
"Kenapa tidak Pak Mila saja yang turun, enak saja menyuruh nyuruh,"
"Heh kamu asisten aku Mil,"
"Aku juga tahu pak. Tapi apa pak Mila buta? Ini masih hujan deras,"
"Terus?"
"Pikir saja pakai otak Pak Mila. Jika aku turun dan hujan hujanan, nanti aku sakit bagaimana?"
"Bilang saja tidak mau,"
"Tentu aku tidak mau," sambung Mil kesal.
"Ya sudah kita periksa mobil ini bersama,"
"Aku bilang. Aku tidak mau hujan hujanan Pak Mila ter–"
Belum juga Mil meneruskan ucapannya, kepalanya sudah di toyor oleh Milano.
"Kamu yang tidak punya otak Mil. Kan di belakang ada payung, kamu ambil tuh payung dan payungi aku untuk memeriksa mobil ini,"
"Oh iya," sambung Mil sambil nyengir kuda, lalu melepas seatbelt yang melingkar di tubuhnya, kemudian menuju jok belakang di mana ada payung di jok belakang tersebut.
Akhirnya Milano yang memeriksa mobilnya, tentu saja Mil terus memayungi tubuh atasannya tersebut di guyuran air hujan yang malah semakin deras.
"Pak. Sudah belum?" tanya Mil namun tidak mendapat jawaban dari Milano yang menghentikan kegiatannya.
"Lebih baik kita berteduh di warung itu. Kepadaku pusing," ajak Milano sambil menunjuk sebuah rumah yang menjadi satu dengan warung makan tidak jauh dari mobilnya berada.
__ADS_1
"Terus bagaimana dengan mobilnya?"
"Jika kamu bisa memperbaiki perbaiki saja," sambung Milano lalu mengambil alih payung yang berada di tangan Mil.
Tentu saja membuat Mil yang tidak ingin terkena air hujan langsung memeluk Milano dari belakang.
"Mil,"
"Lagian Pak Mila asal merebut payung. Kan dingin Pak,"
"Aku juga dingin,"
"Ya udah biar aku peluk Pak," sambung Mil keceplosan lalu melepas pelukannya.
"Kenapa di lepas?" tanya Milano.
Namun tidak mendapat tanggapan dari Mil, yang merebut payung dari tangan Milano.
Namun baru saja Mil ingin melangkah, tangannya di cekal oleh Milano yang langsung memeluk pinggangnya.
"Enak saja mau ninggalin aku," ucap Milano yang sekarang balik mengambil alih payung di tangan Mil dan mengeratkan pelukannya.
Tentu saja Mil tidak menolak dan membiarkan Milano memeluk pinggangnya. Namun dengan mimik wajah yang biasa saja, meskipun di dalam hatinya sedang bersorak gembira.
Milano terus menatap wajah Mil yang begitu dekat dengan wajahnya, tanpa menatap jalanan yang di lalui nya menuju warung makan tujuannya.
Jantungnya berdetak tidak seirama hanya dengan menatap wajah Mil yang begitu dekat.
"Kalau suka katakan saja Pak. Jangan malu malu sebelum malu maluin," ujar Mil saat menyadari jika Milano terus menatap wajahnya.
__ADS_1
"Jangan percaya diri kamu, aku hanya melihat bedak di wajahmu yang mulai luntur," bohong Milano dan tatapan nya kini menuju jalanan yang di lalui nya.
"Maaf ya Pak, itu tidak mungkin, meskipun terkena badai, bedak di wajahku ini tidak akan pernah luntur karena aku memakai make up waterproof,"
"Seperti cat tembok saja waterproof," sambung Milano dan melepas pelukannya saat sudah tiba di warung makan yang di tujuannya.
Dan ke duanya langsung duduk bersebelahan di sebuah bangku panjang yang ada di warung tersebut, lalu memesan minuman hangat.
"Ya ampun hujannya awet sekali seperti di formalin," ucap Mil lalu menyeruput minuman hangat yang baru di pesannya.
Kemudian menoleh ke arah Milano yang hanya diam terpaku di tempatnya.
"Pak ada apa? Pak Mila baik baik saja kan?" tanya Mil namun tidak mendapat tanggapan dari Milano yang sedang memegangi keningnya.
"Kepala aku pusing sekali Mil,"
"Alah cemen, terkena air hujan sedikit saja sudah pusing,"
"Jangan banyak bicara, lebih baik kamu ambil kotak p3k di dalem mobil, di sana tersimpan obat yang selalu aku minum jika aku pusing,"
"Siap pak," Mil pun langsung beranjak dari duduknya.
Duarrrr
Suara petir mengagetkan Mil, membuatnya langsung loncat dan duduk tepat di pangkuan Milano.
Tentu saja Milano yang sedang merasa pusing tidak bisa menahan tubuh Mil dan kehilangan keseimbangan, membuatnya jatuh ke atas lantai dengan tubuh Mil di atasnya, dan wajah ke duanya saling bertemu.
Sejenak ke duanya saling tatap saat jarak wajah ke duanya hanya berjarak beberapa senti.
__ADS_1
Lalu Mil memejamkan matanya saat Milano mendekatkan wajahnya ke arahnya. Karena Mil yakin Milano akan mencium bibirnya.
Bersambung...............