markas anak anak punk.
Mil tidak mengatakan sepatah katapun, karena merasa takut dengan ke dua anak punk yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Kenapa tidak menjawab pertanyaan kita. Apa kamu tuli?" tanya salah satu anak Punk lagi, karena Mil hanya diam.
"Biarkan saja dia tidak menjawab. Sepertinya kita ada mainan baru," sambung anak punk yang lainnya sambil mengukir senyum simpul.
Tentu saja mendengar ucapan salah satu anak punk yang ada di hadapannya, membuat Mil begitu takut.
Dan Mil memundurkan langkahnya, dan ingin melarikan diri. Namun baru saja ingin membalik tubuhnya, salah satu tangan Mil di cekal oleh salah satu anak punk tersebut.
"Mau ke mana kamu?"
"Lepaskan aku!"
"Tidak akan,"
"Lepas!"
Sementara itu Milano memasuki rumah dengan langkah gontai di ikuti oleh paman Anton dari belakang.
Pasalnya semalaman hingga siang bolong seperti sekarang, dirinya tidak menemukan keberadaan Mil.
Setelah Milano dan juga paman Anton mencari ke penjuru tempat di mana biasanya Mil menghabiskan waktu.
Bukan hanya ke tempat tempat yang sering Mil datangi, namun paman Anton dan juga Milano sempat mendatangi rumah bibi Maria, Dino dan Dina sahabatnya, namun hasilnya nihil.
__ADS_1
Dan paman Anton yang juga cemas dengan keberadaan Mil, sempat mengunjungi makam ke dua orang tua Mil, untuk memastikan Mil berada di sana atau tidak. Dan hasilnya Mil tidak berada di tempat pemakan umum di mana ke dua orang tuanya di makamkan.
Mama Feli yang tahu jika sang putra sudah pulang langsung menghampiri Milano dengan penuh kecemasan.
Karena mama Feli sudah tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan mama Feli juga tahu Mil sudah berbohong dengan menyembunyikan identitas yang sebenarnya, saat tadi paman Anton memberi tahu semuanya lewat sambungan ponsel.
Mama Feli yang sudah mendekati Milano menoleh sekilas ke arah paman Anton yang duduk di samping Milano, saat ke duanya sudah duduk di sofa ruang tamu.
"Bagaimana. Apa kalian sudah menemukan keberadaan Mil?"
Mendengar pertanyaan mama Feli Milano maupun paman Anton serentak menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan. Kenapa semua ini bisa terjadi," ujar mama Feli yang sekarang menoleh ke arah paman Anton kembali. "Apa kamu tidak tahu tempat yang sering Mil kunjungi Ton. Misalnya rumah dia, tidak mungkin dia tidak punya rumah,"
"Rumah. Sepertinya tidak mungkin, karena rumah Mil sudah lama di sita pihak bank,"
"Bisa jadi dia pergi ke sana untuk mengenang mendiang ke dua orang tuanya, meskipun rumah itu sudah di sita bank,"
Mendengar apa yang baru saja mama Feli katakan, Milano yang sedari tadi duduk di atas sofa, kini beranjak dari duduknya, dan menoleh ke arah paman Anton.
"Om, antar aku ke rumah lama Mil,"
Bersambung.........................
__ADS_1