SUAMI MASA DEPAN

SUAMI MASA DEPAN
Saklar Listrik


__ADS_3

"Masa bodo dengan kebahagiaan yang sedang mama rasakan," sambung Angel sambil menyingkirkan tubuh sang mama yang ada di hadapannya.


Lalu Angel berjalan menuju ruang keluarga dan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar di atas sofa.


Tentu saja bibi Maria yang mengikuti sang putri hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil melipat ke dua tangannya.


"Yakin. Kamu tidak ingin mengetahui kebahagiaan apa yang sedang mama rasakan? Ini ada kaitannya loh dengan Mil asisten atasan kamu,"


"Sudahlah Ma. Aku tidak ingin membahas tentang dia lagi. Aku sedang kesal dengannya. Bisa bisanya dia akan menikah dengan Pak Mila,"


Mendengar apa yang baru saja sang putri katakan, bibi Maria kini mendekati sang putri dan duduk di sampingnya, lalu menautkan keningnya sambil menatap sang putri.


"Menikah?"


"Iya Ma. Dan sekarang jangan bicara tentangnya lagi. Aku muak dengannya,"


Angel pun beranjak dari duduknya dan melangkahkan kakinya ingin menuju kamar, meninggalkan sang mama yang kini sedang menyunggingkan senyum sinis dari sebelah sudut bibirnya.


"Tapi mama yakin pernikahan itu tidak akan pernah terjadi,"


Angel menghentikan langkahnya saat mendengar ucapan sang mama. Kemudian dia membalik tubuhnya untuk menghadap sang mama.


"Kenapa mama bisa berkata seperti itu?" tanya Angel penasaran yang kini melangkah mendekati sang mama.


"Karena mama sudah tahu siapa Mil yang tinggal bersama dengan papa kamu itu,"


"Siapa dia Ma?" tanya Angel dengan tingkat kekepoan di atas rata rata.


Lalu bibi Maria menceritakan semua pada sang putri siapa Mil, setelah dirinya berhasil mengetahui siapa Mil yang sebenarnya.

__ADS_1


"Jadi dia–"


"Iya sayang. Jadi kamu tidak perlu kuatir karena kamu yang nanti akan menjadi istri Mila," sambung bibi Maria memotong perkataan Angel.


"Bagaimana caranya Ma?"


"Kamu tidak perlu tahu bagaimana caranya. Karena kamu cukup duduk manis, dan mama yang akan bekerja,"


*


*


*


Seminggu berlalu hubungan Mil dan juga Milano semakin dekat hingga tidak ada jarak di antara keduanya.


Seperti hari ini saat keduanya masih berada di kantor. Mil terus duduk di pangkuan Milano saat Milano sedang mengerjakan pekerjaannya.


"Pak Mila. Aku juga ingin bekerja,"


Mendengar ucapan Mil membuat Milano yang sedari tadi sibuk dengan layar laptop di hadapannya, kini beralih menatap Mil.


"Apa kamu bilang. Pak?"


"Iya. Kan sekarang kita berada di kantor. Pak Mila bilang jika berapa di kantor panggil saja Pak jangan sayang,"


"Iya. Tapi kita sedang berdua sayang dan tidak ada siapa siapa lagi di sini,"


"Terus?"

__ADS_1


"Kamu panggil aku dengan sebutan sayang dong,"


"Harus?"


"Ya ampun sayang. Lama lama aku benar benar tidak tahan untuk tidak mencolok habis dirimu," sambung Milano yang begitu gemas dengan Mil.


"Aku bukan saklar listrik yang harus di colok tahu,"


"Oke oke," sambung Milano yang sekarang meraih dagu Mil.


"Cukup jangan lagi," ujar Mil sambil menutup mulut Milano dengan satu tangannya. "Kamu tahu bibirku seperti mati rasa, sedari tadi kamu sosor terus,"


"Sekali lagi,"


"Tidak mau," tolak Mil mengingat lagi sedari tadi dirinya baru sampai kantor. Milano sudah memangku nya dan juga menciumi bibirnya entah sudah berapa kali hingga Mil tidak bisa menghitungnya.


"Jika kamu tidak mau, jangan salahkan aku jika nanti aku menjatuhkan kamu di sofa itu sayang," ancam Milano sambil menunjuk sofa yang ada di ruang kerjanya.


"Iya, iya," akhirnya Mil mengiyakan permintaan Milano.


Karena tidak ingin kejadian beberapa waktu lalu terulang lagi, di mana hampir saja Mil dan juga Milano yang benar benar di buat mabuk oleh cinta, hampir melakukan tusuk menusuk di sofa tersebut. Sebelum keduanya sadar apa yang akan keduanya lakukan saat pintu ruang kerja Milano di ketuk oleh Angel dari luar, karena rapat akan segera di mulai.


"Satu menit saja,"


"Tidak bisa. Harus lima menit," sambung Milano yang sudah meraih dagu Mil, lalu mendekatkan bibirnya ke bibir Mil.


Dan baru saja Milano menempelkan bibirnya, pintu ruang kerjanya di ketuk dari luar oleh seseorang.


Bersambung.............................

__ADS_1


__ADS_2