
Neeha dan Langit sudah berada di atas ranjang. Mereka sama-sama tidak tidur.
"Tidurlah, Besok kita harus olahraga pagi pagi!"
"Mas duluan saja, aku belum mau tidur"
"Ada yang kamu pikirin?"
Bilang gak ya... Tapi kalau aku bilang takutnya Mas Langit nyuruh aku nggak usah khawatirkan itu lagi.
"Mmm..."
"Ada kaitannya dengan saya?"
"Mas, kedatangan Sera dan Lasmi bukan hanya buat mengembalikan kardigan milik aku"
"Iya mereka curiga kan. Lagipula kita sudah sandiwara dengan bagus tadi"
"Bukan itu Mas, pasti Jordi bakalan kembali nggak lama lagi. Makanya mereka menyiapkan sesuatu"
"Kembali?"
"Iya Mas, Jordi itu sering melakukan perjalanan bisnis. Aku yakin bentar lagi dia pulang"
"Hubungannya dengan kamu apa?"
"Iih Mas" Neeha malas menjelaskan.
"Iya saya tahu kamu ingin dia percaya keharmonisan rumah tangga kita. Tapi apa yang perlu dikhawatirkan kalau ada bukti kita memang romantis"
"Aku khawatir gimana caranya ngadepin Jordi Mas, Aku tahu kalau dia suka aku kalau aku menghindar nanti dia...."
"Bersikap biasa saja seolah kamu tidak tahu menahu perasaan dia. Karena kalau kamu menghindar, dia mungkin akan lebih penasaran sama kamu"
"Gitu ya Mas"
******
Esok harinya....
Langit terbangun, tangannya sudah mati rasa sebelah. Karena semalaman Neeha menjadikan lengannya sebagai bantal.
Bukan itu saja, Langit sudah sebelas dua belas dengan guling. Neeha memeluk tubuhnya erat.
Langit ingin membangunkan Neeha, tapi ia justru berakhir dengan memandangi wajah istrinya yang polos tanpa olesan make-up tersebut.
Seorang gadis, tapi tidurnya sangat berantakan. Tapi kalau dilihat Neeha ini cantik juga. Apalagi saat ia tenang dan tidak bersikap kekanakan dan keras kepala, tidak banyak omong. Kelihatan anggun sekali.
Sedang asyik menikmati wajah istrinya, suara alarm justru membuat Neeha bangun. "Mas Langit?"
Karena kaget wajahnya terlalu dekat dengan tubuh Langit. Neeha menendang Langit hingga jatuh terpental ke bawah. Namun satu hal yang ia lupa bahwa lengan langit masih menopang kepalanya. Sehingga mereka berdua jatuh terguling ke bawah bersama.
Posisi Neeha berada di atas tubuh Langit. Tanpa sengaja bibir Neeha menyatu mencium bibir Langit.
"Aku-aku...." Neeha tergagap sambil mengusap bibirnya.
__ADS_1
Langit bangun, "Sudahlah itu ketidaksengajaan , ayo ganti pakaian olahraga!" Langit duluan sambil mengusap punggungnya, mengganti pakaian.
Bikin lengan saya keram, bikin punggung saya sakit, ditambah mencium bibir saya. Tapi dilihat dari ekspresinya, apakah itu pertama kalinya ia mencium bibir seorang pria?. Wajahnya memerah dan gugup seketika. Tapi bukankah dia punya banyak pacar sebelumnya?...
Langit tenggelam dalam prasangka yang ia pikirkan. Tapi ia tak mau peduli, itu bukanlah urusannya.
"Nee, ganti pakaian kamu dalam waktu 5 menit, lalu segera turun!"
"Nggak mandi dulu Mas?"
"Mana ada orang mandi sebelum olahraga, mandi sehabis olahraga. Sudah buruan saya tunggu di bawah!"
Dengan terpaksa Neeha mengganti pakaian olahraga dan ikut Langit. Neeha turun dan memakai sepatu olahraga pasangan mereka.
****
"Mas kita olahraga apa?"
"Peregangan saja dulu"
Sehabis peregangan, mereka ternyata lari pagi. Banyak juga warga daerah sana yang ikut berolahraga. Baru beberapa saat berlari, Neeha sudah ngos-ngosan.
"Mas... Hhuuh aku nggak kuat lagi Mas. Aku nggak ada tenaga, bahkan aku belum sarapan"
"Jangan mengeluh, bagus untuk olahraga sebelum sarapan, ayo terus lari!"
"Capek Masssss" Neeha mengeluh
"Ini baru olahraga sederhana. Kamu belum saya bawa ke Gym angkat beban, panjat tebing, lempar lembing, bola kaki, berenang, dan lainnya"
Hah pantas aja perutnya Mas Langit bisa sixpack kaya gitu
"Iya Mas, kalau kamu suka olahraga kenapa nggak jadi atlet aja sekalian?"
"Ngapain saya jadi atlet saat saya lebih suka sejarah. Lagipula ada Agung yang mewakili saya untuk atlet"
Neeha akhirnya tetap berlari dengan terpaksa meskipun tubuhnya kelelahan. Saat menyusul Langit yang sudah jauh di depan, Neeha melihat beberapa orang mengendarai sepeda.
"Mas kenapa kita nggak pakai sepeda aja!"
"Lari dulu, Minggu depan baru pakai sepeda"
"Sekarang aja gimana Mas?. Aku capek banget lari. Mas Mau gendong aku karena pingsan kehabisan tenaga dan nafas?"
"Ya udah kalau gitu..." Langit dan Neeha pergi ke tempat penyewaan sepeda.
"Yang ini aja Mas" Neeha menunjuk satu sepeda dengan boncengan di belakangnya.
"Kenapa yang itu, yang ini saja biar kita kendarai sendiri-sendiri"
"Aku nggak bisa...." Neeha memelas
"Maksud kamu, kamu nggak bisa naik sepeda?"
Neeha hanya tersenyum menatap Langit. Sambil mengedipkan matanya, Neeha mengangkat tangan memohon.
__ADS_1
Akhirnya terpaksa Langit menyewa sepeda dengan boncengan tersebut. Neeha hanya duduk di belakang memeluk pinggang Langit. Meskipun Langit risih, Neeha tak peduli. Sesekali Neeha berdiri sambil merasakan udara segar yang menampar wajahnya sejuk.
Setelah olahraga, mereka sekalian mampir ke pasar. Tentunya untuk membeli sayuran segar sesuai anjuran Langit semalam.
Neeha menganga melihat Langit yang begitu lihai menawar pada pedagang. "Keterampilan yang mengesankan"
"Kamu bilang apa?" Langit tidak mendengar karena suasana pasar cukup berisik.
"Kenapa kita nggak ganti baju dulu sih Mas. Ini baru keringat loh"
"Tanggung"
"Ouuw"
Tibalah di salah satu tempat pedagang yang menjual cabe. Langit sudah susah payah menawar tapi tidak berhasil.
Saat pedagang itu sedang melayani pelanggan lainnya, Neeha segera menarik Langit. "Mas Langit padahal punya duit kok nawar segitunya?"
"Bukan masalah punya dan tidak punya duit. Tapi harganya terlalu tinggi, hanya karena beberapa pedagang lainnya sudah kehabisan stok. Itu namanya curang"
"Bener juga ya Mas, dia nggak boleh jual dia tas harga pasar"
"Nah itu kamu tahu. Kita juga harus bisa menghargai pedagang lainnya"
"Ya udah Mas Langit serahkan saja sama aku"
"Emangnya kamu bisa?"
"Jangan remehkan kemampuan aku Mas"
Neeha mendekati pedagang tersebut. Pedagang itu bertanya apakah mereka jadi membeli atau tidak.
"Memangnya harganya nggak bisa kurang Paaaak..." Neeha memelas.
"Nggak bisa, tanya aja pedagang lainnya kalau mau yang kurang" tegas pedagang itu ketus.
"Ya udah Mas, meskipun kita baru menikah tapi kayaknya kita harus nahan diri buat nggak makan cabe"
Langit hanya menaikkan alisnya heran apa yang dilakukan istrinya.
"Kalian pengantin baru?"
Neeha mengangguk disertai ekspresi menyedihkan. Tak lupa Neeha melap keringat Langit yang bercucuran dengan bajunya.
"Kamu yang sabar ya.. Kita hanya perlu pergi ke pasar lainnya"
"Eh-eh jangan ke pasar lainnya, karena kalian pengantin baru saya kasih murah deh. Anggap sebagai selamat atas pernikahan kalian"
"Makasih pak semoga dagangan anda larisss manis"
"Baiklah baik"
Saat menyodorkan plastik berisi cabe pesanan pada Langit pedagang itu berbisik "Anda pintar cari istri, punya banyak ide"
Ya nggak pemilik restoran, nggak pedagang di pasar selalu mengatakan saya pintar cari istri. Kalian harus sadar apa yang terlihat belum semuanya. Bayangkan istri ini tak bisa apa-apa.
__ADS_1
Langit melihat Neeha yang bahkan tak bisa memutar arah sepeda yang terparkir sambil geleng-geleng kepala.
Bersambung.....