SUAMI MASA DEPAN

SUAMI MASA DEPAN
Pemanasan


__ADS_3

Sejenak ke duanya hanya diam dan saling pandang, lalu Milano memalingkan wajahnya tidak ingin menatap wajah Mil, saat detak jantungnya berdetak tidak sesuai irama.


Tentu saja Mil merasakan detak jantung Milano karena tubuh ke duanya saling menempel.


"Pak. Lakukan saja apa yang ingin pak Mila lakukan, aku pasrah," batin Mil sambil mengukir senyum tipis.


"Kenapa kamu senyum senyum? Apa kamu senang melihat mata aku kepedihan?" tanya Milano yang sekarang menatap ke arah Mil lagi.


"Terus aku harus apa Pak,"


"Tentu saja hilangkan pedih di mataku ini,"


"Kalau begitu Pak Mila menyingkir lah dari atas tubuhku,"


Milano pun segera beranjak dari atas tubuh Mil. Namun baru saja berdiri tiba tiba satu kakinya menginjak botol minyak angin yang tadi jatuh, dan membuatnya hilang keseimbangan, dan kembali jatuh di atas tubuh Mil.


Dan kali ini bibir ke duanya tidak berjarak dan saling menempel.


Mil yang sadari tadi ingin sekali mencium bibir Milano, kini tidak bisa mengontrol keinginannya tersebut dan langsung mencium bibir Milano dan perlahan menyesap nya


Tentu saja membuat Milano begitu terkejut, namun bukannya melepas bibirnya, Milano malah membalas ciuman Mil, karena dirinya juga menginginkan bibir Mil yang begitu manis dan juga membuatnya merasakan hal lain yang mengalir di tubuhnya.


Dan ke duanya saling balas mencium untuk beberapa saat sebelum ke duanya saling melepas tautan bibirnya.

__ADS_1


Ke duanya saling tatapan setelah melepas tautan bibirnya. Dan senyum terukir dari ke dua sudut bibir Mil.


Namun tidak mendapat tanggapan dari Milano yang kini kembali mencium bibir Mil, saat Milano entah mengapa ingin terus mencium bibir Mil dan tak ingin melepasnya.


Mil pun tidak menolak apa yang di lakukan oleh Milano, apa lagi saat ini Milano bukan hanya mencium nya namun juga melu*at bibirnya dengan rakus. Membuat Mil melingkar kan ke dua tangannya di belakang leher Milano.


Dan membuat Milano merasakan aliran panas di tubuh nya dan menggerakkan buyung miliknya yang berada di bawah sana.


Mil yang merasakan pergerakan di bawah sana, langsung menautkan keningnya.


"Ya ampun buyung Pak Mila sudah bereaksi apa yang harus aku lakukan. Apa aku biarkan saja? Tapi aku tidak ingin melakukan di balai bambu ini. Tidak elite amat melakukan di balai bambu seperti ini," batin Mil yang sekarang melepas ke dua tangannya dari belakang leher Milano, dan coba mendorong dada Milano.


Namun malah membuat Milano menggesekkan buyung miliknya yang sudah mengeras di bawah sana


"Berhenti kalian!" perintah salah satu orang yang berseragam polisi saat sudah mendekat ke arah Mil dan juga Milano.


Tentu saja membuat Mil dan juga Milano terkejut, dan keduanya langsung melepas tautan bibirnya dan beranjak dari tempatnya.


"Periksa indentitas mereka!" perintah salah satu polisi tersebut pada rekannya yang lain.


Kemudian polisi tersebut berteriak untuk memanggil pemilik rumah dan warung makan tersebut.


Dan pemilik rumah dan warung makan tersebut keluar dari dalam rumah.

__ADS_1


"Sejak kapan tempat ini menjadi tempat prostitusi?" tanya polisi tersebut pada pasangan suami istri yang baru keluar dari dalam rumah.


"Maksud Bapak apa ya?"


"Kalian tahu tempat ini sudah di sterilkan dari tempat prostitusi? Tapi kalian masih menyewakan rumah untuk mereka berbuat mesum tanpa ada ikatan pernikahan," ujar polisi tersebut sambil menunjuk ke arah Mil dan Milano yang baru di periksa indentitas nya oleh rekan polisi tersebut.


Mengingat lagi jika dulu lingkungan tersebut adalah tempat prostitusi terbesar di kota tersebut. Dan setiap minggu polisi selalu berpatroli untuk memastikan tidak ada prostitusi lagi di lingkungan tersebut.


"Pak. Bapak ini salah paham. Mereka itu–"


"Jelaskan saja nanti di kantor polisi," sambung polisi tersebut memotong perkataan pemilik rumah dan warung makan tersebut.


Dan setelah pemilik warung di bawa oleh rekan polisi lainnya. Polisi tersebut mendekati Milano dan juga Mil.


"Kalian bisa sewa oyo semalam seratus ribu, kenapa memilih balai bambu reot seperti ini. Tidak elite amat. Sekarang ikut kami ke kantor polisi!" Perintah polisi tersebut pada Mil dan juga Milano.


"Yoyo seratus ribu? Mahal sekali Pak. Di abang tukang mainan lima belas ribu. Dan untuk apa kita ikut ke kantor polisi. Kami bukan kriminal Pak," ucap Mil.


"Tapi kalian melakukan perbuatan mesum di tempat umum,"


"Pak. Tadi kami baru pemanasan,"


Bersambung.....................

__ADS_1


__ADS_2