
Milano melempar tempat tisu ke arah Aris yang baru datang dan duduk di hadapannya, namun dengan sigap Aris langsung menangkap nya.
"Kalau kamu tidak mencintai Mil. Biar aku saja yang mencintainya dan menggantikan kamu di acara pernikahan kalian nanti. Bagaimana?" tanya Aris untuk meledek Milano.
Tentu saja langsung mendapat tatapan tajam dari Milano.
Mil yang melihat tatapan tajam Milano ke arah Aris, langsung tersenyum dan beranjak dari duduknya, namun tangannya langsung di cekal oleh Milano.
"Mau ke mana?"
"Tentu saja ke Pak Aris, yang akan mencintaiku. Untuk apa aku harus bersama Pak Mila, jika Pak Mila tidak mencintaiku,"
"Enak saja. Duduk kembali di tempatmu!"
"Aku tidak mau,"
"Ini perintah!"
"Tidak mau,"
"Mil. Aku atasanmu dan kamu harus mengikuti perintah ku. Paham!"
"Tidak, jika urusan hati. Paham!" balas Mil yang masih berada di posisinya sambil manahan senyum.
Milano menghembuskan nafasnya kasar lalu, lalu beranjak dari duduknya, tentu saja satu tangannya masih mencekal tangan Mil.
__ADS_1
Baru saja Milano berdiri, tubuhnya kehilangan keseimbangan lalu memeluk tubuh Mil.
"Ya elah Pak Mila. Katanya tidak cinta tapi main peluk peluk segala," ujar Mil.
Namun tidak ada tanggapan dari Milano.
"Pak Mila. Apa Bapak baik baik saja," tanya Mil yang merasakan Milano bukan memeluknya lagi. "Pak,"
"Ya ampun Mil. Sepertinya Mila pingsan," ujar Aris, lalu menatap makanan yang baru saja Milano santap. "Apa Mila makan kacang?"
"Iya. Gado-gado kan memakai sambal kacang. Pak Aris kira menggunakan sambel petis,"
"Ya ampun Mil. Mila alergi dengan semua jenis kacang," sambung Aris yang langsung beranjak dari duduknya dan menghampiri Mil yang sedang menahan tubuh Milano yang pingsan.
"Mana aku tahu jika dia alergi kacang, Pak Mila sendiri juga tidak memberi tahu,"
*
*
*
Mama Feli yang mengetahui jika Milano sang putra di larikan ke rumah sakit, langsung menyusul.
Saat sudah berada di rumah sakit, mama Feli dengan segera menuju ruang UGD di mana Milano sedang mendapatkan perawatan.
__ADS_1
Lalu mama Feli menghampiri Mil yang sedang duduk bersama Aris di bangku tunggu tidak jauh dari ruang UGD.
"Bagaimana keadaan Mila?" tanya mama Feli pada Aris, yang terlihat begitu kuatir.
"Masih di tangani oleh dokter Tan," jawab Aris.
Namun tidak dengan Mil yang sekarang menundukkan kepalanya, karena merasa bersalah dengan kejadian ini.
Ketika Mil mengetahui jika alergi yang di derita oleh Milano tergolong sudah akut. Apa lagi Milano juga tidak menyukai pedas.
"Mil," panggil mama Feli yang sekarang berdiri tepat di hadapan Mil.
Yang mau tidak mau langsung membuat Mil menegakkan kepalanya untuk menatap ke arah mama Feli.
"Kenapa kamu teledor seperti ini Mil. Apa kamu lupa jika Milano alergi dengan berbagai macam kacang dan olahannya?"
"Maaf tante aku lupa," jawab Mil yang benar benar lupa jika Milano memiliki alergi, padahal dulu dirinya sempat di beri tahu oleh mama Feli saat baru menjadi asisten pribadi Milano.
"Tante? Apa kamu kira aku tante kamu?" tanya mama Feli lagi sambil bertolak pinggang dan melotot ke arah Mil.
Tentu saja membuat Mil takut, dan langsung beranjak dari duduk nya.
"Tante. Jangan marah padaku, maafkan aku. Aku benar benar lupa tante. Tante boleh menghukum aku atas keteledoran ini. Tapi aku mohon jangan marah padaku Tante,"
"Mil! Sudah aku bilang aku bukan tante kamu. Kamu paham!"
__ADS_1
Mendapat bentakan dari mama Feli untuk yang pertama kalinya, tentu saja membuat Mil begitu terkejut, dan air mata tiba tiba meluncur bebas dari ke dua pelupuk matanya dan membasahi ke dua pipinya.
Bersambung................