Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Damai


__ADS_3

Neeha berjalan melewati taman. Rumah yang dibeli Langit memang strategis. Dekat dengan taman, dekat Supermarket dan halte bus.


Namun Neeha masih belum terbiasa dengan jalanan itu. Akhirnya, Neeha memutuskan untuk duduk di kursi taman.


Neeha melihat kakinya yang diperban mulai berdarah lagi. Ia tidak merasakan saat berjalan tadi, kini mulai terasa sakit saat ia duduk.


Beberapa pria mabuk berjalan ke arahnya. Neeha melihat sekeliling, tidak ada orang.


Neeha akhirnya memilih pergi. Namun karena kakinya yang sakit. Neeha berhasil dikejar oleh beberapa pria mabuk tersebut.


"Hei gadis mau kemana malam-malam begini?"


"Ke rumah Abang aja Yok"


"Milik gue nih" ujar yang lainnya.


"Jangan mendekat atau saya teriak"


"Oo mau teriak. Teriak aja neng, moga ada yang dengar"


Para pria itu tertawa sambil masih Teler. Salah satu dari mereka ingin memegang tangan Neeha.


Namun untung saja Langit segera datang. Langit menarik Neeha ke belakang tubuhnya.


"Kalau kalian tidak mau berurusan dengan polisi, lebih baik pergi!"


Para Pria mabuk itu langsung kabur, mendengar kata polisi yang diucapkan Langit. Sementara Neeha, ia tampak sudah pucat karena ketakutan.


"Kamu nggak diapa-apain kan Nee?"


Neeha hanya menggelengkan kepalanya. Langit melihat Kaki Neeha yang berdarah dibalik perban.


"Ayo kita pulang!"


"Nggak usah"


Neeha berjalan pergi, tapi lengannya ditahan oleh Langit. "Lepasin tangan aku!"


"Nggak"


"Lepas!"


"Kaki kamu udah kayak gitu, kamu mau kemana lagi?. Kamu nggak punya tempat tujuan kan?"


"Apa peduli Kamu?. Urus saja cinta pertama kamu itu!"


"Cinta pertama saya sudah berakhir, barang-barang tadi juga sudah saya buang ke tempat pembuangan"


Buat apa dia marah kalau ia juga bakal buang barang-barang itu.


"Oh ya, aku gak peduli"

__ADS_1


"Saya peduli sama kaki kamu. Tadi Ajeng Nelfon buat ganti perban dan nggak boleh kena air dulu"


"Biar besok aku temui Ajeng"


"Jangan keras kepala Neeha"


"Aku keras kepala juga ..."


"Syutt" Langit memberhentikan ucapan Neeha, kalau dibiarkan mungkin mereka akan berdebat dan makin bertengkar. "Saya minta maaf, nggak seharusnya saya marah sama kamu. Saya juga harusnya sudah tidak peduli lagi dengan barang-barang itu. Kini ayo kita pulang, obati kaki kamu. Mau kaki kamu infeksi?"


Neeha menggelengkan kepalanya. Terbayang kalau ia tak bisa jalan pasti mengerikan, sedang pincang sedikit saja sudah sangat menyiksa baginya.


Akhirnya Neeha memutuskan untuk kembali ke rumah. Langit menawarkan diri untuk menggendong Neeha, tapi Neeha menolak. Hingga Langit hanya membantu membawa barang bawaan Neeha.


Di perjalanan, Neeha tetap menjelaskan apa yang terjadi hingga ia memecahkan kaca pigura beserta Menonton isi flashdisk. Tak lupa Neeha juga meminta maaf karena tidak meminta izin dari Langit dahulu. Siapa sangka, mereka damai setelah saling meminta maaf.


Di perjalanan, Neeha memang melihat kardus itu ada di tempat pembuangan sampah. Rupanya Langit memang bersungguh-sungguh.


Ketika sampai di depan gerbang. Ternyata ada seorang lelaki yang membawa sebuah parsel.


Dia adalah Jordi, seusia Neeha berada di departemen yang berbeda dengan Neeha. Masih ingat bahwa Neeha bersama-sama dengannya ikut wawancara.


"Kamu kok bisa luka Neeha?" tanya Jordi khawatir.


Siapa laki-laki sok akrab ini


Jordi langsung menarik kerah baju Langit. "Lo apain Neeha Hah. Kok bisa dia luka?"


"Jordi, ini bukan salah Mas Langit"


"Iya, saya suami Neeha, Langit"


Ucapan Langit sukses membuat Jordi bagai disambar petir. Ia baru saja pulang dari perjalanan bisnis.


Saat tahu Neeha izin karena sakit, ia langsung pergi menemui Neeha. Namun orang tua Neeha mengatakan bahwa Neeha tinggal di rumah lain.


Jordi berpikir bahwa itu karena Suatu hal atau Neeha tinggal di tempat temannya. Ternyata Neeha sudah menikah.


Jordi duduk di ruang tamu. Sembari Langit hanya menyodorkan air putih saja.


"Mas biar aku buatkan teh hangat untuk Jordi dulu"


"Nggak usah, dia juga segera pergi kan. Ngapain bertamu malam-malam di rumah saya" ujar Langit.


"Saya mau disini, setidaknya saya akan mengobati kaki kamu Neeha"


"Nggak usah Jordi" Neeha menggoyangkan tangan Menolak.


"Iya, Neeha punya suami, nggak perlu laki-laki lain yang tidak ada urusan untuk membantu" Langit memandang Jordi sinis.


Karena kesal, Jordi langsung pamit pulang. "Besok saya jemput ya Neeha"

__ADS_1


"Nggak usah, biar saya yang antar istri saya bekerja" Langit langsung menyambar.


"Iya Jordi, biasanya emang Aku diantar Mas Langit"


Akhirnya Jordi pergi dengan keadaan menahan kesal. "Eh makasih ya parselnya. Tau aja saya suka buah" Langit menambah kekesalan Jordi.


Langit lalu mengobati luka Neeha sesuai arahan Ajeng. Melihat Langit yang begitu perhatian, membuat Neeha sedikit tergerak.


Kalau dilihat-lihat, Mas Langit yang kaku ini bisa bersikap manis juga.


****


Jordi bertanya pada Aca, sahabat Neeha yang juga rekannya di Perusahaan. Apa yang terjadi selama ia melakukan perjalanan bisnis.


Dengan Malas, Aca menceritakan semuanya. Bahwa Neeha dijodohkan orangtuanya karena hubungan gagal dengan Azkal.


"Apa kalau saya pulang lebih cepat, Neeha mungkin tidak akan menikah"


"Maksud kamu apa Jordi" Aca kebingungan.


"Iya, kalau saya pulang lebih awal. Neeha tidak akan menderita dengan lelaki yang tidak dicintainya"


"Cinta itu bisa dipupuk Jordi"


"Tapi laki-laki itu saja membuat Neeha terluka"


"Suami Neeha itu pengertian juga Kok"


"Terus kenapa sampai Neeha terluka?"


"Kamu kan tahu sendiri Neeha itu cerobohnya kaya apa. Dia masuk Perusahaan bagian keuangan aja sungguh hal mustahil dengan sifat ceroboh itu. Untungnya dia profesional dan nggak bawa sifat cerobohnya. Aku aja salut dia masih bisa mengamankan posisi"


"Itu lain ceritanya Aca"


"Lain gimana sih Jordi. Kan masalah dia Luka"


"Iya, kalau pekerjaan sama kehidupan sehari-hari ya jelas beda"


"Udah ya Jordi, mau beda atau enggak. Itu kehidupannya Neeha. Kita nggak berhak ikut campur, hargai pilihan Dia Jordi!"


"Tapi Acaa...."


" Jordi udah ya, aku mau tidur nih. Nggak baik telponan sama laki-laki lain. Entar suami aku marah. Ha satu lagi, Meskipun kamu pulang lebih cepat atau lambat, kamu nggak akan bisa ngebatalin pernikahan mereka"


Tutt...tutt...tutt...


Jordi melihat galeri di ponselnya. Banyak pose-pose Neeha baik secara individu maupun saat acara perusahaan.


Bahkan Jordi mengedit beberapa foto grup menjadi hanya fotonya dengan Neeha. Jordi mengepalkan tangannya. Andai saja ia lebih berani mendekati Neeha saat itu.


Salahnya, menyimpan perasaan secara diam-diam pada Neeha. Tidak menyuruh Neeha segera putus dengan Azkal setelah mendengar permintaan aneh Azkal yang sudah jadi mantan pacar Neeha saat ini.

__ADS_1


Jordi menyesali semua. Ia bahkan merasa marah melihat Kaki Neeha terluka tapi ia tak bisa berbuat apapun karena ia bukanlah siapa-siapa bagi Neeha.


Bersambung....


__ADS_2