
"Karmila gitu loh,"
Mendengar nama aslinya di panggil, tentu saja membuat Mil segera menoleh ke arah sumber suara.
Dan hembusan nafas kasar keluar dari bibir Mil, saat mengetahui siapa yang masuk ke dalam kamar hotel di mana dirinya berapa.
"Ish kalian menyebalkan, panggil aku Mil paham!"
"Iya Mil sayang calon istriku,"
"Calon istri matamu suwek!" sambung Dina sambil menoyor kepala Dino sang suami yang berada di sampingnya. "Nih gendong Q,"
Dina yang tadi menuntun sang putri, kini menyuruh Dino untuk menggendongnya.
Lalu Dina mendekati Mil dan langsung memeluknya.
"Selamat. Akhirnya mimpimu menjadi kenyataan, karena sebentar lagi kamu akan menjadi nyonya Milano Justin," ujar Dina yang masih memeluk Mil sang sahabat.
Beberapa saat keduanya berpelukan, kini Dina melepas pelukannya, lalu menatap intens wajah Mil sambil mengukir senyum.
"Kamu cantik sekali,"
"Terima kasih, dan terima kasih sekali lagi, karena hanya kamu sahabatku yang selalu ada untukku dari dulu hingga sekarang," ujar Mil yang sekarang menggenggam tangan Dina, dan sekarang Mil balik memeluk sahabatnya tersebut.
"Kok kamu tidak mengucapkan terima kasih padaku sih Mil," sambung Dino yang sekarang mendekati Mil dan juga sang istri yang masih berpelukan.
__ADS_1
"Untuk apa berterima kasih padamu," cibir Mil sambil melepas pelukannya.
"Kamu masih bertanya untuk apa? Ish ish ish teman tidak pengertian. Jika bukan karena aku tentu saja kamu pasti buta untuk anu,"
"Apa itu anu?" tanya Mil yang kini menatap ke arah Dino.
"Jangan sok polos kamu Mil, apa kamu masih ingat apa yang pernah kamu katakan waktu itu. Eh sayang aku mohon berhenti, aku tidak ingin kebablasan, emm uh sayang sungguh enak sekali," ucap Dino menirukan apa yang pernah dirinya dengar.
Saat Dino tidak sengaja mendengar suara Mil dari telepon intercom yang tidak tertutup rapat di ruang kerja Milano.
Tentu saja hal itu membuat Dino penasaran yang akhirnya mengintip dari celah celah tirai penutup kaca ruang kerja Milano yang kala itu tidak tertutup sempurna.
Dan Dino mendapati Mil sedang berada di pangkuan Milano, dan terus menndesah saat Milano sedang memainkan ke dua gunung merapinya.
"Jangan pura pura tidak tahu. Posisi kamu itu meniru posisi aku dengan istriku kan. Jadi kamu harus berterima kasih padaku, karena aku, tidak kamu pungkiri sudah menjadi guru anu untukmu. Iya kan?"
"Posisi apa sih?" tanya Mila yang pura pura tidak tahu.
"Idih pake malu malu segala, aku melihat kali apa yang selalu kamu lakukan dengan Mila itu,"
"Ish, jangan ngaco aku tidak melakukan apa pun,"
"Pret tidak melakukan apa pun, tiap hari tuh bibir kamu jontor tidak melakukan apapun kamu bilang. Sudahlah aku tahu semua. Dan sekarang aku ingin menjadi guru anu kamu. Bagaimana apa kamu mau?" tanya Dino sambil menaikan satu alisnya.
"Apaan sih, sudahlah kamu keluar sana,"
__ADS_1
"Yakin nih tidak mau, nanti malam pasti kamu anu kan sama Mila. Dan aku beri tahu posisinya yang ngena dan nonjok,"
Plak!
"Ah Q apa yang kamu lakukan pada papa. Kenapa kamu memukul pipi papa, sakit tahu," ujar Dino sambil memegangi pipinya yang baru saja di pukul oleh sang putri.
"Tadi papa bilang mau jadi gulu tonjok untuk ante. Tonjok sepelti yang balu aku lakukan kan Pa. Memang ada ya gulu tonjok?" tanya Q yang masih berada di gendongan Dino.
Tentu saja dengan kejadian itu membuat Mil dan juga Dina langsung tertawa.
"Makanya mulut tuh di kasih saringan. Q, tonjok papa lagi," perintah Mil.
"Iya nih bikin kesel, kenapa aku bisa jadi istrinya sih," sambung Dina.
"Bikin kesel kalau di colok saja merem melek sambil bilang, sayang terus, lebih dalam lagi sayang ahhhhhh. Q!" pekik Dino sambil memegangi matanya yang baru di colok sang putri menggunakan jari telunjuk nya.
"Di colok sepelti itu Pa. Sakit tidak Pa?" tanya Q.
"Sakit lah,"
"Pantas saja aku seling dengal suala mama kesakitan dali dalam kamal. Jadi papa jahat suka colok colok mama?"
Mendengar pertanyaan sang putri, Dina dan juga Dino langsung menepuk jidatnya sendiri, namun tidak dengan Mil yang menahan tawa.
Bersambung.....................
__ADS_1