
"Ngaku saja jika pak Mila cemburu, jangan gengsi begitu lah,"
"Untuk apa kau cemburu. Siapa kamu?"
"Ish Pak Mila melukai hatiku tahu dengan berkata seperti itu. Aku kan calon istri Pak Mila, apa Pak Mila lupa?"
"Tidak. Jangan harap aku menikahi mu karena mencintaimu, tapi aku hanya ingin bertanggung jawab dengan apa yang pernah aku lakukan padamu itu saja mengerti!"
Sudah berapa kali Mil mendengar ucapan itu dari Milano sejak kepulangannya beberapa hari lalu dari rumah sakit.
Awalnya Mil merasa kecewa dengan ucapan Milano, namun mama Feli mendukung Mil untuk membuat Milano bertekuk lutut dan mengatakan cinta pada dirinya.
"Oh begitu baiklah. Karena bukan karena mama Feli, aku juga tidak sudi menikah dengan anda hai Pak Mila terhormat," sambung Mil seolah olah tidak ingin menunjukkan perasaan, lalu membalik tubuhnya ingin meninggalkan Milano, namun tangannya langsung di cekal.
"Mau ke mana kamu?" tanya Milano saat masih mencekal satu tangan Mil.
"Tentu saja kembali menghampiri teman tapi mesra ku yang masih berada di dalam kantin," jawab Mil untuk memanas manasi Milano dan melihat reaksinya.
"Oh jadi dia teman tapi mesramu?"
"Kenapa memangnya? Pak Mila tidak suka?" tanya balik Mil. "Kan Pak Mila menikahi ku tanpa cinta, dan aku wanita yang ingin di cintai. Jika Pak Mila tidak mencintaiku, aku bisa mendapatkan cinta dari pria lain,"
"Enak saja kalau bicara," Milano menarik tangan Mil dengan kasar.
"Pak lepas!"
__ADS_1
"Diam!" seru Milano dan terus menarik tangan Mil menuju ke arah Lift.
"Ye bilang saja cemburu, apa susahnya sih," batin Mil sambil mengukir senyum.
Jam dinding di ruang kerja Mil menunjukkan saatnya jam makan siang.
Namun Mil masih sibuk dengan pekerjaannya yang menumpuk karena kemarin dirinya tidak masuk kerja.
"Apa kamu masih akan diam di kursi mu?" tanya Milano yang sedari tadi berdiri tepat di depan ruang kerja Mil yang memang tidak memiliki pintu, mengingat lagi ruang kerjanya menyatu dengan ruang kerja Milano.
Namun Mil yang tahu jika suara itu adalah suara Milano, sengaja tidak menjawab pertanyaannya dan terus saja sibuk dengan laptop yang ada di hadapannya.
Tentu saja membuat Milano yang merasa pertanyaannya di acuhkan mendekat ke meja kerja Mil.
"Apa kamu tuli?"
"Mil!" teriak Milano kesal.
"Iya Pak ada yang bisa aku bantu?" tanya Mil yang sekarang menoleh ke arah Milano.
"Apa kamu tuli?"
"Tidak Pak, beberapa hari lalu aku pergi ke dokter THT dan hasil pemeriksaan pendengaran ku baik baik saja. Memangnya ada ya Pak?"
"Kalau begitu kenapa tadi aku panggil kamu tidak merespon?"
__ADS_1
"Barusan aku merespon panggilan Pak Mil yang berteriak memanggil namaku. Apa Pak Mila sebelumnya memanggil namaku?" tanya Mil sengaja meledek Milano.
Akhirnya Milano tidak ingin menanggapi perkataan Mil, lalu mendekat ke arahnya dan menarik tangannya, agar Mil beranjak dari kursi kerjanya.
"Ikut denganku sekarang juga!"
"Ke mana Pak?"
"Makan siang,"
"Maaf Pak, aku sudah berjanji pada temanku tadi untuk makan siang bersama,"
Tentu saja Milano langsung melepas tangannya yang masih menarik tangan Mil. Lalu membalik tubuhnya untuk menghadap ke arahnya.
"Apa kalian sudah berjanji makan siang bersama di warung tenda yang ada di seberang jalan sana?"
Mendengar pertanyaan Milano, Mil langsung menautkan keningnya, dan mengingat lagi dirinya dan juga Dino pernah makan siang bersama di warung tenda di seberang jalan. Kemudian Mil mengukir senyum, karena dirinya yakin, Milano sudah lama memata matainya.
"Memangnya kenapa jika kami janjian makan siang di warung tenda. Apa ada yang salah Pak,"
"Tentu saja salah. Jika dia mencintaimu, tentu saja dia tidak akan mengajak kamu untuk makan siang bersama dan berpanas panasan di warung tenda itu,"
"Itu lebih romantis Pak. Pak Mila tidak tahu sih rasanya gimana, saat kita sedang makan terus berkeringat, dan di saat itu ada pria yang mencintaiku mengelap keringat itu. Rasanya tuh sesuatu banget Pak," ujar Mil coba untuk terus memanasi nya.
"Itu namanya norak," sahut Milano yang kembali menarik tangan Mil dan keluar dari ruang kerja ke duanya.
__ADS_1
Bersambung...................