
Neeha mengendarai Mobilnya dengan warna kuning mencolok ke kampus Langit. Sebelumnya sudah ia kabari agar tak usah dijemput.
"Ooh mobilku tersayang, udah lama banget kita tak berjumpa ya" Neeha mengelus setir.
Sebelum ke kampus tempat Langit mengajar. Neeha pergi ke butik Make-over diri. Ia akan memberitahu Langit berita mengenai siapa dirinya juga dengan cara dramatis.
"Mbak saya mau dandanan anak kuliahan!"
"Saya pikir Mbak ini masih mahasiswa baru loh, muda banget"
Hehe iya anda hanya berbasa-basi pasti kan Mbak
Akhirnya Neeha menyetir menuju kampus dan memarkirkan mobilnya. Lengkap dengan kaca mata hitam dan rambut yang diikat ke belakang Neeha bertanya pada Agung perihal kelas Langit.
"Ini kelas terakhir Langit kayaknya di ruang xxx" Agung bergegas untuk pulang.
Saat Langit sedang menulis sesuatu di papan tulis. Neeha masuk dan mengendap-endap duduk di kursi paling belakang.
Langit menyadari kehadiran mahasiswa yang semula tidak ada. "Kamu yang dibelakang siapa yang mengizinkan pakai kacamata hitam di kelas saya?"
Wah aura Mas Langit pas lagi ngajar beda banget. Jadi tegas dan nggak bisa dibantah.
"Mata saya bintitan Pak" celetuk Neeha.
"Ooh bintitan"
Beberapa mahasiswa lainnya bahkan menahan tawa. Mahasiswa lelaki di sebelah Neeha bahkan memperingati bahwa meskipun Langit dosen yang cukup murah hati terhadap nilai, ia tidak toleran Pada Mahasiswa yang bermain-main ketika perkuliahan berlangsung.
"Makasih sarannya" ucap Neeha pada Mahasiswi itu.
"Meskipun kamu Pakai kacamata, kamu terlihat cantik, boleh minta nomor?" Pinta mahasiswa yang cukup berani tersebut.
Anak ingusan, aku udah nikah. Kamu minta nomor istri dosen kamu tahuu.
Mahasiswa tersebut memberikan Ponselnya, kalau Neeha menolak akan ia adukan bahwa Neeha bukanlah Mahasiswa di kelas tersebut.
"Oke-oke aku kasih" Neeha mengetik nomornya.
Aku pasti salah tempat duduk, paling belakang udah jelas mahasiswa yang keras kepala dan sok-sokan.
Langit terganggu dengan interaksi Mahasiswa berkacamata tersebut. Ia lalu keluar kelas sebentar, menyembunyikan Ponsel dari balik buku dan menekan nomor seseorang dalam daftar panggilan cepatnya.
Dari luar, tampak Neeha yang begitu terkejut karena nada ponselnya sendiri. Ia baru mau mengangkat tapi dimatikan Langit. Sebenarnya Agung juga mengirim pesan bahwa Neeha bertanya ruangannya.
Apa lagi rencana kamu Neeha ?. memata-matai saya atau Mengganggu proses mengajar saya.
Langit kemudian masuk setelah memastikan bahwa Mahasiswi aneh itu benar Neeha, istrinya. Langit menyuruh semua mahasiswanya diam selama kelas berlangsung.
Baru beberapa saat mendengar Langit mengajar. Neeha langsung mengantuk berat, pelajaran tentang sejarah apalagi tentang benda-benda sejarah yang sangat disenangi Langit bagai nyanyian tidur yang meninabobokan Neeha.
Pelajaran berakhir "Baiklah sekian"
Usai menutup perkuliahan, Langit meminta semua mahasiswanya agar keluar dengan tenang. Mahasiswi berkacamata itu tidak boleh terbangun.
Langit mengehentikan mahasiswa di samping Neeha "Kamu kesini!"
"Ada apa Pak?"
"Apa yang kamu lakukan barusan dengan wanita berkacamata itu?"
"Nggak ada Pak" senyumannya terlihat smirk.
"Mau saya kasih nilai 0?" ancam Langit.
"Enggak pak. Saya kan nggak main-main pak"
__ADS_1
"Apa yang kamu lakukan dengan wanita itu?"
Mahasiswa tersebut melihat Neeha sekilas "Saya minta nomornya Pak"
"Terus?"
"Saya cuma ngambil fotonya doang kok Pak, buat saya jadiin SW"
"Hapus!!" perintah Langit.
"Kenapa Pak, Bapak kan sudah punya istri. Apa Bapak mauuu" Mahasiswa tersebut curiga.
"Dia istri saya"
"Hah?"
"Syuut pelankan suara kamu!"
"Maaf Pak"
"Nomornya 08xx xxxx xxxx kan?" tanya Langit.
"Benar Pak"
"Tunggu apa lagi, cepat hapus!"
"Ba baik Pak. Maaf pak, nilai saya..." Mahasiswa tersebut tergagap.
"Selama kamu jangan umbar masalah ini!" tegas Langit.
Mahasiswa tersebut tampak masih agak syok namun ia kendalikan diri. Ia juga segera menghapus nomor Neeha di hadapan Langit. Ia juga menghapus foto Neeha yang sedang tertidur.
Langit memastikan semua mahasiswanya sudah menghilang. Ia berjalan ke belakang dan duduk di samping Neeha.
Ketika terbangun, Neeha terperanjat melihat Langit. "Mas"
"Maaf Pak" Neeha segera bergegas.
Langit menahan lengan Neeha hingga ia kembali terduduk. "Tidak ada Mahasiswa yang boleh berani tidur di perkuliahan saya. Biasanya langsung saya suruh keluar"
"Akuuu... Neeha Mas" Neeha membuka kacamatanya.
"Saya tahu"
"Mas Langit nggak kaget?"
Langit geleng-geleng kepala. "Agung tadi sempat bilang kamu nanyain ruangan saya, tadi juga saya nelfon kamu"
"Ooh Mas Langit sengaja?" Neeha menaikkan jarinya.
"Saya ingat mahasiswa saya, ada yang baru masuk berani pakai kacamata baru kamu saja. Sudah jelas kamu bukan mahasiswa saya"
"Maaf Mas" Neeha tersenyum.
Langit memegang rambut Neeha "Bukannya saya bilang jangan disanggul!"
"Ini cuma diikat biasa Mas" Ia melepaskan tangan Langit.
"Jangan perlihatkan leher kamu!"
"Iya Deh Mas, iya" Neeha menurunkan ikat rambutnya. "Ini gaya anak kuliahan tahu Mas. Emangnya leher aku jelek ya?"
"Terlalu indah" seketika Langit berucap tanpa sadar.
Wajah Neeha memerah dan jantungnya Lagii-lagi deg-degan.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu sampaikan?"
"Aku sukaaaa.." samar Neeha menjawab.
"Apa?" Langit membenarkan telinganya.
Jangan sekarang kali ya, yang lebih penting adalah fakta bahwa aku sangat kaya.
"Aku adalah pewaris tunggal kaya raya Mas"
"Kamu datang kesini hanya mau ngomongin soal status kamu. Kamu berniat menyombong sama saya?" Langit menanggapi biasa.
"Enggak Mas, aku baru tahu Mas, kalau gitu aku nggak perlu Jual tas dan mobil buat Saham Papa. Papa bisa sendiri Mas"
Langit mengangguk pelan, ia tak kaget sama sekali. Ternyata Langit sudah tahu sejak Tuan Rinto memintanya membuat Neeha lebih dewasa.
"Berarti menurut Papa kamu, sekarang adalah waktu yang tepat mengatakan siapa kamu"
"Jadi Mas Langit udah tahu?" Neeha berubah, tak lagi antusias.
"Tentu saja sudah, saya pikir sekaya apapun tidak mungkin kamu bisa memiliki asisten dan bahkan sering pindah sekolah hanya demi kenyamanan kamu. Ditambah lagi, kamu tidak bisa apa-apa"
"Aku pikir ini berita mengejutkan buat Mas Langit. Aku sampai dandan begini"
"Siapa suruh kamu terlalu melebih-lebihkan"
"Tapi Mas, maksudnya aku nggak bisa apa-apa gimana Mas?"
Kalau saya jujur mungkin dia ngambek atau mempermasalahkannya.
"Kamu tidak bisa mengerti esensi dari mata kuliah saya"
Bagus Langit serang titik lemahnya.
"Gak semua orang suka kali Mas"
"Ya sudah ayo kita pulang!"
...****************...
Neeha tidak naik ke mobil Langit "Aku pakai itu Mas"
Neeha membawa mobilnya yang pernah dijual. Langit memiliki sebuah firasat yang aneh. Hingga Akhirnya mereka pulang.
Di depan gerbang Neeha justru menabrak hingga berbunyi. Langit segera turun dan berlari melihat Neeha.
"Kamu nggak apa-apa Nee?"
"Nggak apa-apa kok Mas, kelihatannya aku agak kaku udah lama nggak Nyetir" Neeha cengengesan.
"Jangan bawa mobil ini kalau bukan di sekitaran rumah Nee, biar saya yang antar jemput kamu!"
"Kenapa Mas?"
"Bagaimana jika kamu terluka?"
Yaampun kalau Mas Langit perhatian gini aku mana bisa nolak.
Namun Neeha segera tersadar bahwa ada yang lebih penting dalam rumah. Langit bisa-bisa mengomelinya.
"Ooh biar aku nggak terluka, ya udah kalau gitu. Mas Langit aja yang masukin ke garasi" Neeha menyerahkan kunci mobilnya pada Langit sementara ia masuk rumah dengan bergegas.
Kenapa Neeha membuat firasat saya tak enak. Apa ada yang ia sembunyikan?.
Langit bergegas memasukkan dua mobil itu ke garasi. Ia harus melihat istrinya yang tak terduga.
__ADS_1
Bersambung...