
Langit terkejut ketika bangun Neeha sudah melotot memandanginya.
"Ada apa Nee?" nyawanya belum kumpul semua.
"Mas Aku harus ngapain ya Mas? Disini?"
"Maksudnya?" Langit meregangkan tubuhnya.
"Apa aku harus kerja biar dipandang sebagai menantu yang baik?"
"Jadilah kamu apa adanya saja!"
"Nanti kalau Ibu dan Ayah nggak suka gimana?"
Ayah selalu meminta saya sabar dan beruntung ada kamu. Sementara Ibu selalu memuji kamu dan bahagia sama kamu.
"Tidak usah pusingkan hal itu!"
Langit pergi meninggalkannya untuk mandi. Seperti yang diharapkan dari Langit, tak ada saran yang begitu spesifik. Tak terlepas dari terserah kamu saja, bersikap biasa saja, Yasudah kalau begitu.
...****************...
Neeha membantu Ibu mertuanya dan Bi Inah. Sehabis itu, karena Langit masih sibuk dengan urusan kampusnya Neeha kini ikut Ayah mertuanya ke klinik.
"Ayah senang kamu mau ikut"
"Kan Ayah yang ngajak, lagipula Mas Langit kalau sibuk kerja nggak akan gubris aku Yah"
"Jadi biasanya dia begitu?" tanya Tuan Sanjaya heran.
Hah itu sama aja aku ngadu kalau kita menjalani hidup masing-masing meskipun suami istri. Gimana kalau Ayah curiga?. Neehaaa kamu bodoh banget. Aku harus cari cara.
Akhirnya Neeha berinisiatif untuk membeberkan kembali betapa Baiknya Langit padanya. Itu akan membuktikan bahwa mereka harmonis sama seperti semalam waktu ia bercerita dengan Ibu mertuanya dan Bi Inah.
"Ee enggak Yah, kadang kala Mas Langit juga perhatian, seperti ajak aku olahraga, memenuhi semua kebutuhan aku dan nyiapin makanan. Oh ya Yah, pas aku sakit baik itu berat maupun ringan, Mas Langit selalu siap siaga. Mas Langit bahkan selalu Siapin aku bubur Yah dan bla...bla..bla..." Neeha antusias menceritakan 3 bulan pernikahannya sama seperti Ayah mertua yang tak kalah antusias.
Setiap orang yang datang berobat. Tuan Sanjaya tak henti-hentinya mengenalkan menantunya. Dulu orang lain menyombong berapa asyiknya memiliki menantu. Kini giliran Tuan Sanjaya yang menyombong.
Neeha berperan sebagai menantu perempuan yang disenangi. Walaupun kepribadiannya memang mudah akrab dengan orang lain.
Bahkan berkat Neeha juga, para pasien lanjut usia di klinik tradisional Tuan Sanjaya cukup terhibur. Mereka merasa muda akibat Neeha mengajak mereka bernyanyi.
Namun saking asyiknya menghibur. Neeha sampai keceplosan bilang bahwa Langit suaminya bisa bernyanyi lagu-lagu klasik, semua orang jadi berharap dan akan datang esok hari.
__ADS_1
"Gimana dong Mas, aku janji besok bakal ajak Mas Langit. Bahkan besok mereka mau ajak pasangan mereka" Neeha memelas
"Makanya mulut kamu itu diberi filter Neeha!"
"Maaf Mas, tapi menghibur orang sakit juga tindakan yang mulia loh Mas"
Langit tidak mau ikut ke klinik tradisional Ayahnya juga. Langit sejak dahulu tak mau mewarisi klinik itu, ia sangat jarang datang dan sengaja membuat alasan.
"Saya tidak mau"
"Aku mohon Mas" Neeha sampai berlutut.
"Saya tidak pernah bernyanyi lagi selama bertahun-tahun. Saya sudah lupa"
"Apa yang Mas Langit ingat aja deh. satu lagu juga nggak apa-apa"
"Kalau saya bernyanyi bukankah itu terlalu membosankan"
"Kan bisa mainin gitar Mas" Neeha menunjuk gitar yang nangkring di atas lemari baju Langit.
"Kapan kamu tahu ada gitar disana?"
"Bi Inah bilang dulu Mas Langit suka mainin gitar itu kalau pulang ke rumah waktu masih remaja"
"Sekarang kan Mas Langit....udah tua sih. Eh tapi Mas Langit termasuk muda loh. Bayangkan saja para lansia yang bersemangat mau dengar Mas Langit nyanyi, mereka juga mau nostalgia Mas"
Akhirnya dengan beberapa bujukan Neeha yang terus menerus mendesak. Langit terpaksa harus ikut.
...****************...
Langit menyanyikan lagu yang membuat para lansia terhibur. Neeha begitu terkesima melihat suaminya yang saat ini, begitu tampan bernyanyi sambil bermain gitar.
Namun salah seorang Ibu-ibu meminta sebuah lagu. Tidak begitu klasik namun terkenal. Itu adalah lagu yang dimainkan oleh Langit di video dalam flashdisk waktu itu.
Itu kan lagu yang waktu itu. Apa Mas Langit akan ingat Michele lagi?
Tanpa diduga Langit menyanggupinya. Senar gitar ia petik, kini bukan Michele yang ia bayangkan. Namun justru Neeha, bagaimana Neeha yang ceroboh, Neeha yang kadang bodoh dan tak paham apapun. Atau Neeha yang kini menjadi dewasa dan begitu bijaksana.
Mereka saling bertatapan dan bertukar senyum. Hingga hampir di ujung lagu, senar gitarnya pun putus satu. Lagu terhenti dan semua orang terdiam.
Di saat begini, Neeha lanjut beraksi dengan idenya. Ia menghidupkan lagu klasik dari piringan hitam yang ia minta pada Tuan Sanjaya. Sebelumnya lagu itu disiapkan setelah Langit usai bernyanyi, namun dipercepat saja.
"Nah sekarang ayo kita menariii" ajak Neeha.
__ADS_1
Semua orang pun berdiri dan bersukacita. Neeha bahkan mengajak Langit ikut menari ikut irama.
"Ayo Mas berdiri!" Neeha menarik Langit masuk kerumunan.
Langit yang pada dasarnya suka hal klasik tentu ikut menikmatinya. "Darimana kamu dapat ide?"
"Dari otak aku lah Mas" Ia memegang menunjuk kepalanya.
"Ternyata otak kamu berguna juga" setuju Langit.
Salah seorang Kakek yang begitu semangat maju mundur kesana kemari sampai menabrak Neeha. Hingga Neeha terdorong ke depan dan memeluk Langit.
deg deg deg. jantung Neeha mulai berdebar.
Enggak ini pasti efek dari musik melow dan romantis. Atau karena aku udah kebawa suasana karena tadi Mas Langit keren banget mainin gitarnya.
karena Neeha masih memeluknya. Langit tidak berusaha melepaskan pelukan tersebut. Justru ia ingin sedikit menggoda Neeha dahulu.
"Neeha apa dada bidang saya begitu kekar dan nyaman?" tanya Langit berbisik di telinga Neeha.
Tanpa sadar Neeha meraba dan meremas dada Langit. Ia memainkan tangannya, begitu bidang dan macho sekali, pikirnya.
"Bagaimana, apa bagus?" tanya Langit sekali lagi sambil mengusap dadanya.
Neeha terperanjat dan tidak percaya apa yang ia lakukan hingga mendorong Langit menjauh. Wajahnya memerah karena malu dengan apa yang sudah ia lakukan. Neeha segera duduk menepi dan minum segelas air yang ia isi dengan terburu-buru sampai airnya menetes keluar.
Langit ikut duduk dan mengusap dagu Neeha yang basah "Belepotan sekali kamu minumnya Nee"
Kembali deg...deg....deg... jantung Neeha kembali berdenyut.
Apa aku mulai tersipu sama Mas Langit?. Kenapa?
"Neeha wajah kamu memerah atau bagaimana?. apa kamu sakit?" tanya Langit khawatir dan berniat mengusap kening Neeha.
"Enggak kok Mas, ini riasan aku. Riasan Pipi" tolak Neeha.
"Oo begitu ya"
Dari kejauhan Ayah mertuanya hanya memantau dengan senyuman bangga. Ia bahkan begitu senang melihat Langit sudah agak mencair.
Hingga acara hiburan itu selesai. Mereka merapikan tempat yang berantakan.
Akhirnya mereka pulang. Neeha membawa berbagai ramuan herbal dari ayah mertuanya. Tak lupa juga beberapa buah-buahan dari para lansia yang berterima kasih.
__ADS_1
Bersambung....