SUAMI MASA DEPAN

SUAMI MASA DEPAN
Aku Juga Mencintaimu


__ADS_3

Mama Feli langsung menautkan ke dua alisnya kala melihat Mil tiba tiba menangis.


Kemudian mama Feli menurunkan ke dua tangannya yang masih bertolak pinggang, lalu memegang ke dua bahu Mil.


"Kenapa kamu menangis Mil. Mama tahu kamu begitu kuatir dengan keadaan Mila, mama tahu itu. Tapi jangan lah menangis, dokter pasti bisa menangani Mila,"


Dan kali ini Mil yang menautkan keningnya, dan menghapus air mata yang masih membasahi pipi.


"Apa tante tidak sadar kenapa aku menangis?"


"Ya ampun Mil, sudah berapa kali di beri tahu jangan panggil tante. Paham tidak sih!"


"Tuh kan tante membentak aku lagi," ujar Mila yang kembali ingin menangis.


"Oh jadi kamu–" Mama Feli tidak jadi meneruskan ucapannya karena sekarang langsung memeluk tubuh Mil.


Saat mama baru menyadari apa yang membuat Mil menangis. Padahal mama Feli tidak bermaksud untuk membentak Mil.


"Ya ampun Mil. Maafkan mama, mama tidak bermaksud membentak kamu. Mama hanya tidak suka kamu memanggil mama dengan sebutan tante. Apa kamu lupa, jika kamu sudah berjanji akan memanggil mama, dengan sebutan mama?"


Tantu saja mendengar pertanyaan mama Feli, membuat Mil langsung melepas pelukannya dan menatap wajah mama Feli.


"Ya ampun aku lupa Ma," jawab Mil sambil nyengir kuda.


Dan mama Feli pun langsung menggelengkan kepalanya, dan mengacak acak rambut Mil.

__ADS_1


"Dasar calon menantu mama, sepertinya harus segera di coblos agar tidak pikun lagi,"


"Ya ampun Ma. Mama bilang kemarin pemilihan presiden masih lama. Tapi sekarang sudah bilang coblos lagi. Sekarang kita harus mencoblos apa, pemilihan lurah?"


"Bukan. Tapi kamu yang di coblos,"


"Kok aku Ma. Aku sedang tidak mengajukan diri sebagai calon anggota legislatif loh Ma,"


"Ya ampun," ujar mama Feli sambil menepuk jidatnya sendiri.


"Ada apa Ma. Nyamuk?"


"Iya. Tadi lewat," jawab mama Feli yang sekarang beralih menggelengkan kepalanya.


"Kenapa dengan kepala mama? Kenapa geleng geleng. Pusing? Kalau pusing minum obat Ma. Kebetulan sekarang kita sedang berada di rumah sakit,"


"Dok bagaimana keadaan putraku?" tanya mama Feli saat sudah mendekati Milano.


"Syukurlah Pak Mila segera di bawa ke rumah sakit. Jadi kami langsung bisa menanganinya. Namun untuk saat ini Pak Mila harus menjalani rawat inap," jelas dokter tersebut yang masih berdiri di belakang kursi roda yang di duduki Milano.


"Baiklah Dok, sebelumnya terima kasih,"


"Sama sama Bu,"


Mama Feli yang sudah berada di ruang perawatan Milano, melirik ke arah Aris yang juga berada di ruangan tersebut. Lalu mama Feli mengisyaratkan Aris agar keluar dari ruangan tersebut untuk meninggalkan Milano dan juga Mil berdua.

__ADS_1


"Mil sayang. Mama keluar dulu, perut mama sakit karena tadi belum sempat makan siang. Kamu jaga Mila baik baik. Oke,"


"Oke Ma. Aku akan menjaga Pak Mila dengan baik,"


"Terima kasih," ujar mama Feli yang langsung meninggalkan ruangan tersebut di ikuti Aris dari belakang.


Setelah kepergian mama Feli, Mil mendekat ke sebelah sisi ranjang perawat Milano. Di mana Milano sedang berbaring di atasnya, dengan ranjang yang sudah di setel setengah duduk.


"Pak Mila menginginkan apa, aku akan mengambilkannya,"


"Yang aku inginkan hanya kamu," sambung Milano namun dengan nada yang begitu kecil hingga tidak terdengar di telinga Mil.


"Ya ampun Pak Mila. Bapak ini bukan sedang sakit gigi. Pak Mila itu sedang alergi, jadi kalau bicara itu yang kencang,"


"Aku ingin minum," ucap Milano dengan kencang.


"Tapi tidak begitu jika kali, biasa saja. Aku kan belum tuli Pak," sambung Mil lalu mengambil minum yang ada di meja tepat di samping kanan ranjang perawatan Milano.


Lalu Mil menyodorkan nya ke arah Milano, yang langsung di raihnya.


"Lagian sudah tahu alergi dengan kacang, sok mau makan gado gado, pedas pula," ucap Mil menyindir.


"Karena aku ingin membuktikan padamu, aku juga bisa seperti pria itu, karena aku juga mencintaimu Mil,"


"Pret,"

__ADS_1


Bersambung.........................


__ADS_2