
Milano yang tadi enggan untuk menatap ke arah Mil. Akhirnya kini menatapnya, setelah mendengar apa yang baru saja Mil katakan.
"Ck cemburu? Padamu? Untuk apa?" tanya Milano bertubi tubi.
"Jika Pak Mila tidak cemburu untuk apa menyindir aku dengan om om?" tanya Mil balik.
"Karena apa yang kamu lakukan itu tidak benar. Kamu paham!"
"Tidak benar apanya Pak, aku melakukan apa?"
"Mengambil suami orang. Apa kamu tidak laku sehingga mengambil hak orang lain?"
"Bisa di katakan begitu Pak, jika ada yang menyayangi aku. Kenapa aku menolaknya aku ini perempuan butuh kasih sayang," ujar Mil untuk memancing atasannya tersebut.
"Aku bisa menyayangimu," Milano yang baru sadar dengan apa yang di katakan nya langsung memalingkan wajahnya.
Mendengar apa yang di katakanlah oleh Milano, Mil mengukir senyum merasa bahagia dengan apa yang di dengarnya, karena Mil yakin Milano sudah mulai tertarik pada dirinya dengan perhatian yang akhir akhir ini di tunjukan nya.
"Kenapa kamu senyum senyum sendiri?" tanya Milano yang kini menatap ke arah Mil kembali.
"Karena aku merasakan bahagia dengan apa yang baru saja Pak Mila katakan. Jika Pak Mila akan menyayangiku. Dan aku berjanji pada Pak Mila untuk meninggalkan om om itu,"
"Jangan berpikir yang tidak tidak. Aku menyayangimu hanya sebatas atasan pada bawahan. Jadi jangan percaya diri dulu,"
__ADS_1
"Yah aku pikir Pak Mila benar benar menyayangiku. Kalau begitu aku akan tetap bersama om om ah,"
"Jangan– eh maksudnya terserah," sambung Milano dan langsung sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya.
"Baiklah. Eh tapi nanti dulu deh Pak. Sepertinya aku sekarang akan meninggalkan om om itu, dan memilih kakak Pak Mila yang bernama siapa itu aku lupa namanya? Oh iya Brian,"
"Tidak bisa!" seru Milano. "Lebih baik kamu kembali bekerja!"
"Terus aku di suruh ke ruang kerja Pak Mila untuk apa?"
"Jangan banyak bertanya. Sekarang kembali kerjakan pekerjaanmu!"
"Siap Pak. Tapi sebelum itu aku ingin meminta nomor ponsel Brian terlebih dahulu. So kemarin dia mengajak aku untuk berkencan,"
"Mil!"
Selepas kepergian Mil dari ruang kerjanya, Milano terus menatap ke arah Mil yang sedang sibuk di kursi kerjanya, karena ruang kerjanya dan ruang kerja Mil hanya berdinding kaca.
Lalu Milano menutup tirai otomatis untuk menutup dinding kaca tersebut, saat dirinya ketahuan Mil, sedang menatapnya, saat Mil menoleh ke meja kerjanya.
Setelah tirai dinding kaca tersebut tertutup sempurna. Milano melepas kancing atas kemeja yang di kenakan nya, karena dirinya merasa panas, padahal suhu pendingin ruangan yang ada di ruangannya sudah batas minuman.
Lalu Milano membuka laci dan mengambil selembaran poster di mana ada wajah Mil dan pria paruh baya. Yang sempat dirinya ambil tadi.
__ADS_1
"Sepertinya ini hanya editan," ujar Milano setelah mengamati dengan teliti selembaran poster tersebut. "Jika Mil memang wanita gampangan, kenapa dia menolak aku kemarin, dan malah menendang buyung milikku yang mulai on. Ah untuk apa aku harus mengurusi ini," ujar Milano lalu meremas lembaran poster tersebut dan melemparnya ke tempat sampah yang tidak jauh dari tempatnya berada.
Sebelum jam makan siang Milano keluar terlebih dahulu meninggalkan kantor.
Saat mama Feli menyuruh Milano untuk makan siang bersama dengannya di sebuah restoran yang tidak jauh dari perusahaannya.
Awalnya Milano menolak, namun saat sang mama mengatakan jika ada hal yang penting yang ingin di bicarakan, akhirnya Milano mengiyakan ajakan sang mama.
Milano yang sudah sampai restoran tersebut segera menuju meja yang sudah di beri tahu mama Feli di mana dirinya berada.
Namun saat Milano sudah mendekati meja tersebut, Milano langsung menghentikan langkahnya saat melihat pria paruh baya yang masih begitu bugar di usianya sedang berbincang bincang dengan sang mama dan juga Brian. Dan Milano tahu siapa pria paruh baya tersebut.
Mama Feli yang menyadari kehadiran Milano langsung beranjak dari duduknya.
"Akhirnya yang kita tunggu tunggu datang juga," ujar mama Feli dan menghampiri sang putra.
"Ma. Siapa dia?" tanya Milano dan menunjukkan jari telunjuknya ke arah pria paruh baya yang duduk di samping Brian.
"Dia om Anton calon papa baru kamu,"
"Apa!" Milano benar benar terkejut dengan apa yang baru saja di katakan oleh sang mama.
Dan tanpa pikir panjang Milano menghampiri pria paruh baya yang baru saja mama Feli kenalkan padanya, lalu menampar nya dengan kencang saat sudah mendekatinya.
__ADS_1
"Mila!"
Bersambung....................