Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Dingin


__ADS_3

Langit ingin pergi langsung ke tempat pembuatan meja rias. Karena ia ragu jika pesan online nanti yang datang tidak sesuai dengan pesanan. Apalagi harganya juga cukup mahal, Langit tidak mau dirugikan.


"Halo Mas Langit, ada apa?"


"Saya sepertinya akan pulang telat. Kamu pesan taksi saja ya!"


"Oh oke Mas, gampang. Biar aku naik taksi aja"


Ternyata, Jordi mendengar sekilas pembicaraan Neeha. Ia lalu menghampiri Neeha berharap bisa mengantarkan Neeha pulang.


Aduuh aku nggak mau Nerima Jordi. Aku takut membuat kita semakin dekat.


Neeha malah memberi alasan bahwa ia dan Aca berjanji untuk menonton bersama. Jadi Neeha harus menolak tawaran Jordi.


"Bukannya kamu bakal dijemput suami kamu Nee?"


"Syut Aca, aku nggak mau diantar Jordi" Neeha setengah berbisik.


Aca akhirnya setuju dan ikut menelfon Suaminya. "Memangnya suami kamu kemana Nee?"


"Katanya bakal pulang terlambat"


"Ya udah, William juga udah kasih izin buat aku"


Rupanya mereka mengambil film dengan durasi lama. dan juga pergi jalan-jalan dahulu bersama.


"Udah lama ya Nee, kita nggak pergi berdua gini?"


"Iya sejak kamu nikah kali Ca"


"Ya udah kalo gitu kita pergi sampai malam gimana?"


"Ok aku setuju"


"Tapi nanti suami kamu nggak marah?"


"Ini urusan kita masing-masing Aca"


"Tapi kan tetap saja kamu dan dia sekarang sudah menjadi suami istri"


Neeha mengangguk. "Atau aku minta izin dahulu kali ya?"


Neeha mencoba menghubungi Langit namun tidak aktif. Memberi pesan juga tidak dibalas.


"Nggak direspon Ca"


"Apa jangan-jangan kamu nggak diizinin?"


"Masa sih Ca, udah biarin aja. Lagipula kan aku udah kasih tahu. Dia juga nggak kasih alasan kenapa pulang telat kok Ca"


***


Akhirnya, Neeha kembali ke Rumah setelah malam hari...


Neeha masuk, lampu tidak ia hidupkan berusaha mengendap sampai masuk kamar. Saat mengganti sepatu dengan sendal dengan memanfaatkan cahaya senter ponselnya, Langit menghidupkan lampu.


Siapa yang menghidupkan lampu ?

__ADS_1


Neeha berbalik, ia terperanjat karena Langit berdiri sambil menatapnya dan sebelah tangan menekan sakelar.


Langit melihat Neeha dari atas sampai bawah. Wajahnya sama, kaku dan datar.


“Darimana?” Langit bersikap dingin.


“Habis nonton sama sahabat aku” Neeha tergagap.


“Apa kamu sadar kalau kamu sudah membuat kesalahan?” Langit memandang dengan tatapan menyelidik.


Neeha menggeleng. “Mas aku mau mandi dulu”


Langit langsung pergi duduk di sofa. “Lekaslah dan turun !"


Neeha segera mandi, lalu keluar dengan memakai pakaian tidur. Langit yang melihat pakaian Neeha lalu memikirkan sesuatu.


“Kamu mau kemana?”


“Mau tidur Mas”


Saat Neeha ingin masuk ke kamar, Langit menghentikannya. Langit berjalan mendekat ke pintu, memegang tangan kiri Neeha yang masih berada di pintu.


“Cepat ganti pakaian dengan yang biasa lalu turun dan makan!”


Ada apa, apa perlu mengganti pakaian. Apa ia harus memegang tanganku segala.


"Tapi aku sudah makan Mas"


“Lakukan saja!.” Langit masih bersikap dingin.


Neeha menurut karena raut wajah Langit.


Neeha mengganti pakaiannya dan keluar. Lalu ia duduk di meja makan, karena Langit sudah duduk disana dari tadi.


“Neeha, kenapa kamu pulang terlambat. Saya gak makan malam demi menunggu kamu”


Ya terus urusannya sama aku apa. Dia yang gak makan malam ya salah sendiri, itu bukan salah aku kan.


“Ngapain mas nunggu, kita kan sepakat untuk tidak mencampuri kehidupan pribadi masing-masing” Neeha berusaha bebas.


“Meskipun begitu, kamu tetap harus menghargai saya sebagai suami, kamu ingat kesepakatan kita kan?" Langit kembali mengingatkan Neeha.


“Ingat, tapi kan aku udah ngasih tahu mas langit kalau pulang terlambat”


"Kenapa tidak bilang kalau pulang sangat terlambat, ini sudah larut?"


Langit mengarahkan tangannya pada jam dinding. Jam 12 malam...


"Ya mana ku tahu Kalau ternyata udah jam segini"


“ Kalau kamu sadar kesalahan, Ayo temani saya makan. Sayang jika mahakarya masakan saya ini terbuang sia-sia.” Langit mengambil makanan untuknya dan Neeha.


“Aku sudah makan mas. Kan bisa dihangatkan besok!"


"Besok rasanya sudah berbeda. Makanlah kalau kamu merasa bersalah karena pulang selarut ini dan membuat saya menunggu"


"Ya udah, tapi dikit aja ya Mas!"

__ADS_1


Langit mengambilkan nasi ke piring Neeha. Neeha ingin mengambil piring yang sedang diisi Langit tapi Ia tak berani.


Akhirnya, Langit mengisi piring sampai penuh dan menambahkan lauk yang sudah ia buat. Tak lupa, meletakkan piring itu di depan Neeha.


"Bukannya ini kebanyakan Mas?"


“Habiskan.” Langit berubah jutek.


Neeha terpaksa menyuap makanan itu. Susah payah Neeha menghabiskan makanannya.


Aduuh nggak bisa masuk lagi nih, rasanya udah begah banget.


...


Neeha tiba-tiba memegang perutnya.


“Kamu kenapa?” Langit melihat ekspresi Neeha yang menahan sakit.


“Mas kayaknya perut aku kepenuhan. Sakit banget mas.” Neeha merasa sangat sesak.


“Ayo berdiri. Sepertinya itu karena kamu makan tanpa jeda” Langit menarik tangan Neeha.


Mereka berjalan keluar dan terus berjalan bolak balik di pekarangan rumah yang dingin. Neeha tidak tau mengapa Langit menariknya dan tidak berbicara, sambil terus berjalan.


Ini Mas Langit memang aneh apa gimana sih. Tapi wajahnya udh kayak senior yang menghukum junior gitu, nggak Nerima bantahan apapun


Neeha tak tahan, berhenti dan menahan Langit. Rasa dingin menusuk jauh ke dalam kulitnya.


Melihat Neeha yang kedinginan, Langit segera melepas hoodie polos tanpa resleting yang ia pakai. Langit memakaikan hoodie itu pada Neeha, menyisakan baju kaos oblong lengan pendek di tubuhnya. Neeha yang masih planga plongo hanya bisa terdiam.


Baju ini memilik Aroma yang sama dengan...Ya jas yang dipakaikan mas Langit waktu itu.


Cukup lama mereka berjalan di sekitar pekarangan, sampai Neeha merasa cukup kelelahan. Hari ini ia habiskan untuk berjalan untuk sebagian besar. Siang hari sampai malam bersama Aca, malamnya bersama Langit.


“Mas, sebenarnya kita ngapain sih?. Kamu gak dingin mas?.” Neeha lalu bertanya krena kakinya serasa mau copot.


“Ya dingin, ini karena saya mau bikin perut kamu mendingan.” Langit terus berjalan.


Neeha tak bisa berjalan lagi. Kakinya sudah terasa ingin protes dan mogok jalan.


“Jadi ini buat perut aku. Kenapa gak daritadi ngomongnya mas, tiba-tiba narik. Kan bisa jalan di sekitaran ruang tamu, lantai dua dan sofa, meja makan, juga sekeliling ruangan rumah kita kan bisa mas” Neeha melihat tampang Langit.


Langit langsung berjalan meninggalkannya tanpa kata-kata. Aku nggak ngerti lagi ini orang begimana ceritanya Nggak ngomong dari tadi.


"Jadi gimana, perut kamu mendingan kan?"


"Iya sudah mendingan"


"Lain kali jangan pulang selarut ini tanpa memberitahu kamu kemana dan dengan siapa!"


" Iya Mas, tapi kamu juga nggak ngasih tahu kan Mas?"


"Saya nggak pulang selarut kamu. Lagipula, saya itu laki-laki, tidak akan d yang akan menggoda dan mengganggu saya di tengah jalan. Sementara kamu itu seorang wanita Neeha. Berhati hatilah!"


Bener juga sih


"Iya aku salah mas, Maaf"

__ADS_1


Bersambunggg...


__ADS_2