SUAMI MASA DEPAN

SUAMI MASA DEPAN
Tujuh Hari Tujuh Malam


__ADS_3

Suasana di perusahaan Justin Corp hari ini begitu gempar, saat semua karyawan dari berbagai divisi mengetahui jika atasan mereka akan segera menikah dengan asisten pribadinya.


Padahal baru beberapa hari lalu Mil di gosip kan menjadi pelakor dan menggemparkan seluruh karyawan di perusahaan Justin Corp.


"Apa aku tidak salah. Pak Mila akan menikahi asistennya. Aku rasa si Mil itu mengunakan jampi jampi deh untuk merayu pak Mila. Kalian tahu sendiri belum lama Mil bekerja di sini. Tidak mungkin kan pak mulai jatuh cinta pada Mil dalam waktu dekat,"


"Benar apa yang kamu katakan, Angel saja yang sudah lama ingin mendapatkan pak Mila tidak bisa. Iya tidak Ngel?"


"Diam kalian!" seru Angel yang mendengar apa yang baru saja ke dua rekannya katakan. "Lebih baik kalian berdua membantu aku?"


"Membantu apa?" tanya salah satu rekan Angel.


"Tentu saja menggagalkan rencana pernikahan pak Mila dan juga Mil sialan itu. Bisa bisanya dia dengan mudah mendapatkan pak Mila," ujar Angel yang masih di selimuti kekesalan saat mengetahui Mil wanita yang di bencinya akan menikah dengan Milano.


"Bagaimana caranya?"


"Mendekat lah!" perintah Angel pada dua rekannya, lalu Angel membisikkan apa rencananya pada keduanya.


Sementara itu Mil yang baru tiba di perusahaan, menjadi pusat perhatian semua orang saat melewati lobi perusahaan.


"Apa ada yang salah dengan ku?" tanya Mil.


"Tidak. Selamat ya," ujar beberapa orang yang mengucapkan selamat bergantian, dan menyalami Mil satu persatu.


Tentu saja membuat Mil begitu bingung.


"Minggir kalian semua. Jangan menggangu calon pengantin," ucap Dino yang menerobos beberapa orang yang masih memberi selamat pada Mil.


Dino langsung memeluk bahu Mil saat sudah mendekatinya.


"Ya ampun calon pengantin orang. Pagi ini Dina tidak memasak,"

__ADS_1


"Terus?" tanya Mil dan menoleh ke arah Dino.


"Traktir sarapan ya, masa calon pengantin tidak mau mentraktir makan,"


"Apa kamu tahu jika aku–"


"Tentu saja tahu. Tembok di perusahaan ini juga tahu jika kamu akan menikah dengan pak Mila," sambung Dino memotong perkataan Mil.


"Kenapa kamu tahu padahal aku belum memberi tahu,"


"Ada deh. Lebih baik kamu traktir aku oke," ujar Dino dan berjalan menuju kantin perusahaan tersebut, tentu saja masih memeluk bahu Mil.


"Dino. Kamu tahu aku akan menikah dengan pak Mila dari siapa? Padahal aku baru masuk kerja hari ini," tanya Mil yang penasaran pasalnya dirinya belum memberi tahu sahabatnya jika akan menikah dengan Milano.


Pasalnya kemarin Mil tidak masuk kerja, karena seharian bersama dengan mama Feli.


"Tentu saja dari mama calon suami kamu. Yang kemarin memberi pengumuman pada semua karyawan di perusahaan ini,"


"Mungkin sebelum dia bersama kamu. Kamu tahu tidak mama dari pak Mial calon mertua kamu itu, akan mengadakan resepsi pernikahan kamu dan juga oak Mila tujuh hari tujuh malam. Dan mengundang seluruh karyawan perusahaan Justin Corp untuk memeriahkan nya,"


"Ada ada saja tujuh hari tujuh malam. Bagaimana aku ingin anu,"


Mendengar apa yang baru saja Mil katakan, Dino yang duduk tepat di hadapan Mila saat ke duanya berada di kantin, langsung menatapnya.


"Buset, bahasa anu keluar. Sudah pinter nih bahas anu anu,"


"Ini karena kamu yang sudah mengkontaminasi otak aku yang waras, jadi apa apa aku teringat anu,"


"Bagus itu. Tapi untuk saat ini jangan bahas anu," ujar Dino dengan wajah datar.


"Tumben sekali ada apa. Apa tidak dapat jatah dari Dina?"

__ADS_1


"Dapat sih dapat. Tapi dia marah marah, karena aku anunya cepat,"


"Cepat? Maksudnya cepat apanya?"


"Ya semburannya,"


"Ya pantas saja Dina marah. Ya masa sedang anu mulut kamu nyembur nyembur kurang kerjaan sekali,"


"Bukan mulut yang nyembur tapi–"


Dino tidak jadi meneruskan ucapannya saya melihat Milano datang menghampiri Mil dan juga dirinya.


"Ada apa? Kenapa kamu tidak meneruskan ucapannya. Oh aku tahu yang nyembur itu–"


Mil tidak jadi meneruskan ucapannya, saat tangannya di cekal oleh Milano yang berdiri di belakangnya.


"Ikut denganku," ujar Milano dan menarik tangan Mil untuk beranjak dari duduknya.


"Pak Mila lepaskan. Sakit tahu," ucap Mil ketika Milano terus menarik tangannya keluar dari kantin.


Milano pun langsung melepas tangannya, lalu membalik tubuhnya untuk menatap ke arah Mil.


"Siapa pria itu?"


"Teman,"


"Tidak mungkin. Sejak awal kamu bekerja di sini, kamu sudah begitu dekat dengan dia,"


"Cie cie cemburu ya,"


"Tentu, eh tidak!"

__ADS_1


Bersambung..........................


__ADS_2