Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Harapan Keturunan


__ADS_3

Agung selesai bertelepon dengan Ibunya. Ia masuk ke rumah, sengaja bertelepon di luar rumah. Padahal kemarin baru saja bertelepon.


"Ibu ngomongin apa sayang?" Ajeng membuatkan kopi.


"Mastiin kalo kita memang ikut acara kemah itu. Aku juga ngasih tahu kalo Langit dan istrinya bakal ikut. Kamu tahu nggak Ibu senang banget Langit bisa ikut" Agung meniup dan menyeruput kopi buatan istrinya.


"Kalau kita ketemu ibu. Apa ibu nggak akan..." Ajeng tertunduk.


"Aku akan selalu membela kamu. Ini bukan salah kamu, aku juga ikut berperan sayang" Agung memeluk istrinya.


Orang tua Ajeng dan Ibunya Agung selalu menyinggung perihal anak jika mereka bertemu. Memang, kehadiran buah hati selalu menjadi hal yang paling diinginkan dalam suatu pernikahan. Terlebih lagi pernikahan mereka sudah berumur 7 tahun.


Namun jika orang tua Ajeng yang memahami bahwa anak adalah anugrah dan tidak dapat dipaksakan. Ibu Agung tidak mau tahu hal itu, ia terus mendesak karena menikah adalah untuk meneruskan keturunan.


'Apa kalian tidak membawa kabar untuk cucu?'


'Apa kalian sudah ada tanda-tanda akan menghasilkan keturunan?'


'Kalian harusnya berusaha lebih baik, agar bisa cepat hamil'


'Menikah sudah begitu lama, apa tidak berniat untuk memiliki keturunan?'


'Ajeng kamu itu seorang Bidan. Apa tidak ada ilmunya yang membuat kamu bisa cepat berbadan dua'


Pernah di tahun ketiga pernikahan mereka. Bahkan Ibunya Agung menyuruhnya untuk bercerai.


Saat itu Agung menolak, sehingga Ibunya memberi saran untuk menikah lagi. Karena tidak tahan, Agung memutuskan untuk tidak terlalu sering mengunjungi Ibunya lagi, meminta Bibinya untuk tinggal bersama Ibunya agar ada yang menjaga sang Ibu.


Ajeng melihat dan mencoba berbagai program kehamilan. Ia sudah melakukan anjuran sesuai kesehatan karena ia juga seorang Bidan.


Namun karena bertahun-tahun cara itu tetap tidak mempan. Ia akhirnya ikut menerapkan saran-saran dari orang awam yang berhasil. Karena usahanya harus full untuk memiliki keturunan.


****


Sementara itu Nyonya Sanjaya, Ibunya Langit terus mendesak suaminya untuk datang menemui Putra dan menantu mereka.


"Bu, biarkan saja mereka!" Tuan Sanjaya tampak lelah, banyak pasien yang datang khusus menemuinya seharian ini.


"Ibu hanya mau menemui Neeha yah", terus mendesak.


"Ayah nggak mau, kalau Ibu Mau pergi hari ini, pergi saja sendiri. Nanti kita ganggu mereka Bu"


"ya sudah kalo gitu. Mana ada orang tua yang berniat mengganggu anaknya Yah"


"Ibu mau pergi sendiri?"


"Kenapa memangnya Yah?. Ibu mau melihat perkembangan mereka. Ibu iri sama orang-orang selalu menyinggung perihal cucu"


Setiap ikut acara dengan tetangga. Banyak yang membicarakan perihal perkembangan cucu mereka.


"Bu, menikah bukan hanya menghasilkan anak. Mereka harus saling.."

__ADS_1


"Ibu tahu Yah, tapi kan mereka sudah cukup lama menikah. Masa masih harus memahami?"


"Bu, Kita sebagai Orangtua dan mertua. Harus jadi lebih sabaran"


"Ibu sudah sabar Yah, Ibu hanya mau mereka menyegerakannya saja. Umur Langit itu sudah lewat kepala 3 Yah, kepala 3 " Nyonya Sanjaya mengangkat 3 jarinya.


"Mereka termasuk menikah karena terdesak dan dijodohkan. Tentu butuh waktu lebih lama Bu"


"Ibu paham betul mengenai hal itu Yah"


"Nah itu Ibu paham kan"


"Biarpun begitu, foto yang ditunjukkan besan kita sudah memperlihatkan betapa Mesranya mereka kok Yah" Nyonya Sanjaya kembali tidak sabaran.


"Bagaimana jika mereka terpaksa melakukan itu"


"Makanya Ibu harus membuktikan sesuatu Yah"


"Membuktikan apa Bu?"


"Membuktikan apa mereka memang sudah saling mencoba untuk memahami. Bukan hanya untuk dipandang serasi oleh orang lain. Tapi dari hati mereka"


Tuan Sanjaya mengangguk setuju dengan pemikiran istrinya. "Tapi Ayah nggak bisa hari ini Bu"


"Ibu saja yang mewakilkan Ayah" Dengan semangat Istrinya itu ingin pergi.


Tuan Sanjaya berdiri. Ia membuka laci berisi sebuah bungkusan.


Istrinya tersenyum merekah, "Makasih ya Yah, Ibu tahu Ayah pasti juga menginginkannya"


****


Langit berhasil menemukan file yang ia cari. Sehingga ia tidak harus menginap di asrama Kampus.


Langit menemui penjaga asrama. "Pak saya tidak jadi menginap, ini kuncinya"


"Sudah ketemu apa yang Pak Dosen Langit cari?"


"Sudah Pak. Untungnya ketemu"


"Baguslah Pak, apalagi anda sudah menikah. Tidak baik meninggalkan istri sendirian di rumah" Penjaga Asrama tersebut memasukkan kunci ke dalam berangkas.


"Iya Pak"


Walaupun saya lebih mengira Istri saya itu akan berbuat hal aneh.


"Sudah Pak, saya pulang dulu"


"Baik, hati-hati berkendara Pak Dosen Langit"


"Terimakasih"

__ADS_1


Sebelum pulang, Langit mendapatkan kiriman paket. "Oh Pak ini satu lagi"


"Ada apa Pak?"


" Tadi saya mendapat paket dari satpam yang mau menemui Anda, Atas nama Dosen Langit dan Neeha. Romi meletakkannya disini dan menyuruh saya menyerahkannya pada Anda


Namun karena Anda bilang tidak mau diganggu" Penjaga itu ragu-ragu memberikan paket yang terbungkus rapi itu.


"Oh tidak apa-apa Pak" Langit mengambil paket tersebut.


"Apakah itu bukan paket mendesak pak?. Saya..."


"Tidak Pak, tadi saya juga sempat bertanya pada Istri saya, dia bilang itu bukanlah hal penting" Langit pamit.


Bahkan dia bilang bawa besok saja atau buang sekalian.


Tertulis dari Sera dan Lasmi. Sebagai ucapan terimakasih pada Neeha.


Ooh dari wanita yang menyukai Jordi itu. Cinta mereka juga rumit.


"Mereka mengirimkan paket untuk rekan kerja tapi diantar ke kampus tempat saya mengajar. Bukan hanya kamu saja Neeha yang ceroboh. Semua anggota Perusahaannya sama saja"


Langit meletakkan paket itu di kursi samping. Ia menghidupkan mesin, mengendarai mobilnya pulang ke rumah. Karena belum terlalu malam, ia pikir Neeha juga pasti belum tidur.


****


Sera pergi ke toilet. Ia menelfon Lasmi. Setelah beberapa saat, Lasmi mengangkat panggilan.


"Halo Sera"


"Lasmi kamu udah kirimin itu kan?" tanya Sera.


"Udah dong. Langsung aku kirim ke kampusnya tempat Suami Neeha dengan nama mereka" tutur Lasmi bangga.


"Bagus deh, makasih banyak ya Lasmi" Sera merasa senang.


"tenang aja Sera, tapi kamu yakin nggak apa-apa?" Lasmi ragu paket itu mungkin akan membuat mereka dalam masalah.


"Mereka kan udah nikah Lasmi. Pasti mereka senang bukan main juga"


Paket itu membantu menguatkan hubungan suami istri. Bahkan mempercepat memperoleh keturunan.


"Iya juga ya. Eh kalau kamu disana gimana?"


"Udah nih hampir selesai juga, untungnya semua lancar aja. Jordi keren banget Lasmi" Sera tak dapat menyembunyikan perasaannya.


"Dimata kamu itu, kapan sih Jordi nggak keren"


"Iya, udah ya, aku ijinnya ke toilet. Ntar kelamaan lagi"


"Oke Sera, lanjutkan perjuanganmu" Lasmi menutup panggilan.

__ADS_1


Bersambung.....


__ADS_2