
"Angel. Lihatlah,"
Bibi Maria menarik tangan sang putri untuk menatap sesuatu yang baru saja menjadi pusat perhatiannya.
"Apaan sih Ma!" seru Angel sambil melepas tangan sang mama yang baru saja menarik tangannya.
"Itu bukannya pak Mila dan juga Mil?" tunjuk bibi Maria ke arah satu mobil yang baru terparkir tidak jauh dari tempatnya berada.
Di mana Milano dan juga Mil baru saja turun dari mobil tersebut. Namun setelahnya Milano masuk kembali ke dalam mobilnya lalu melajukan mobilnya meninggalkan apartemen tersebutlah.
"Kurang ajar asisten itu. Aku tidak bisa membiarkan dia lebih dekat lagi dengan pak Mila," ucap kesal Angel dan ingin turun dari mobil tempatnya sedari tadi berada, namun tangannya langsung di cekal oleh sang mama.
"Tenangkan emosimu, ini saatnya kita menyelidiki siapa dia. Apa kamu lupa kita juga sedang menyelidiki dia?" tanya bibi Maria mengingatkan kembali jika dirinya dan juga sang putri sedang menyelidiki Mil.
Karena bibi Maria yakin kecantikan yang Mil miliki adalah palsu.
"Tapi Ma. Aku kesal melihat dia terus dekat dengan pak Mila,"
Namun bibi Maria tidak menanggapi ucapan sang putri karena dirinya sekarang membuka pintu mobil di mana dirinya duduk.
"Ini kesempatan kita untuk membuntuti dia. Dan mengetahui siapa dia. Jadi sekarang kita selidiki dia," ajak bibi Maria.
Sementara itu, Mil yang sudah berada tepat di depan pintu unit apartemen tempatnya sekarang tinggal. Langsung menekan pin pintu pass kode untuk membuka pintu.
"Paman. Pagi menjelang siang," panggil Mil pada paman Anton saat sudah masuk ke dalam unit apartemen tersebut.
Dan Mil yakin sang paman ada di dalam, karena sudah hampir semingu sang paman yang baru kembali dari luar kota tinggal di unit apartemen tersebut.
Dan benar saja, paman Anton keluar dari dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Mil.
__ADS_1
Paman Anton menggelengkan kepalanya sambil menatap ke arah Mil, dan menurunkan ponselnya yang masih menempel di telinga.
"Maaf," ucap Mil tahu pasti sang paman sangat kuatir pada dirinya.
Paman Anton langsung mengusap kepala Mil saat sudah mendekatinya.
"Kamu membuat paman begitu kuatir Mil,"
"Sekali lagi maaf paman,"
"Dari mana saja kamu? Kenapa tidak menghubungi paman, dan kenapa paman menghubungi ponselmu tapi tidak aktif,"
"Ponselku tertinggal di rumah pak Mila, dan semalam aku menginap di rumah pak Mila. Tapi paman jangan berpikir negatif dulu," Jelas Mil.
"Kenapa harus menginap? Apa kamu lupa tempat tinggal kamu di mana? Jika menginap, kenapa kamu tidak menghubungi paman terlebih dahulu?"
"Aku akan menjelaskan semua pada paman, tapi paman jangan marah ya," ujar Mil.
Dan Mil pun langsung menceritakan apa yang terjadi saat sedang menemani sang atasan makan malam, dan kenapa dirinya menginap di rumah sang atasan tanpa memberi tahu terlebih dahulu pada sang paman.
"Lain kali cari tahu apa yang kamu minum, dan jangan asal minum. Karena saat para pemilik perusahaan berkumpul, pasti banyak minuman keras dari berbagai negara dengan bermacam macam jenis,"
"Oke paman aku janji tidak akan lagi,"
"Bagus," ucap singkat paman Anton lalu menatap papar bag yang berada di tangan Mil. "Mil itu–"
"Pak Mila memberikan ponsel ini padaku," jelas Mila memotong perkataan sang paman tahu apa yang akan di tanyakan nya.
"Dalam rangka apa dia memberi kamu ponsel mahal seperti itu?"
__ADS_1
"Entah,"
"Jangan jangan dia sudah memiliki perasaan padamu Mil,"
"Aku selalu berharap begitu paman, tapi entahlah dia tuh seperti kanebo kering,"
"Tinggal siram saja pakai air biar lemas,"
"Paman ada ada saja. Oh iya paman sudah rapi begini mau ke mana?"
"Paman hari ini kembali ke luar kota," jawab paman Anton. "Tapi sebelum itu ada yang ingin paman tunjukkan padamu Mil,"
"Apa?"
Namun belum juga paman Anton menunjukkan sesuatu yang ingin di tunjukkan pada Mil.
Bel pintu unit apartemen di mana ke duanya tinggal berbunyi.
Dan dengan segera Mil menuju ke arah pintu untuk membukanya.
Mil diam di tempat tanpa mengatakan apa pun saat sudah membuka pintu tersebut.
"Mil. Siapa yang datang?" tanya paman Anton dan menghampiri sang keponakan.
Saat paman Anton tahu siapa yang datang langsung menarik tangan Mil untuk menjauh dari bibi Maria dan juga Angel yang sudah berdiri tepat di depan pintu.
"Jadi karena pelakor kamu tidak pulang ke rumah?!" tanya bibi Maria dengan kesal.
Bersambung........................
__ADS_1