
"Salah paham menurut paman? Setelah semua bukti jelas adanya, jika dia adalah orang yang sudah membuat ke dua orang tuaku pergi untuk selamanya meninggalkan aku sendiri,"
"Sendiri kamu bilang Mil? Apa kamu tidak menganggap paman ada selama ini?" tanya paman Anton.
Tentu saja membuat Mil yang tadi menatap sang paman, kini memalingkan wajahnya. Setelah mendengar ucapan paman Anton, mengingat lagi paman Anton selalu ada untuk untuknya selepas kepergian ke dua orang tuanya.
"Aku hanya ingin sendiri untuk sekarang ini. Silakan paman tinggalkan aku sendiri. Karena aku tahu tujuan paman ke sini untuk apa, namun sampai kapan pun aku tidak akan pernah memaafkan dia,"
"Meskipun kamu nanti tahu apa yang sebenarnya terjadi?"
Mendengar pertanyaan paman Anton, Mil kini menoleh kembali ke arah paman Anton yang berdiri di samping kanan ranjang perawatan di mana dirinya berada.
"Iya. Karena aku yakin paman akan mencari bukti lain yang seolah olah dia tidak bersalah dalam kecelakaan itu,"
"Karena memang Mila tidak bersalah," sambung paman Anton.
"Aku tahu, paman mengatakan ini karena paman akan menjadi ayahnya,"
"Terserah apa yang ingin kamu katakan Mil. Tapi dengarkan apa yang ingin Paman katakan. Terserah padamu nanti mau percaya atau tidak dengan penjelasan apa yang akan paman katakan padamu,"
Pinta Paman Anton sambil meraih telapak tangan Mil lalu menggenggamnya dengan erat.
__ADS_1
"Paman mohon, ijinkan paman mengatakan sesuatu padamu Mil,"
"Katakanlah," perintah Mil tanpa menatap paman Anton.
sementara itu di sebelah ruangan Mil, Milano terus mengaduh kesakitan saat dirinya menjadi sasaran cakaran dan juga gigitan ibu hamil yang sedang mengalami kontraksi.
Dan saat kontraksi ibu hasil tersebut mulai merada, dirinya baru membuka matanya dan melepas ke dua tangannya yang masih memeluk Milano.
Lalu ibu hamil tersebut langsung menautkan keningnya saat melihat Milano.
"Suamiku. Kenapa kamu berubah jadi tampan?" tanya ibu hamil tersebut tak lupa mengukir senyum, tentu saja matanya terus menyusuri setiap jengkal wajah Milano yang begitu tampan, tidak peduli dengan rasa sakit kontraksi yang kembali datang.
"Maaf, aku bukan suami anda," jelas Milano.
"Jangan berbohong Mas. Mas kan sudah lama tidak pulang, pasti Mas melakukan operasi plastik bukan, agar terlihat ganteng dan juga keren seperti sekarang ini, tidak seperti dulu burik,"
"Maaf aku–"
Milano tidak jadi meneruskan ucapannya, saat pintu ruangan tersebut di buka oleh seseorang dengan kencang.
Dan wanita hamil tersebut menautkan keningnya lagi, menatap seseorang yang baru masuk ke dalam ruangannya yang tak lain dan tak bukan adalah sang suami.
__ADS_1
"Mas Jo," ucap wanita tersebut pada sang suami yang kini berjalan mendekatinya.
"Iya ini aku. Maaf aku baru tiba,"
"Jika kamu Mas Jo. Siapa dia?" tanya wanita hamil tersebut sambil menunjuk ke arah Milano.
Namun Milano dengan segera meninggalkan ruangan tersebut dengan terburu buru.
"Mas Jo. Kamu mau ke mana?!" teriak wanita hamil tersebut.
"Ya Tuhan Mi. Sadar, aku suamimu," sambung suami wanita hamil tersebut.
"Tapi aku mau suami yang ganteng seperti dia,"
"Dia juga tidak mungkin mau sama kamu, sadar diri lah," ujar sang suami di akhiri dengan teriakan saat sang istri mencengkram tangannya saat merasakan kontraksi kembali.
Milano yang sudah berada di luar ruangan, langsung menghampiri anak anak punk yang masih di tempatnya.
Lalu meluapkan kemarahannya pada anak anak punk yang masih berada di tempatnya tadi.
Dan kemarahannya mereda saat pimpinan anak punk tersebut memberi tahu di mana sebenarnya wanita yang tadi di bawanya berada.
__ADS_1
Lalu dengan segara Milano menuju ruangan yang di tunjukkan oleh pimpinan anak punk tersebut.
Bersambung....................