Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Istri Saya


__ADS_3

Mereka kembali sambil menenteng kantong belanjaan. Neeha membawa kantong belanjaan yang yang ringan sementara Langit membawa yang berat.


"Kamu kuat kan bawanya, itu ringan dari punya saya"


"Kuat kok Mas"


"Setidaknya walau kamu terlihat nggak berguna tapi masih ada guna juga rupanya" Langit berbicara dengan ekspresi khasnya, datar dan sama.


"Terserah deh Mas Males"


Tadi dia ceria saat di Supermarket. Pas mau pulang udah kayak nggak ada nyawa saja. Apa dia masih kesal dengan yang tadi ya.


"Neeha, kamu masih kesal dengan kejadian tadi?"


"Kejadian apa?"


"Kejadian soal punya kamu..."


"Ishh Mas Langit, nggak usah dibahas. Punya aku memang nggak besar, tapi nggak kecil kok. Standar Mas" Neeha meninggikan suaranya.


"Iya-iya saya tahu saya salah. Lagipula sebenarnya saya tahu persis ukuran kamu. Kan milik kamu saya yang nyuci"


Neeha mau kesal, tapi itu memang kenyataannya. Lagipula Langit mencuci pakaian karena ia yang sengaja bersikap tidak tahu cara mencuci.


"Ahhh iya Mas, aku juga tahu ukuran kamu kok. Kan pernah pegang" jawab Neeha ketus.


Namun hal itu sukses membuat Langit tertawa.


"Ngapain Mas Langit ketawa?"


"Akhirnya kamu bisa menerima kenyataan memegang junior saya. Sudah tidak malu lagi kan?"


"Nggak, siapa yang malu...kan..." Kreukkk kreukkkk kreeeeeeeeghrrrrghhhh


Perut lapar Neeha kembali memanggil.


"Sepertinya perut kamu sudah bersiap untuk demo"


"Ini salah Mas Langit, harusnya kita punya banyak stok makanan instan sehingga bisa makan itu"


"Itu nggak sehat, dan juga makanan instan yang saya beli ini bukan untuk dimakan setiap saat kamu mau. Tapi hanya sekali seminggu atau pada saat darurat saja!"


"Kok gitu Mas?"


"Ini demi kesehatan. Saya juga memperhatikan kesehatan kamu Nee"


"Iya deh terserah Mas saja"


Ggrrkkkkreeuukk .....Lagi perut Neeha berbunyi.


Kalau kita pulang dulu. Pasti dia butuh waktu lama buat masak. Dia kan nggak bisa masak.

__ADS_1


"Neeha kamu masaknya besok saja!"


"Loh kenapa Mas?"


"Nanti saat kamu masak, udah keburu malam"


"Aku masak buat diri sendiri, bukan buat kamu Mas. Biar aja udah keburu malam juga"


"Oo kamu mengabaikan tugas melayani suami ya?"


"Bukan gitu Mas. Aku lapar , ini udah yang keberapa kali perut aku bunyi dari tadi Mas"


"Iya saya tau, makanya kamu ikut saya!"


Langit mengambil jalan berbelok. Neeha hanya bisa mengikuti dari belakang.


Neeha berhenti karena jalanan yang remang-remang hanya diterangi lampu jalan yang berdebu dan dipenuhi sarang laba-laba. Sehingga cahayanya tidak terang sepenuhnya.


Apa Mas Langit kesal dan mau ngabisin nyawa aku disini. Tapi aku nggak mau matii


Langit berbalik karena Neeha tertinggal beberapa langkah darinya. "Buruan Nee, nanti tempatnya tutup"


Neeha segera mempercepat langkahnya menuju Langit. "Kamu kemana sih Mas, aku kan..." Neeha sudah menyiapkan suaranya yang rewel.


Namun Neeha berhenti berbicara usai melihat tempat di hadapannya. Sebuah restoran sederhana dengan beberapa tamu saja yang datang.


"Aku mau kesini, ayo kita masuk!" perintah Langit.


Sang pemilik wanita yang sudah paruh baya tampak melayani di belakang. dan seorang Pria paruh baya tampak menjadi penerima tamu sekaligus pramusajinya.


Pria itu datang menghampiri mereka "Waduh Pak Dosen, jarang sekali datang akhir-akhir ini. Kemana saja pak?"


"Iya, saya tidak kemana-mana kok Pak. Itu karena beberapa kesibukan saya" jawab Langit dengan sopan dan ekspresi hangat.


Ternyata dia juga bisa bersikap seperti manusia biasa ya. Biasanya wajahnya dingin dan kaku kayak mau tes ujian melulu.


"Ini siapa Pak Dosen?. Pacarnya ya?" Pria itu menunjuk Neeha.


"Bukan Pak, Ini istri saya" jawab Langit Mantap.


Ada perasaan bahagia di hati Neeha saat Langit memberi pengakuan seperti itu. Entah mengapa, tapi tetap saja Neeha ikut tersenyum pada Pria itu seolah membenarkan, iya saya istrinya.


"Ooh istrinya, pantas saja akhir-akhir ini Pak Dosen jarang datang. Sudah membawa gandengan rupanya. Istri yang sangat cantik Pak Dosen. Anda ini memang pintar cari istri" Ujar Pria itu memuji.


Lagi, berkat ucapan Pria paruh baya itu. Neeha kembali tersenyum.


"Ah Bapak bisa saja"


"Kalau begitu kalian mau pesan apa?"


"Saya pesan seperti biasa pak"

__ADS_1


"Ok Nasi sup seperti biasa, kalau istrinya?" Pria itu melihat Neeha.


"Kamu mau pesan apa Nee?"


"Aku sama aja deh Mas"


"Ok berarti Nasi supnya 2 ya"


Pria tersebut berjalan ke belakang.


"Ternyata ada restoran juga di sekitar sini ya Mas?" Neeha melihat situasi keseluruhan restoran tersebut.


" Tentu saja, saya membeli rumah yang kita tempati bukan hanya karena lebih dekat ke kampus tempat saya ngajar. Tapi karena lokasinya sangat strategis. Ada Supermarket, Taman, Pasar, bahkan restoran murah meriah seperti disini"


"Tapi Mas, Kok nggak ada kertas menunya?. Atau biasanya kan ada keterangan menu di poster atau di dindingnya"


"Untung otak kamu masih berfungsi Nee. Kamu sadar nanyain itu ke saya"


"Maksud Mas Apa?"


"Disini cuma ada satu menu. Nasi sup"


"Hah...Terus kenapa tadi Bapaknya nanya mau pesan apa?"


"Basa Basi saja. Kebanyakan tamu disini adalah tetangga. Pemilik restoran ini suami istri dan anaknya yang seringkali datang bersama pasangan mereka. Pemilik restoran ini hanya membuka restoran karena terbiasa, soal uang anak mereka pasti sudah mencukupi"


"Ooh gitu ya Mas. Kok Mas Langit bisa tahu semuanya?"


"Saya sudah cukup lama tinggal disini. Tentu saja saya harus tahu. Kamu tunggu saja sebentar lagi, pasti beberapa orang yang menyadari keberadaan saya akan datang menghampiri kita"


Benar saja apa yang dikatakan Langit. Semenjak sup terhidang hingga menjadi dingin. Banyak sekali tamu restoran yang bahagia hingga menyelamati mereka berdua sebagai pasangan suami istri.


Usai makan, mereka kembali pulang ke rumah. Di jalan sepi tiba-tiba anjing menggonggong membuat Neeha terperanjat kaget dan naik ke punggung Langit.


"Aduuh kamu ngapain Nee?"


"Ada itu Maaass.." Neeha mendekap erat tubuh Langit sementara kantong belanjaan sudah terlepas dari tangannya.


"Iya saya tahu kamu suka kucing. Nggak gini juga dong kamu takut suara anjing?"


"Kalau digigit aku takut rabies Mas"


"Itu anjing yang diikat disalah satu rumah warga. Memang sensitif dengan suara-suara orang yang lewat. Lagipula sepertinya kamu yang bikin anjing rabies mengingat kuatnya gigitan kamu. Waktu itu di UGD saya pikir lengan saya butuh beberapa jahitan"


Neeha turun dari punggung Langit. Ia mengambil kantong belanjaan.


"Kalau aku rabies, Mas Langit adalah orang pertama yang harus aku tularkan" Neeha berjalan mendahului Langit.


"Eii jalannya kesini!"


"Aku juga tahu" Neeha menjawab ketus.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2