Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Ceroboh


__ADS_3

Langit mendekati Neeha dan Agung yang tertawa. Tampaknya barusan sedang membicarakan keburukan Langit.


"Ngapain kamu kesini?"


"Eh Mas"


"Langit, Istri Lo lucu juga" Agung menahan perutnya masuk ke ruangan.


"Pak Agung" Sapa Dara


"Eh kalian lagi ya, nggak bosen dengar celotehan Langit?" Agung meninggalkan mereka masuk ke dalam.


"Mas aku mau...""


Belum selesai Neeha bicara, Romi menghampirinya. "Kakak ini istrinya pak Langit ya?"


"Eh iya" Neeha agak salting"


"Harusnya bukan Kak, tapi Buk" Dara menepuk punggung Romi


"Iya Buk Nama Ibuk siapa?" Romi menyodorkan tangannya.


"Neeha"


"Ooh Ibuk Neeha, cantik Buk, saya Romi, dan ini Dara" Romi cengengesan.


Dara kembali menepuk pundak Romi "Aku juga mau salaman, kok kamu yang ngenalin aku sih"


Langit menyadari pakaian Neeha memang terlihat agak ketat "Kalian berdua cepat pulang, mau saya kasih nilai D?"


"Iya Pak, Eh Buk Minta buat Pak Langit jangan sering ngancam pakai nilai Buk!" Romi sudah ditarik menjauh oleh Dara.


"Mas..."Neeha tersenyum manis.


"Kenapa?" Langit berjalan menuruni tangga.


"Ah berhenti dulu kali Mas, capek, jauh banget ini di lantai 5 pakai tangga" Tanpa sadar Neeha mengeluh.


"Kamu capek apa hubungannya dengan saya?. siapa suruh datang kesini" Langit terus berjalan.


"Gak ada sih, cuma kepikiran suatu yang penting aja, takut tertunda"


Langit berjalan cepat membuat Neeha terus mengikutinya dari belakang. Karena risih orang lain membicarakan tentang Neeha yang terlalu seksi, Langit tak bisa menahan rasa kesalnya. Lalu ia menarik tangan Neeha dengan kasar.


Langit menyudutkan Neeha ke dinding. Tangannya berada di kiri dan kanan Neeha membuat Neeha terjebak tak bisa keluar.


"Kamu pikir ini tempat permodelan?. Pakai baju kok kaya gini?"


"Kayak gini Gima...nnnaa. ..." Neeha melihat pakaian ketatnya, ia lupa dengan kardigan yang harusnya terpasang di luar.


Sebelum pulang, Sera ngotot mencoba kardigan milik Neeha. Sehingga Neeha lupa meminta kembali dan pergi sebagai mana adanya.


Pantas saja, sewaktu naik taksi dan sejak awal memasuki kampus. Banyak yang memperhatikannya.

__ADS_1


Neeha memegang bajunya, "Lupa Mas, Kardigan yang aku pakai tadi dipinjam teman kantor"


"Kamu mau apa?"


"Mau ngomongin sesuatu yang penting"


"Sesuatu apa?" Langit berdiri menghalangi pandangan orang yang lalu lalang sehingga tubuh Neeha tertutup.


"Mau yakinin Jordi kalau kita itu pasangan romantis"


"Syutt, pelankan suara kamu!"


"Aku mau..."


Belum selesai Neeha bicara, Langit beranjak "Nanti kita bahas di rumah"


Karena terburu-buru mengikuti Langit. Neeha tergelincir oleh sepatu tinggi yang dipakainya.


"Aaaaa" Neeha berguling ke bawah.


"Neeha" Langit yang panik segera berlari turun ke bawah, melihat keadaan Istrinya.


Neeha yang berusaha bangun tak sengaja membuat bajunya yang ketat itu robek bagian belakangnya. Krekkk... jelas sekali baju ketat berbahan kain itu sudah berpisah dan berubah dari bentuk asalnya.


"Baju aku Mass"


"Kaki kamu??" Langit melihat sepatu High heels Neeha yang sudah tidak tinggi lagi, bagian penopangnya terlepas.


"Aww," Neeha merasakan kakinya yang sakit.


Duuh kok malah robek di saat seperti ini sih, apakah ini yang dinamakan sudah jatuh tertimpa tangga


Langit melihat Neeha yang tampaknya malu dengan baju yang robek, makanya berusaha menutupinya. Langit lalu segera membuka jas yang ia pakai dan menyodorkannya pada Neeha.


"Pakai ini untuk menutupinya!" Langit tak tega melihat ekspresi Neeha yang sangat kesakitan dan juga menahan malu itu.


Neeha segera memakai jas yang diberikan Langit. Neeha mengelus kepalanya, sambil meringis pelan.


"Untung saja jatuhnya gak jauh, aku juga ngelindungin kepala dari benturan pakai tangan, kalau di sinetron udah amnesia ini" Neeha merasa lega atas tangannya yang berguna.


"Sudah jelas jatuh tak jauh, kenapa kaki kamu?" Langit memegang pas di pergelangan kaki kiri Neeha.


"Aww sakit" Neeha segera menyingkirkan tangan Langit dari kakinya.


"Dasar ceroboh, kok bisa jatuh?"


"Nggak tahu Mas, kalau aku tahu penyebabnya, aku pasti bakal menghindar biar gak jatuh"


"Sepertinya kaki kamu patah" Langit melihat kaki kiri Neeha.


"Hah, Pa Pa Patah Mass" Neeha terlihat syok.


Langit tahu itu terkilir, biasanya Agung sering mengeluhkan hal itu sejak mereka kuliah. Ia sengaja ingin melihat ekspresi Neeha.

__ADS_1


Langit segera memasangkan kancing jasnya di tubuh Neeha. Mengalungkan tangan Neeha di lehernya dan menggendong Neeha berjalan turun.


"Kita mau kemana Mas?"


"Masih nanya, ya mau obatin kaki kamu"


"Dimana Mas?"


"Banyak tanya, ya ke UGD Rumah sakit universitas ini"


Kampus tempat Langit mengajar termasuk kampus swasta dengan bayaran mahal dan fasilitas yang mewah. Selain itu, lulusannya juga sangat berkualitas dan diperebutkan oleh dunia kerja.


Rumah sakit Universitas disana juga sudah terjamin dalam melakukan praktek. Dokter disana adalah lulusan kampus mereka dan pastinya Dokter yang berpengalaman. Termasuk Ajeng seringkali datang kesana.


"Hah UGD" Neeha tambah Syok, bukannya UGD adalah tempat orang yang sakitnya parah.


"Iya, sepertinya kaki kamu harus di operasi segera"


Langit terus berjalan menuju UGD, keringat membanjiri tubuhnya. Iyalah dari lantai atas kebawah sambil Menggendong Neeha.


"HAHH DI Operasi?" Neeha mendapat Syok dengan level tinggi.


"Kamu punya penyakit pengulangan ya, kamu selalu mengulangi perkataan saya dengan tambahan Hah di depannya"


Langit sebenarnya cukup bahagia dengan ekspresi yang ia dapatkan dari Neeha. Sementara Neeha, Seumur-umur ia tak pernah mendengar Operasi karena jatuh dari tangga.


Apa kaki aku benar-benar Patah dan harus dioperasi. Kalau begitu, sinetron yang geger otak dan amnesia setidaknya lebih baik. Apalagi para tokoh biasanya hanya akan diperban kepalanya sampai tokoh pendamping datang.


"Berhenti-berhenti Mas!" Neeha segera turun meskipun kakinya berdenyut luar biasa. "Lihat nih aku bisa berdiri, cuma sakit aja kok bisa patah sih Mas"


Neeha memaksakan senyumannya. Mulut bisa bicara, tapi ekspresi wajah tak bisa bohong


Langit melihat pergelangan kaki Neeha merah dan mulai membengkak. Langit kembali mengalungkan tangan Neeha di lehernya.


Langit menggendong Neeha dengan paksa karena Neeha berontak mau turun. Langit berlari menuju rumah sakit Universitas.


"Tenang, bentar lagi kita sampai"


"Aku gak apa-apa Mas, turunin aku!"Neeha yang memohon turun tidak dihiraukan Langit.


"Ini karena kecerobohan kamu Nee, kalau masih mau turun biar saya hempaskan. Sekalian kaki kamu yang satunya ikutan patah juga"


Ucapan Langit membuat Neeha terpaksa bungkam. Satu kaki patah saja sudah cukup dan begitu menyiksa, jangan sampai dua. Ia tak mau duduk di kursi roda dan mengubur pekerjaannya.


Baru saja masuk lorong Rumah Sakit. Ajeng yang masih mengobrol dengan resepsionis melihat kedatangan Langit yang menggendong Neeha.


"Langit, Neeha kenapa?"


"Jatuh dari tangga, UGD kosong nggak?"


"Kosong, ayo ikuti aku!"


Ajeng menunjukkan jalan bagi mereka. Neeha yang sudah parno dengan operasi kaki tidak mampu lagi berbicara.

__ADS_1


Bersambung......


__ADS_2