Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Tuan Putri Sehari


__ADS_3

Meskipun memasak digantikan Langit sepenuhnya, serta mencuci. Namun sepertinya Langit tidak mau Neeha full santai, sehingga Neeha tetap harus bersih-bersih.


Emang jahat ya, nggak bisa banget lihat aku santai sehari saja.


"Nggak bersih-bersih sekali Minggu ini gimana emangnya Mas?"


"Nggak bisa Nee, waktu kita bersih-bersih juga cuma saat libur ini kan"


"Iya deh iya"


Neeha sampai kelelahan saat mau tidur. Baru beberapa saat matanya langsung terpejam mengantarkan pada dunia alam bawah sadarnya.


Langit duduk di kamar kerjanya, Ruang yang sekaligus perpustakaan serta tempat koleksi tas Neeha tersebut membuat ia terus tak bisa fokus.


Langit akhirnya turun ke bawah, ia duduk di sofa dan mulai membuka Laptopnya. Akhirnya kini selesai, ia langsung naik lagi dan masuk kamar.


Langit terbangun dan mengacak rambutnya sendiri. Entah itu tangan Neeha atau kaki Neeha yang tiba-tiba menaiki tubuhnya membuat Langit terbangun.


Langit mencoba tidur dengan nyaman, tapi ia penasaran dengan wajah Neeha tidur. Apalagi sampai tidur gerak-gerik, menandakan bahwa Neeha kelelahan.


Langit menghidupkan lampu, berharap Neeha akan tersadar. Tapi tampaknya ia harus menelan kecewa, karena Neeha tidak bangun.


"Ia sangat berantakan bahkan dalam tidurnya"


Tapi apa yang ia pakai?.


Langit melihat Neeha yang baju tidurnya terlihat berbeda. Biasanya tampak tertutup, kali ini tidak. Memang sebelum tidur Neeha memakai baju tidur berkancing, tapi karena tidur Neeha yang kesana kemari membuat kancingnya terlepas. Langit menatap seluruh tubuh Neeha.


Apa yang kamu pikirkan Langit


Langit memukul kepalanya untuk sadar. Ia meluruskan tidur Neeha.


Apa saya juga harus memasangkan kancing bajunya?. Ah apa peduli saya, biar dia sadar saja besok.


Lampu dimatikan kembali. Malam berlalu hari satu hari terlewati.


***


Esok hari..


Neeha menarik tangannya, yang memeluk tubuh Langit mesra. Hampir setiap bangun tidur posisi Neeha selalu memeluk tubuh kekar Langit.


Untung aja Mas Langit belum bangun


Neeha sadar dan merasa ada yang aneh dari bokongnya. Ternyata tangan Langit berulah melakukan kesalahan.


Dasar laki-laki mesum.


Neeha berteriak. “Mas Langit..” Sambil menepuk pipi Langit.

__ADS_1


Langit terbangun karena rasa perih dan suara Neeha. “Kenapa kamu teriakk?"


Langit melihat Neeha yang mengisyaratkan agar ia menyadari dimana letak tangannya.


“Saya gak sengaja” Tapi tangannya tetap tak dilepas.


Neeha menyingkirkan tangan Langit. Duduk dan menyadari kancingnya yang terlepas. Lalu refleks menutupi dada dengan menyilangkan lengannya.


"Tidak usah ditutupi, saya sudah melihatnya. Sangat jelas sekali. Bukannya kita sudah saling melihat milik masing-masing ” Langit tersenyum jahil.


"Gak usah bahas yang udah lalu Mas!"


“Neeha, saya itu gak tertarik dengan tubuh kamu” ucap Langit dengan tenang dan tatapan sendunya yang menjengkelkan bagi Neeha.


“Oh ya, terus kenapa tadi pegang ini. gak tertarik tapi megang bokong aku” Neeha memegang bokongnya mengingatkan Langit.


“Saya sudah bilang kan, saya gak sengaja.” Langit berkilah, dia juga tidak sadar dengan kelakuannya.


"Oh ya" Neeha menaikkan alis.


“Gak ada gunanya saya jelasin, tapi saya nggak mau disalahkan sepenuhnya, kamu itu tidur sangat tidak teratur Neeha, kaki kamu naik ke kaki saya. tangan kamu juga kemana-mana, badan kamu udah kayak sirkus miring-miring"


Langit melihat ekspresi wajah tak percaya dari Neeha. "Aku nggak pernah tidur kaya gitu ya mas, tidur aku selalu cantik seperti tuan putri."


“Kamu pikir saya mengarang alasan ya saya nggak bisa apa-apa. Tapi kancing baju kamu bukan saya yang buka, saya berani sumpah Neeha, mungkin karena tidur kamu yang berantakan"


Langit melihat Neeha mengangguk. Namun Neeha tampak masih kesal.


“ saya akan melakukan pekerjaan rumah karena jari kamu terluka. Kamu akan saya layani, kamu bisa santai untuk hari ini” Neeha masih bungkam.


Hanya hari ini, lalu besok bagaimana, buatlah penawaran yang tidak bisa aku tolak Mas. Aku akan langsung setuju.


"Aku mau santai seminggu ini!"


"Kalau gitu, saya juga minta kompensasi karena kamu selalu memeluk tubuh saya semalaman" Langit berpikir sejenak "Kalau dihitung dari sejak awal kita tidur seranjang, hampir tiap hari kamu meluk saya jadiii"


Langit pura-pura menghitung kompensasi yang harus ia terima.


Eh jadi Mas Langit sadar kalau aku selalu memeluknya pas tidur.


"Kan aku nggak sengaja Mas," ujar Neeha


"Nah kamu nggak sengaja saya maklumin. Saya nggak sengaja kok kamu nggak terima. Bahkan saya sudah berbaik hati meminta maaf"


"Ya udah deh sehari ini aja Mas Langit ngerjain semuanya"


Neeha berlari ke kamar mandi. Tidak mau mendengar Langit memberikan penolakan.


***

__ADS_1


Mereka makan sarapan yang dibuat Langit. Saat asyik makan, Langit menggeser piring Neeha ke dekat piringnya.


“Mas aku juga mau makan sarapan, kok diambil?. Mas gak rela aku makan masakannya mas” Neeha berspekulasi.


“Jangan menyimpulkannya kalau otak kecil kamu gak bisa mencerna” Langit menyuapi Neeha.


"Tapi kan jari aku yang ini nggak kenapa-kenapa Mas"


"Anggap saja saya ikut bertanggung jawab atas luka di jari kamu. Saya juga bilang akan ngerjain semuanya sehari ini kan"


"Ooh gitu ya Mas"


"Masakan buatan saya enak Kan?"


"Gimana ya Mas, enak deh. Mas Langit bikinin bubur Lagii"


"Neeha ini tu..."


Neeha memotong "Iya Mas, aku tahu kok biar mempercepat proses penyembuhan. Meskipun aku cuma luka gores kena pisau"


Eh apa dia benar-benar akan memperlakukan aku sebagai tuan putri. Enak juga walau Cuma sehari. Seperti dilayani dengan sepenuhnya, tapi ini kan karena dia memegang, ah sudahlah.


Seusai makan, Langit menyuruh Neeha duduk di sofa. Neeha dengan patuh duduk di sofa menunggu Langit.


Langit mengambil kotak P3K dan meletakkannya di meja depan sofa. Mencari plester di dalam kotak itu.


Langit membuka perban Neeha, dan mengganti dengan plester. Ia melakukannya dengan lembut, seolah takut memperparah luka di jari Neeha.


Apa yang dia lakukan, apa dia punya kepribadian ganda, kadang menyebalkan dan Kadang membingungkan, kadang sangat datar dan kaku juga dingin. dan kadang bersikap jantan dan baik seperti orang normal. Kalau dia terus bersikap seperti ini, bisa-bisa ucapan Aca terbukti. Aku akan jatuh hati padanya.


"Sudah selesai"


"Oh selesai ya Mas" Neeha menarik jarinya.


"Ambil Ini Nee!" Langit menyodorkan sebuah plester.


"Buat apa lagi Mas, kan ini udah" Neeha mengangkat dan memainkan jarinya yang sudah diplester.


"Buat jaga-jaga kalau nanti plester itu kena air"


"Kan aku bisa beli nanti Mas"


"Bawa saja ini, hemat waktu dan tenaga!"


"Ya udah deh Mas" Neeha memasukkannya ke dalam tas.


Di Perusahaan Neeha juga begitu, Langit mengirimkan bubur. Seperti sebuah ciri khas saat Neeha sakit, Langit memberinya bubur.


Kalau dipikir-pikir Mas Langit ini memang Perhatian. Terlepas dari monotonnya dia, mau aku sakit apapun, berat atau ringan, dia pasti ngasih aku bubur.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2