Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Pandangan Tak Teralihkan


__ADS_3

Neeha sudah mendesak Langit untuk pergi ke salon dan butik. Ia harus tampil cantik. Bukan sekedar alasan, karena Perusahaan lain yang ikut adalah dari Perusahaan tempat Azkal bekerja.


"Buruan Mas!"


"Neeha tunggu sebentar, bukannya masih lama"


"Kita harus siap-siap dong Mas!"


Neeha berulang kali masuk keluar ruang ganti. Bertanya apakah pakaian yang ia coba cocok pada Langit.


"Ini gimana Mas?" Neeha keluar sambil berputar.


"Mmm bagus?" jawab langit sama dari awal hingga kini.


"Kok kamu jawabnya gitu aja sih Mas dari tadi?"


"Neeha, ini saya jawab untuk yang ke 32 kalinya loh"


"Ya udah sekali lagi, biar jadi genap 33 Mas" Neeha masuk ke dalam ruang ganti kembali.


33 itu ganjil Neeha, darimana dia belajar berhitung. Bahkan dengan kemampuan tersebut dia masuk departemen keuangan.


Neeha keluar, sebuah gaun bewarna merah nyala tanpa lengan. Apalagi Neeha menyanggul rambutnya, hal itu sukses memperlihatkan garis leher Neeha yang indah.


Neeha tersenyum menatap Langit, "kalo yang ini gimana Mas?"


"Sangat cantik" tanpa sadar kalimat itu keluar dari bibir Langit yang 32 kali menjawab, "mmm bagus" Daritadi.


"Apa Mas, gak kedengaran?"


"Sudah lekaslah Neeha!"


"Oke Mas Langit yang bayar ya!" Neeha berlalu.


"Saya?" Langit langsung menuju kasir membayar harga gaun yang mahal itu.


*****


Di mobil...


Neeha terus menatap layar ponsel yang ia jadikan cermin. Melihat riasan dan rambutnya.


"Neeha apa kamu tidak bisa duduk dengan tenang?"


"Takutnya riasan aku berubah dan rambut aku berantakan Mas"


Tiba-tiba...


Seeeuutttt.... Mobil berhenti mendadak. Membuat tengkuk Neeha hampir saja berbenturan keras dengan kursinya. Untungnya Langit sigap dan memegang bagian belakang yang menghalangi benturan ke kepala Neeha.


"Kamu nggak apa-apa Nee?" tanya Langit khawatir.


"Iih Mas Langit" Neeha terlihat syok.


"Kenapa kamu ada yang luka?"


"Kenapa Mas Langit berhenti mendadak?"


"Itu lampunya tiba-tiba merah, saya bawa mobil kecepatan tinggi, tentu saja"


"Ngapain Mas Langit buru-buru?"


"Tentu saja biar kamu tidak datang terlambat"


"Mas Langit, biasanya pusat perhatian akan datang terakhir biar semua mata tertuju pada kita"


"Saya pikir ini acara penting?"


"Ya memang penting Mas"


"Kalau kamu terlambat apakah tidak apa-apa"


"Lagian siapa yang marah kalau aku terlambat Mas, aku hanya perlu memperlihatkan betapa bahagianya aku bersama Mas Langit"

__ADS_1


"Apa harus segitunya jika kamu mau membuat Si Jordi itu mundur?"


"Aku lupa ngasih tahu Mas Langit. Bukan buat Jordi aja, tapi buat Azkal"


"Azkal?. Saya rasa pernah mendengar namanya" Langit mengingat-ingat.


"Lampunya hijau tuh Mas!"


"Eh iya" Langit kembali fokus.


"Azkal itu mantan aku Mas"


Mantannya?. Mantannya yang mana?. Saya rasa pernah mendengar tentang Azkal.


"Mantan waktu kamu nolak aku cium, di depan lorong Perusahaan waktu itu Mas. Kamu bawa payung terus kita berantem dan bla bla bla"


"Ooh"


"Ooh?. Aku bicara panjang lebar Mas Langit cuma bilang ooh?"


"Terus memangnya saya harus bilang apa Neeha?"


"Ya terserah!"


Langit mengangguk, "ya terserah," ulang Langit.


"Nggak gitu konsepnya Mas!"


....


Mereka akhirnya sampai...


Ayo turun Nee!"


"Mas Langit duluan aja deh, ini aku harus rapikan rambut aku"


"Begini saja" Langit justru membuat rambut Neeha jatuh ke bawah, tanpa disanggul.


"Mas Langit" Neeha kali ini benar-benar kesal.


"Bagus dimana Mas rambut aku kelihatan kusut"


"Nggak begitu kusut juga, lebih bagus daripada tadi" Langit segera turun.


Neeha ikutan turun juga dan membiarkan rambutnya terurai. Berulang kali dicoba juga Neeha tidak bisa menyanggul rambutnya seperti di salon.


Setelah memberikan bukti undangan ke petugas keamanan. Neeha tidak mau masuk menggandeng lengan Langit.


Namun tidak beberapa lama, Neeha langsung menggandeng lengan Langit akibat berpapasan dengan Azkal dan Clara.


"Tadi nggak mau"


"Aku masih kesal sama Mas Langit, jangan ajak aku ngobrol!"


"Yasudah"


Acara itu memang membosankan, Hanya para pimpinan dan pemegang saham yang naik ke panggung berbicara.


Jordi menghampiri Neeha, "Neeha kamu tampak sangat cantik"


"Kamu harusnya nggak muji aku di depan mata suami aku Jordi" Neeha terlihat kesal bawaan karena ulah Langit.


"Oh ya?" Jordi melihat Langit.


"Iya lah" ucap Neeha.


"Tapi suami kamu nampaknya tidak perduli" Jordi menaikkan bibirnya.


Belum jadi Neeha membalas, ternyata ada sedikit perubahan acara oleh Partner penting dari berbagai Perusahaan itu. Dia adalah Aron, seorang lelaki tampan yang membuat para wanita menjerit.


Aron memperlihatkan layar dari pancaran infokus. Inspirasinya adalah Ibunya dan toko parfum Ibunya.


"Itukan??" Neeha terkejut bukan main.

__ADS_1


Kebetulan Aca juga menghampiri. "Kamu udah tahu Nee?"


"Aku baru tahu Aca"


Aca dan Wiliam suaminya berkenalan dengan Langit. Mereka mengobrol lama, membuat Jordi jadinya mengobrol dengan Neeha.


"Neeha saya nggak bohong, kamu benar-benar sangat cantik, meskipun rambut kamu agak"


" Kenapa sama rambut aku?"


"Enggak kok, memangnya rambut kamu tidak bawa ke salon. Terlihat seperti kamu biasanya"


"Suami aku suka kok, mm dia suka aku apa adanya" ujar Neeha.


"Tentu saja, sulit untuk tidak menyukai wanita secantik kamu Neeha" Jordi melepaskan jas yang ia pakai.


"Kamu mau ngapain Jordi?"


"Buat kamu" Jordi memakaikan jasnya pada Neeha.


Neeha melihat Langit yang ternyata sudah berada di dekatnya. Langit melepaskan jas milik Jordi.


"Ambil lagi !" Langit melemparnya pada Jordi.


" Saya yang duluan memberikan jas saya buat Neeha" Jordi tak terima.


"Saya tidak mengizinkan istri saya memakai barang milik lelaki manapun selain punya saya" Langit melepaskan jasnya dan memasangkannya pada tubuh Neeha.


Mas Langit kok jadi gentleman gini?.


Disaat itu juga, ternyata Aron menyampaikan bahwa ia sangat berterima kasih kepada seseorang. yang membuat toko parfum Ibunya bertahan, ia bahkan menyampaikan bahwa ia akan selalu berhutang Budi dengan wanita itu.


Hah wanita?...hah wanita.... Terdengar riuh orang-orang disana.


Langit yang melihat ekspresi Neeha yang kebingungan setelah bertatapan dengan Lelaki bernama Aron sedikit tergerak. Ia Menarik tubuh Neeha di dekapannya dengan jas yang ia pakai.


"Mas Langit kedinginan?. Mas Langit nggak perlu kasih aku jasnya Mas Langit!" bisik Neeha.


Tanpa sepatah kata Langit mendekat ke wajah Neeha "Saya bayar ciuman untuk membalas Azkal waktu itu," bisik Langit.


Langit mencium bibir Neeha lembut. Neeha awalnya agak kaget, namun ia merasa ciuman itu benar-benar sangat lembut dan nyaman. Sehingga ia membiarkannya walaupun harus menahan nafas.


Kenapa ini, berbeda dengan yang waktu itu?. Ini tidak sakit dan kasar.


Neeha langsung tersenyum setelah mereka berciuman. Jordi langsung capcus pergi dari sana, sementara Aca sudah mengabadikan momen tersebut.


.......


"Sayang" Clara menyadarkan Azkal yang sedari tadi tidak melepaskan pandangannya ke arah Neeha.


"Ada apa sayang?"


"Kamu ngapain natap dia?"


"Enggak kok"


Bukan hanya Azkal yang terus menerus tak mampu mengalihkan pandangan dari Neeha. Namun Aron, semenjak dari panggung hingga kini sedang mencoba berbagai makanan manis sering curi-curi pandang pada Neeha.


Zizi menghampirinya "Pak Aron"


"Iya"


"Bapak tertarik dengan Mbak Neeha?"


"Jangan sembarangan, saya hanya berhutang Budi padanya"


"Ooh kalo begitu saya lega Pak"


"Kenapa kamu yang lega?"


"Soalnya Mbak Neeha sudah bersuami. Bapak lihat lelaki yang tidak pakai jas disampingnya kan. Tadi mereka berciuman. Saya rasa itu suaminya Pak. Bahkan Mbak Neeha meracik parfum di tempat kita waktu itu buat suaminya Pak"


"Ooh begitu"

__ADS_1


Aron berlalu dengan alasan menyapa beberapa pemegang jabatan penting di Perusahaan lainnya. Ada sedikit rasa kecewa yang berusaha ia sembunyikan apalagi setelah mendengar Neeha sudah menikah.


Bersambung....


__ADS_2