SUAMI MASA DEPAN

SUAMI MASA DEPAN
Ikan Lele


__ADS_3

Belum juga meneruskan ucapannya kepala Milano sudah di toyor oleh Brian yang berdiri di sampingnya.


"Mentang mentang sudah on. Mau main coblos saja, mana di rumah orang lagi. Kamu itu pengusaha sukses di tahan air ini. Masa mau nyoblos modal gratis, beh malu tuh sama Aris. Ya tidak Ris?" tanya Brian pada Aris yang berdiri tidak jauh dari ketiganya.


"Apaan?"


"Tadi ada cewek di depan tidak mengunakan baju," ucap Brian mengingat lagi tadi di depan pintu masuk rumah sakit ada orang gila yang tidak mengenakan pakaian.


"Aku juga tahu, sepertinya dia calon istri kamu," ledek Aris pada Brian.


"Bukannya calon kamu?"


"Calon istri kalian berdua. Sudah jangan ribut," sambung Milano. "Kalian tidak tahu apa. Jika aku sedang panik, karena calon istriku tiba tiba pingsan,"


Mendengar apa yang baru saja Milano katakan. Brian, Aris dan juga mama Feli langsung menatap ke arah Milano.


"Apa kami tidak salah dengar?" tanya Brian.


"Tidak. Sebelum mama menikah dengan om Anton, aku dulu yang akan menikahi Mil," jelas Milano tentu saja membuat mam Feli yang masih duduk di sampingnya langsung menepuk pipinya sendiri.


Takut dirinya sedang bermimpi mendengar apa yg baru saja di ucapkan oleh sang putra.


"Apa mama tidak sedang bermimpi?"


"Tidak Ma. Aku akan menikah dengan Mil," ucap Milano lagi.


Tentu saja membuat mama Feli begitu bahagia, laku memeluk sang putra yang berada di sampingnya.


"Ah tidak mungkin. Mil akan menikah hanya denganku," Brian masih ingin meledek sang adik.


Namun langsung mendapat tendangan dari Milano dan mengenai buyung miliknya.

__ADS_1


"Ya ampun Mila. Jika terjadi sesuatu pada milikku, dengan apa aku harus mencoblos para wanitaku," ucap Brian tanpa menyadari apa yang baru saja di katakan nya.


Tentu saja mama Feli segera melepas pelukannya dan sekarang menatap ke arah Brian, setelah mendengar apa yang baru saja di katakan nya, lalu mama Feli beranjak dari duduknya dan mendekati putra sulungnya.


"Ngomong apa kamu barusan?"


"Tidak ada Ma. Buyung aku atit Ma, gara gara Mila,"


"Bukan yang itu!"


"Tidak ada Ma. Tadi hanya bercanda Ma suer,"


"Bohong tante, Brian itu– ah buyung ku!" pekik Aris dan menghentikan ucapannya, saat Brian menendang junior nya.


"Brian! Jadi selama ini kamu–"


"Kabur," ujar Brian sebelum mama Feli meneruskan ucapannya.


"Punya anak, satu pun tidak ada yang benar. Yang satu sering keluar masuk lubang paralon untung tidak di gigit ikan lele. Yang satu jangankan masuk lubang paralon, berdiri saja tidak bisa,"


"Siapa yang sedang Mama bicarakan. Punyaku sudah bisa berdiri loh Ma. Apa Mama butuh bukti?" sambung Mila.


"Bukti, bukti. Buktikan saja pada Mil, bikin dia merem melek, dan mendessaahhh," ujar mama Feli, kemudian menepuk jidatnya sendiri. "Ya ampun bagaimana keadaan Mil calon menantu mama,"


"Itu dia tante," sambung Aris sambil menunjuk ke arah Mil yang baru saja keluar dari ruangan bersama dengan dokter yang memeriksanya.


Tentu saja membuat mama Feli dan juga Milano langsung menghampirinya.


"Mil sayang calon menantuku," ujar mama Feli saat sudah mendekati Mil, lalu membawa ke dalam pelukannya.


"Dok. Apa yang terjadi padanya? Kenapa dia pingsan?" tanya Milano pada dokter yang ada di hadapannya.

__ADS_1


"Tenang saja, semua baik baik saja. Nona pingsan karena kelaparan,"


"Apa. Kelaparan?" tanya mama Feli, lalu menatap ke arah sang putra.


Plak!


Mama Feli memukul lengan Milano dengan kencang.


"Ish ish tak patut, orang mah di kasih makan dulu sebelum di coblos, dasar anak nakal,"


"Coblos? Apa pemilihan presiden di majukan?" tanya Mil.


Tentu saja membuat mama Feli langsung menepuk jidatnya mendengar apa yang baru saja Mil katakan.


*


*


*


"Keponakan?"


"Iya Bu. Pak Anton Wijaya tinggal di apartemen ini bersama dengan keponakannya yang bernama Mil. Dan baru sekitar tiga bulan mereka tinggal di sini,"


Tentu saja bibi Maria langsung berpikir keras mendengar apa yang baru saja pengurus apartemen katakan di mana paman Anton tinggal.


Karena memang akhir akhir ini bibi Maria sedang menyelidiki Mil.


"Terima kasih pak ini infonya," ucap bibi Maria lalu keluar dari ruang pengurus apartemen di mana bibi Maria sedang menyelidiki siapa Mil.


"Mil, Kamila. Apa mereka orang yang sama?" tanya bibi Maria. "Ini tidak bisa di biarkan,"

__ADS_1


Bersambung...........................


__ADS_2