SUAMI MASA DEPAN

SUAMI MASA DEPAN
Mbah Bugel


__ADS_3

Sementara itu Aris yang baru saja menutup sambungan ponselnya setelah menghubungi Milano, langsung tertawa.


Kemudian kembali menempelkan ponsel miliknya untuk menghubungi seseorang.


"Tante aku baru saja menghubunginya Mila. Dan aku yakin rencana kita untuk menyatukan Mila dan juga Mil akan berhasil," ucap Aris pada mama Feli lewat sambungan ponselnya.


"Bagus. Tante sudah tidak sabar melihat mereka bersatu," sambung mama Feli di balik sambungan ponsel Aris.


Dan keduanya terus berbincang mengenai rencana yang sudah ke duanya rencanakan untuk menyatukan Milano dan juga Mil.


*


*


*


Milano terus fokus mengendarai mobilnya menuju anak perusahaan miliknya yang jaraknya lumayan jauh, karena anak perusahan tersebut berbeda kota dengan perusahaan pusat Milano.


"Mil. Kamu lihat di internet bagaimana grafik perkembangan anak perusahan yang di pegang oleh Aris," perintah Milano.


"Baik Pak,"


Dan Mil pun langsung mengikuti perintah atasannya tersebut, tanpa bertanya lagi. Saat melihat raut wajah Milano yang terlihat begitu kuatir.


"Mil. Buruan, lelet sekali!" seru Milano.


"Sabar Pak,"

__ADS_1


"Sabar, sabar tidak ada kata lain apa?" tanya Milano lalu meraih ponsel Mil, karena sudah tidak sabar ingin melihat grafik perkembangan perusahaan anak cabang miliknya.


Dan baru saja menatap layar ponsel Mil yang sudah ada di tangannya. Milano kembali mengembalikan ponsel tersebut pada pemiliknya.


"Percuma saja aku membalikan ponsel mahal untukmu, tapi tidak kamu kasih makan,"


"Aku juga tidak minta untuk di belikan ponsel ini. Pak Mila sendiri yang memaksa aku untuk menerima,"


"Singkirkan ponsel kamu. Dan gunakan ponsel milikku saja," perintah Milano.


"Percuma. Apa Pak Mila tidak lihat, sedang hujan besar dan jalan yang kita lalui juga jalanan kecil, tentu saja sinyal tidak ada. Bukan masalah ponsel ku tidak di beri makan," cibir Mil.


Karena saat sudah memasuki kota di mana anak perusahaan Milano berada tiba tiba hujan turun dengan sangat lebat.


"Aku rasa Pak Mila salah jalan deh. Lihat saja jalanan yang kita lalui sepi sekali,"


"Jangan banyak bicara. Aku lebih tahu jalanan menuju perusahan ku. Kamu diam saja dan pantau grafik di ponsel kamu itu," perintah Milano lagi, padahal jalanan yang di lalui nya memang bukan jalan yang biasa di lewati saat mengunjungi anak perusahan nya.


Mil terus coba untuk membuka grafik anak perusahan Milano yang biasa dirinya lihat lewat laptop, namum sekarang harus dirinya lihat di ponsel, dan tentu saja memakan waktu yang lama apa lagi terkendala sinyal karena hujan begitu lebat.


"Pak. Grafik perusahan pak Mila stabil dan beberapa hari ini malah meningkat," jelas Mil saat sudah bisa membuka grafik tersebut.


Mendengar apa yang baru saja di katakan oleh Mil, Milano segara menepikan mobil yang di kendarai nya dan menghentikan nya.


Kemudian Milano mengambil ponsel Mil yang berada di tangannya untuk melihat sendiri grafik tersebut.


"Jika anak perusahaan aku baik baik saja, kenapa tadi–"

__ADS_1


Milano tidak jadi menerus ucapannya, karena dirinya sekarang mengambil ponsel miliknya untuk menghubungi Aris.


"Sial!" ucap kesel Milano saat menghubungi ponsel Aris yang sekarang tidak bisa di hubungi nya. "Aris ke mana kau!"


"Kenapa Pak?" tanya Mil penasaran.


Namun tidak mendapat jawaban dari Milano yang kembali ingin melajukan mobilnya.


Namun tiba tiba Milano memukul setir pengemudi saat mobilnya tidak bisa di nyalakan karena mati total.


"Pak. Apa mobilnya mati?" tanya Mil yang merasakan mobilnya mati.


"Tidak usah bertanya jika kamu sudah tahu. Lebih baik kamu hubungi bengkel terdekat,"


"Pak Mila kira kita ada di mana, suruh menghubungi bengkel terdekat. Posisi kita sekarang saja aku tidak tahu,"


"Kamu tanya mbah bugel di mana posisi kita lah, punya otak tuh di pakai sekarang jaman elektronik apa pun bisa!"


"Kenapa tidak Pak Mila saja yang tanya,"


"Untuk apa aku punya asisten jika apa apa aku harus melakukan sendiri," ujar Milano sambil melotot ke arah Mil.


"Benar juga apa yang Pak Mila katakan," sambung Mil sambil nyengir kuda. Lalu mengontak atik ponselnya, namun karena cuaca yang masih belum bersahabat, Mil tidak bisa menemukan di mana lokasinya sekarang. "Pak tidak bisa,"


"Ya sudah kamu turun dan periksa mobil ini,"


"Aku?" tanya Mil menunjuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Iya. Siapa lagi memangnya kalau bukan kamu."


Bersambung...................


__ADS_2