
"Jelaskan padaku, untuk apa aku harus mencarinya?" tanya Aris penasaran dengan perintah Milano.
"Kamu bekerja sebagai asisten aku Ris, apa pun yang aku suruh kerjakan saja. Jangan banyak bertanya!" tegas Milano yang langsung mengambil ponsel miliknya yang berada di kantong dan memainkan nya.
"Jangan bilang kamu ingin menikahinya, hanya merasa bersalah dengannya karena ke dua orang tuanya sudah meninggal dunia akibat kecelakaan beberapa tahun lalu. Ingat Mila, wanita itu tadi benar benar tidak satu level dengan kamu. Apa lagi penampilannya," ucap Aris yang mulai menekan pedal gas mobil yang di kendarai nya.
"Apa penampilan itu penting?"
Pertanyaan Milano membuat Aris menolah sekilas ke arahnya.
"Jadi selama ini kamu tidak pernah memiliki kekasih karena selera kamu di bawah rata rata, oh ya Tuhan. Sepertinya kamu memiliki kelainan dalam penglihatan kamu," ujar Aris mengingat lagi sampai Milano sekarang usianya sudah dua puluh tujuh tahun, tapi belum pernah sekali pun memiliki kekasih.
"Aku sedang tidak ingin bercanda, dan sampai kapan pun, aku tidak ingin memiliki kekasih apa lagi sampai menikah, jadi jangan bicara yang tidak tidak, ikuti saja perintah ku mencari di mana wanita tadi tinggal,"
"Iya iya nanti aku cari di mana dia tinggal," sambung Aris yang mulai memasuki halaman parkir perusahaan Milano. "Tapi sampai sekarang aku masih tidak habis pikir Mila, kenapa kamu tidak tertarik dengan seorang wanita, padahal kamu tinggal tunjuk mau wanita yang seperti apa, dan mereka akan dengan senang hati menyerahkan semuanya untuk kamu,"
Namun Milano hanya melirik ke arah Aris sekilas, lalu turun dari mobil yang sudah terparkir.
Dan Aris pun hanya menggelengkan kepalanya, mendapati atasan dan juga sahabatnya tersebut tidak tergoda dengan wanita mana pun yang datang untuk menawarkan dirinya.
__ADS_1
Kemudian Aris ikut turun dari mobil dan menyusul Milano yang sudah memasuki lobi perusahaannya.
"Mila, jangan jangan kamu ini penyuka ter–"
Belum juga Aris menyelesaikan ucapannya, perutnya sudah di sikut oleh Milano dengan kencang, dan terus melangkah kan kakinya meninggalkan Aris sang asisten yang sedang meringis kesakitan.
Tepat pukul dua belas siang, Milano baru keluar dari ruang rapat, setelah memimpin rapat rutin perusahaan miliknya, tentu saja di ikuti oleh Aris dari belakang.
"Aku ingin sekretaris yang serba bisa,"
"Sepertinya kepala HRD sudah menemukan sekretaris seperti yang anda inginkan Pak," sambung Aris yang memang memanggil Milano dengan formal jika sedang berada di kantor. Dan hari ini adalah hari di mana sedang di adakan interview bakal sekretaris Milano, karena sekretaris yang sebelumya sedang cuti melahirkan.
Baru saja Milano membuka pintu ruang kerjanya dirinya langsung di kejutkan dengan kehadiran wanita paruh baya dan juga wanita cantik dengan pakaian minim yang menutupi tubuh indahnya, hingga siapa pun pria langsung meneteskan air liur hanya dengan melihatnya.
Namun tidak dengan Milano, yang malah ingin muntah melihat wanita cantik tersebut, yang sedang tersenyum ke arahnya.
"Kamu sudah kembali sayang?" tanya wanita paruh baya yang sekarang beranjak dari duduknya, yang tak lain dan tak bukan adalah mama Feli, mama dari Milano.
Dan mama Feli langsung melangkahkan kakinya menuju ke arah sang putra yang sekarang sudah menuju meja kerjaan lalu duduk di kursinya.
__ADS_1
"Mama datang ke sini dengan Bery ingin mengajak kamu makan siang sayang," ucap mama Feli, menyebut wanita cantik yang sedari tadi bersamanya.
"Aku tidak lapar, mama saja yang pergi,"
"Mana bisa begitu sayang, beberapa hari lagi Bery akan pergi ke luar negeri loh sayang, masa kamu tidak ingin menghabiskan hari dengannya,"
"Bodo amat," sambung Milano sambil membuka laptop yang berada di atas meja tepat di hadapannya.
"Ya ampun sayang, sekali saja beri perhatian pada Bery, tidak lama lagi kalian akan bertunangan loh,"
"Apa aku menyetujui untuk bertunangan dengan dia? Tidak Ma, sudahlah kalian pergi saja dari ruangan aku,"
"Sayang,"
"Mama pulanglah, aku masih banyak pekerjaan, dan satu lagi jangan memaksa aku untuk bertunangan dengan Bery," sambung Milano tanpa menatap sang mama, yang sekarang menyuruh Bery untuk mendekati Milano.
Dan tanpa pikir panjang Bery langsung mendekati Milano, lalu duduk di pangkuannya.
Bersambung...................
__ADS_1