Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Situasi Mertua


__ADS_3

Ajeng asik bertelepon dengan Ibu mertuanya. Kini agak lain, ibu mertuanya itu tak memaksakan pendapat lagi. Agung ikut bergabung mendengar percakapan mereka.


Biasanya Ajeng akan pergi jauh-jauh mengangkat panggilan dan menenangkan diri seolah tak ada apapun pada suaminya .


Kini berbeda, bahkan Ajeng senantiasa menghidupkan pengeras suara. Agung nimbrung dengan percakapan mereka.


yang ditanyakan adalah keadaan Ajeng. Lalu, akhir-akhir ini apakah mereka baik-baik saja atau tidak.


Agung melihat istrinya itu menjawab dengan raut senang. Tidak ada paksaan dalam menjawab pertanyaan Ibunya.


Ajeng tak lupa menjelaskan program yang ia jalani tak begitu berat. Meskipun begitu, Ibu mertuanya tak marah lagi. Tak peduli apapun yang terjadi, meminta agar Ajeng menjaga kesehatan.


"Bu..." Ajeng berpikir sejenak.


Sudah lama ia jarang mengucapkannya sejak didesak untuk terus memiliki anak. Kini hubungan mereka sudah tidak terlalu menekankan hal yang tidak bisa diatur jika belum waktunya tersebut.


"Iya..." jawab mertuanya menunggu di ujung telepon.


Ajeng menghembuskan nafas. "Ibu yang harusnya lebih jaga kesehatan. Jangan lupa minta tolong Bibi buat bantu!"


"Tentu saja, Ibu hanya tua di usia. Fisik mah masih muda"


Masih sempat juga Ibu mertuanya itu bercanda. Padahal sering mengeluh sakit pinggang pada Bibi yang merawatnya.


"Jangan lakukan hal yang muda Bu. Gimana kalau Ibu..."


Belum jadi mengomeli sang Ibu. Agung sudah disemprot agar lebih memperhatikan istrinya. Jangan taunya hanya olahraga di luar dan melupakan kewajiban.


Manggut-manggut saja Agung mendengar Ibunya yang memang pada dasarnya sudah cerewet sejak masih muda.


Setelah panggilan berakhir, Ajeng memeluk suaminya. Ia tak menyangka bahwa selama ini memang terlalu membenci sang mertua. Ia terlalu lupa diri bahwa mertuanya itu hanya mementingkan kebahagiaan rumah tangga mereka.


"Tidak apa, semua orang pernah berpikir secara berlebihan, termasuk aku"


"Kamu harus lebih sering hubungi Ibu ya?"


"Iya, itu pasti" Agung mengelus tubuh istrinya.


...*******...


Tuan Rinto meminum tonik yang ia pesan dari besannya. Akhir-akhir ini pikirannya lumayan berat.


"Pa, yakin kan apapun yang terkait Perusahaan tidak akan mengganggu Neeha?"

__ADS_1


"Papa tidak akan biarkan apapun mengganggu putri kita Ma. Mama tidak lihat papa bergantung dari tonik ini agar tidak lengah sedikitpun"


Tuan Rinto mengangkat gelas yang sudah kosong. Para asisten rumah tangga membersihkan gelas dan mengganti yang baru.


"Uban Papa juga tampaknya lebih banyak Ma. Lihatlah!" Tuan Rinto menunjuk kepalanya.


"Makanya mama bilang jangan biarkan Neeha cepat-cepat tahu statusnya Pa. Gimana kalau itu terlalu berat untuknya" Nyonya Rinto mengelus pundak suaminya agar lebih relax.


"Mama juga lihat sendiri bagaimana Neeha menerima itu semua. Dia tidak terlalu kekanak-kanakan lagi. Bahkan semua pengeluarannya juga teratur sempurna" Tuan Rinto tersenyum sekejap.


Kebanggaan sang Ayah melihat putri kesayangannya dewasa namun juga sedikit kecewa ketika putri kecilnya perlahan mengikuti alur kehidupan baru yang sulit diterima.


"Tidak sempurna juga uang Papa kan banyak. Biarin dia nikmatin dulu lah !"


"Kalau uang kita habiskan semuanya semaunya tanpa pertimbangan. Bisa-bisa perusahaan akan bangkrut atau menyingkirkan Neeha Ma. Papa tidak mau Nee makin syok nantinya"


"Ya udah, pokoknya pastikan saja putri kita tidak apa-apa!"


"Iya Ma. pasti. Putri kecil Papa siapa yang berani. Sampai Papa mati pun semua bawahan papa Akan melindunginya"


"Tuh kan Pa. Papa salah lagi. Dia sudah besar. Masih Papa panggil putri kecil- putri kecil terus"


"Iya Ma, mungkin Papa masih nggak rela kalau..."


"Iya Ma ingat. Putri Papa Nee." Tuan Rinto menekankan pada dirinya sendiri.


...***********...


Nyonya Sanjaya mengatur tonik yang ingin ia kirim ke rumah Langit dan menantunya. Suara Pak Tejo membukakan gerbang membuat Nyonya Sanjaya penasaran.


"Siapa itu Bu bertamu jam segini?" Tuan Sanjaya berhenti meregangkan badannya.


Bi Inah membukakan pintu dan terdiam beberapa saat. Wanita yang tampak dewasa ini belum berubah, hanya saja dulu masih muda.


Bi Inah awalnya tak berniat membawa Wanita tersebut untuk masuk. Setelah Nyonya Sanjaya membolehkan barulah ia antar tamu tersebut ke ruang tamu.


Dia adalah Michele, bekas tamparan tampak di wajahnya. Ditawari untuk diobati Tuan Sanjaya justru ditolak Michele.


Meskipun basa-basinya tak diterima dengan baik. Michele masih bisa tersenyum, ia meninggalkan bingkisan.


"Bingkisan buat apa, Putra saya sudah menikah. Kalau kamu kembali untuk mengganggu pernikahannya saya peringatkan dari sekarang. Jangan berani-berani!"


Mata Nyonya Sanjaya dipenuhi oleh amarah yang ditahannya. Dahulu ia sangat percaya pada Michele, ia anggap gadis lugu itu sebagai putrinya. Ia perlakukan dengan istimewa.

__ADS_1


Namun setelah apa yang terjadi, Nyonya Sanjaya lebih membencinya. Seharusnya Langit bisa bahagia andai saja tidak menyalahkan diri sendiri.


Michele berlutut "Maaf Bu, aku waktu itu masih..."


"Masih muda?" teriak Nyonya Sanjaya.


Tuan Sanjaya mencegah istrinya agar dapat mengontrol emosi. "Tenang Bu, tenang!"


Michele meneteskan air matanya. Ia berlutut dan terisak sambil memohon maaf.


"Jangan harap kamu ingin mengambil hati kami lagi. Saya tidak akan membuat Langit terpuruk untuk kedua kalinya" Nyonya Sanjaya berjalan pergi ke kamar.


Kini Tuan Sanjaya dan Michele yang tinggal di ruang tamu. Bi Inah juga sudah pergi mengantar majikannya ke kamar.


"Maaf istri saya sedikit emosional. Kamu pasti bisa memakluminya. Bangkitlah!"


Michele akhirnya duduk, tidak banyak yang mereka bahas. Tuan Sanjaya tak menyimpan dendam karena itu bukan urusannya. Dia hanya berharap agar Michele mengetahui posisinya sekarang.


Langit sudah menikah sama sepertinya. Mereka bisa berpikir keputusan terbaik apa yang akan diambil.


Sebelum Michele keluar, Tuan Sanjaya menyuruhnya untuk menghapus riasan.


"Jika kamu tidak berusaha menjadi lebih baik. Tidak akan ada yang bisa merubahmu!" ujar Tuan Sanjaya.


......


Michele masuk ke mobilnya. Seorang sopir belum menjalankan mobilnya karena tidak ada perintah.


Apa cara yang bisa aku lakukan jika orang tua kamu sudah menutup pintu ?. Apakah aku harus mengiba di hadapanmu? atau menjadi gadis yang dulu kamu cintai?


Sebuah nomor harus ia angkat segera. Pemilik nomor itu tak suka diabaikan.


Suaminya hanya melontarkan bentakan- bentakan keras yang menyakitkan. Menyuruhnya pulang secepatnya atau akan tahu sendiri akibat yang ia dapatkan.


Ponsel itu selalu dimatikan dari orang yang memanggil. Michele tak pernah berani menutup duluan sejak dahulu.


Ia melihat ke spion dalam, kemudian menghapus memar yang dibuat secara terburu-buru. Inilah maksud mantan calon mertuanya tadi. Mereka mengetahui bahwa Michele hanya berpura-pura teraniaya agar mendapatkan belas kasih.


"Jalan!" Perintah ia lontarkan pada sopir yang memegang kemudi.


Mobil itu kini meninggalkan pekarangan kediaman Tuan Sanjaya. Memacu jauh di dinginnya jalanan malam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2