
Mama Feli berteriak dan menarik tangan Milano ketika baru saja sang putra menampar calon suaminya.
Begitu pun dengan Brian yang langsung beranjak dari duduknya, dan menghalangi sang adik yang akan mendekati pria paruh baya yang sedang memegangi pipinya, yang baru saja mendapat tamparan dari Milano.
"Mila! Apa yang kamu lakukan. Tidak sopan sekali!" seru Brian yang masih menahan tubuh sang adik.
"Itu yang pantas dia dapatkan," sambung Milano, lalu menoleh ke arah sang mama yang masih menarik tangannya. "Mama juga jadi wanita bodoh sekali,"
"Mila. Jaga ucapan mu pada mama!"
"Memang itu nyatanya. Apa tidak ada pria lain selain tua bangka itu, untuk di jadikan suami mama? Mama tidak tahu siapa dia Ma. Dia itu bukan pria baik!"
Mila menunjukkan jari telunjuk nya ke arah pria paruh baya yang tadi di kenalkan oleh sang mama yang akan menjadi papa barunya.
"Mila. Kondisikan jarimu! Dan jangan menuduh tanpa bukti," ucap kesal mama Feli pada sang putra.
"Apa aku harus membuktikan pada mama jika dia masih memiliki istri?" tanya Milano mengingat selembaran poster di mana ada foto Mil dan juga pria paruh baya tersebut, dengan tulisan yang menyudutkan Mil sebagai pelakor. Dan otomatis Milano menyimpulkan pria paruh baya tersebut masih memiliki istri.
"Siapa bilang masih memiliki istri, kamu jangan mengada ada. Dia sudah menceraikan istrinya. Dan sebentar lagi Surat cerainya akan keluar dari pengadilan," jelas mama Feli pada sang putra yang terlihat begitu emosi.
__ADS_1
"Oh begitu. Apa mama tahu dia memiliki hubungan dengan Mil asisten aku?"
Namun mama Feli tidak menanggapi pertanyaan sang putra. Yang kini menatap ke arah lain sambil mengukir senyum pada entah siapa.
Membuat Milano yang penasaran langsung mengikuti arah tatapan sang mama.
Dan Milano langsung menautkan ke dua alisnya saat sang mama kini menghampiri Mil sang asisten yang baru datang.
"Mil?"
"Dia calon kakak ipar kamu," ledek Brian yang masih berada di samping Milano.
"Jangan pernah berharap hal yang belum pasti akan terjadi. Jadi tutup mulut mu!" seru Milano dengan tatapan yang tidak lepas dari Mil dan juga sang mama yang sudah duduk di kursi sambil tertawa bersama.
"Mil adalah keponakan aku. Dan aku yang menyuruh dia untuk datang kemari. Dan hubungan aku dan juga Mil adalah paman dan juga keponakan, jadi tuduhan lain yang ada di benakmu itu tidak benar," ujar paman Anton saat sudah mendekati Milano.
Karena paman Anton meyakini apa yang tadi Milano katakan mengarah ke hal lain.
"Tuh dengarkan. Minta maaf pada calon papa kita, atas perbuatan kamu padanya," perintah Brian.
__ADS_1
Tentu saja Milano tidak langsung meminta maaf, karena dirinya masih ingin mengulik tentang selembaran poster yang terdapat foto Mil dan juga paman Anton.
Sementara itu di sisi lain mama Feli dan juga Mil, terus berbincang dan sesekali ke duanya tertawa.
"Tante. Aku masih tidak percaya jika wanita yang paman Anton sukai adalah tante," ujar Mil yang memang masih begitu terkejut saat kemarin paman Anton menunjukkan foto wanita yang disukainya ternyata adalah mama Feli. "Tapi aku heran, tante dan paman Anton bisa dekat dan mengenal? Dan sejak kapan?"
"Ceritanya panjang. Tapi kami sudah mengenal lama, sebelum kita sama sama menikah," jelas mama Feli sambil mengukir senyum. "Dan tante juga terkejut saat Anton mengatakan. Kamu adalah keponakannya,"
"Oh iya. Tapi aku ingin tahu lebih lanjut antara paman dan juga tante,"
"Nanti saja calon istriku sayang, sekarang kita makan siang dulu," sambung Brian yang menghampiri sang mama dan juga Mil. "Setelah itu baru nanti aku akan menceritakan semuanya padamu. Dan sekalian kita bahas tentang kita,"
"Jangan mengada ada. Dan minggir!" sambung Milano sambil menarik tangan Brian untuk menjauh, saat Brian akan duduk di kursi tepat di samping Mil.
Lalu Milano dengan segera duduk di kursi tersebut.
"Oke. Aku persilakan kamu duduk di samping calon kakak ipar mu sekarang, sebelum aku duduk di atas pelaminan bersama dengannya nanti,"
"Jangan banyak bicara. Karena aku yang akan duduk di atas pelaminan bersama dengan M–"
__ADS_1
Milano tidak jadi meneruskan ucapannya, saat baru menyadari apa yang baru saja di katakan nya.
Bersambung................