
Bab ini anu, yang belum menikah skip aja ya. Terima kasih.
"Dasar bodoh!"
"Oh no sayang, apa yang ka.... mu.... lakukan," ucapan terbata dari bibir Milano ketika Mil sang istri yang ada di bawahnya sedang memeluknya sambil menggigit punggungnya.
Bagaimana Mil tidak menggigit punggungnya saat junior Milano akhirnya bisa menebus pertanahan hutan belantara setelah beberapa kali coba menerobos namun tidak juga bisa menembusnya.
"Kamu menyakitiku sayang,"
"Hanya sekilas, setelahnya kamu pasti akan ketagihan, karena rasanya akan menjadi nikmat,"
"Aku tidak percaya lebih baik keluarkan junior milikmu itu,"
"Ish mana bisa, sudah susah payah masuk. Kamu ingin aku mengeluarkannya tentu tidak bisa," sambung Milano yang dengan perlahan memasukkan junior miliknya lebih dalam lagi.
"Say–" belum juga Mil meneruskan ucapannya Milano membungkam mulut sang istri dengan bibirnya.
Tidak mungkin dirinya harus mengikuti kemauan sang istri, bisa bisa Milano stroke mendadak karena hasrat di tubuhnya tidak tersalurkan.
Saat Milano sedang asik bermain dengan bibir sang istri, dengan perlahan juniornya keluar masuk mencari kenikmatan yang sudah lama di inginkan nya.
Dan yang awalnya Mil merasakan sakit, kini bisa menikmati setiap gerakan Milano yang begitu lembut.
Milano yang menyadari jika sang istri sudah menikmati apa yang sedang dirinya lakukan, kini mulai melepas tautan bibirnya, dan tersenyum ke arah Mil yang ada di bawahnya, yang juga tersenyum ke arahnya.
__ADS_1
"Enak bukan?"
Mil pun hanya menjawab dengan anggukkan.
"Jadi teruskan atau tidak?"
"Sayang jangan meledak,"
"Oh jadi tidak mau di teruskan?" tanya Milano untuk meledak sang istri, tentu saja juniornya di bawah sana terus maju mundur, membuat Milano begitu bersemangat ketika melihat wajah sang istri yang begitu menggoda.
Saat Mil menggigit bibir bawahnya sambil merek melek merasakan nikmat yang belum pernah sama sekali dirinya rasakan selama ini, dengan apa yang Milano lakukan.
Dan Mil tidak lagi menanggapi apa yang baru saja Milano katakan, karena bibirnya sekarang mengeluarkan suara dessahan saat Milano terus saja memainkan juniornya di bawah sana. Lalu Mil memeluk tubuh Milano yang berada di atasnya dengan erat.
Milano dan juga Mil sama sama sedang mengatur nafasnya, setelah ke duanya sama sama mencapai puncak kenikmatan yang begitu memabukkan.
Milano yang sudah merebahkan tubuh polosnya dengan bertumpu satu tangannya di samping Mil, kini mengelap keringat yang bercucuran di kening sang istri.
"Terima kasih sayang,"
"Untuk apa?" tanya Mil di sela sela nafasnya yang masih memburu.
"Untuk semuanya," jawab Milano yang langsung memeluk Mil dengan begitu bahagia.
Bagaimana Milano tidak bahagia, karena dirinya sekarang sudah bisa memiliki Mil seutuhnya.
__ADS_1
"Ish jawaban yang aneh,"
"Tentu saja tidak," sambung Milano yang kini melepas pelukannya, dan beranjak dari tidurnya dan kembali mengungkung sang istri. "Sayang apa kamu siap untuk ronda yang ke dua?"
Belum juga Mil menjawab apa yang baru saja Milano tanyakan.
Ponsel ke duanya yang di letakkan di meja nakas tepat di samping ranjang berdering bersamaan.
"Ya Tuhan menggangu saja," kesal Milano, lalu tersenyum ke arah Mil yang ada di bawahnya. "Sayang, ronde dua oke?" tanya Milano lagi tanpa menghiraukan suara ponsel yang masih berdering.
"Tapi ponsel kita,"
"Biarkan saja, pasti itu bibi kamu yang ingin menanyakan misi kamu berhasil atau tidak. Biar aku matikan saja ponsel nya,"
Milano pun turun dari atas tubuh sang istri, lalu mendekat ke arah meja nakas untuk mematikan ponsel miliknya dan juga ponsel sang istri.
Namun saat Milano ingin mematikan ponsel miliknya dan juga milik Mil, dirinya langsung menautkan keningnya, saat baru saja ada yang mengirim pesan ke ponsel miliknya yang terlihat jelas dari layar ponsel.
Dan Milano yang penasaran, langsung membuka pesan tersebut dan membacanya.
Setelah membaca pesan tersebut, Milano langsung menoleh ke arah sang istri yang masih berada di tempatnya.
"Ada apa sayang?"
Bersambung........................
__ADS_1