
Sepanjang perjalanan menuju rumah. Langit hanya diam dan fokus menyetir.
"Mas Langit marah aku bicara dengan Michele?" tanya Neeha memecah keheningan.
"Tidak"
"Apa Mas Langit marah aku datang kesana?"
"Tidak"
"Apa Mas Langit..."
"Nanti kita bicarakan di rumah" ujar Langit.
Biasanya kalau dibicarakan di rumah pasti ini masalah serius.
"Mas boleh hidupkan musik nggak?"
"Tidak"
"Kalau aku yang nyanyi?"
"Tidak"
"Kalau gitu Mas Langit yang nyanyi!"
"Tidak. Jangan bicara apapun sampai kita di rumah Nee"
"Masih jauh Mas. Bagaimana bisa kita nggak ngomong. Mas Langit kalau mau marah marah aja!"
"Nanti" jawab Langit.
Nanti?. apa Mas Langit benar-benar akan marah?.
Neeha berulang kali memikirkan cara untuk menghindar dahulu. Berpura-pura tidur?. Langit pasti bisa mengetahuinya. Pura-pura sakit?. Pura-pura keracunan minuman di acara tadi.
Tapi Langit adalah Dosen yang tahu mana mahasiswanya atau tudak. Mana yang berbohong dan tidak. Sudahlah, tak ada yang bisa dilakukan Neeha.
...**********...
Baru saja masuk dan memakai sendal pasangan mereka. Langit mengajak Neeha duduk di sofa dan mencecarnya seperti interogasi dadakan.
"Kamu kesana naik apa?"
"Taksi"
"Sopir taksi nya Laki-laki atau perempuan?"
"Ya laki-laki Mas"
"Neeha, sudah saya bilang kan jangan berpakaian seperti ini. Untung kamu nggak diapa-apain di dalam Taksi"
"Aku cuma mau dandan begini biar cantik Mas. Lagipula Sopir taksinya udah tua Mas. Dia bilang aku seumuran anaknya"
"Neeha kejahatan itu karena ada kesempatan bukan..."
__ADS_1
"Mas, emangnya kenapa sih Mas. Aku juga nggak cantik-cantik amat kan. Makanya Mas Langit buru-buru bawa aku pulang"
"Saya bawa kamu pulang karena nggak tahan kamu lama-lama disana"
"Mas Langit malu?"
"Bukan malu Nee"
"Terus apa?"
"Kamu terlalu cantik. Berapa banyak mata laki-laki yang jelalatan melihat kamu. Kamu tahu nggak, banyak yang masih jomblo di angkatan saya, gimana kalau mereka naksir kamu. Saya juga nggak mau orang lain melihat leher kamu yang indah. Hanya saya yang boleh melihatnya"
Langit berbicara panjang lebar. dan akhirnya
Krik-krik....hening.
"Maaf Mas, aku nggak akan berpakaian seperti ini lagi. Janji" Neeha akhirnya berbicara setelah mereka terdiam cukup lama.
"Saya harusnya yang membawa kamu kesana. Tapi saya hanya ingin kamu tahu, kalau saya awalnya tidak ingin ikut"
"Tunggu, kalau mas Langit menghindar. artinya masih ada rasa Mas"
"Neeha, tidak selamanya menghindar itu karena masih ada rasa"
Langit hanya tidak mau orang lain mengungkit masa lalu mereka. Apalagi yang tahu kalau Michele mengakui kesalahannya sendiri hanya Langit, Agung dan Ajeng.
Mereka sudah bersiap untuk tidur.
"Ngomong-ngomong apa yang kamu bicarakan dengan Michele?"
"Nee, sebanyak apapun kenangan saya. Itu hanya masa lalu" tegas Langit memegang tangan istrinya.
"Mas Langit jadi berubah. Apa Mas Langit mulai menyadari dan takut kehilangan aku" Goda Neeha.
"Iya"
Apa?. Aku nggak salah dengar kan. Mas Langit bilang iya. Dia takut kehilangan aku?
"Kalau gitu apa Mas Langit sudah bisa mencintai?" ragu-ragu Neeha bertanya.
"Iya, saya bisa. Saya Mencintaimu istriku"
Deg...deg...deg...
Jantung Neeha berdebar. Apa barusan ia menerima pengakuan cinta.
Dengan tatapan mata yang tulus. Langit meyakinkan Neeha bahwa perasaannya nyata.
Langit akhirnya sudah selesai membuktikannya. Sebelumnya Langit juga ingin sekali menyatakan hati, namun kedatangan Michele justru membuatnya takut disalahpahami Neeha.
Ia tak mau Neeha merasa harus dimanfaatkan untuk melampiaskan cintanya yang kandas. Neeha adalah cinta yang ia pilih bukan karena ingin membalas Michele.
Hal itu diperkuat saat di acara reuni. Bahkan meskipun ada Michele disana, Langit hanya memperhatikan Neeha. Ia marah saat orang lain menatap Neeha dengan tatapan yang lain.
"Oo jadi gitu. Aku tahu kok kalau Mas Langit itu bisa mencintai seseorang. Mas Langit hanya tidak mau mengakuinya."
__ADS_1
"Iya, saya memang lamban. Tapi sejak kapan kamu tahu kalau saya tidak mau mengakuinya. Bukan saat kamu menyatakan perasaan Nee. Saat itu sepertinya saya masih terjerat rasa bersalah"
"Bukan itu Mas, tapi sepertinya malam itu.." Neeha menutup mulutnya.
Wajahnya memerah dan jantungnya berdegup tidak aman. Dia tidak bisa mengatakannya atau nanti terlihat dirinya yang amat menginginkan hal tersebut.
"Ada yang perlu saya sampaikan Nee"
"Apa lagi Mas. Jangan bilang kalau penjelasan Mas Langit itu ternyata bohong"
"Bukan Nee, Jangan berprasangka dahulu!"
Setelah menarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Langit mantap untuk menjelaskan semuanya.
Bahwa ia mengingat dengan jelas apa yang terjadi malam itu. Malam panas yang dilakukan dengan ganas karena pengaruh Obat dari ayahnya dan vitamin dari Sera yang komplikasi.
"Mas Langit benar-benar ingat?. Semuanya?" Neeha agak gugup, jantungnya semakin berdebar.
Langit mengangguk. Jantungnya pun juga memburu tak kalah dari Neeha.
Apa yang harus saya katakan. Saya tidak bisa menundanya lagi. Apa saya harus langsung mengajak Neeha melakukan *****. Tapi itu tak sopan. Tapi bagaimana juga kami adalah suami istri. Bukankah wajar melakukan hal itu. Kami juga pernah melakukannya Sebelumnya.
Sementara Neeha.
Apa yang Mas Langit pikirkan?. Apakah wajar kalau aku minta dilayani?. Dilayani?. Aduh itu terdengar aneh. Apa aku menawarkan diri saja?.
Langit mendekat dan akhirnya wajah mereka beradu. Neeha agak terperanjat dengan suasana intens di antara mereka.
"Nee, saya ingin memilikimu. Bolehkah saya melakukannya kali ini?. Tanpa pengaruh obat atau vitamin" Langit merasakan gejolak dadanya.
"Kalau aku nggak mau. Apa Mas Langit akan mundur?" tanya Neeha.
Nafas mereka masih saling memburu menahan hasrat masing-masing.
"Saya waktu itu bisa menahannya. Kali ini pun saya juga bisa mundur, walau dengan tidak rela. Saya tidak akan memaksa kamu..."
Bibir Neeha beradu dengan bibir Langit. "Bukannya cara ini ampuh untuk membuat kamu berhenti bicara?"
Langit menyentuh bibirnya. "Neeha kalau saya dipancing. Kamu tidak akan bisa lagi lari atau menolak"
"Kalau begitu aku pasrah" tutur Neeha dengan senyuman.
Langit memegang belakang leher Neeha dengan tangan kanannya. Membiarkan bibirnya menyesap lembut bibir istrinya.
Neeha mengehentikan ciuman mesra itu tiba-tiba. Bukan karena menyesal, tapi ia menggunakan parfum yang sengaja ia beli waktu itu. yang gagal ia gunakan karena Langit pergi dan memilih tidur di depan pintu.
Langit memang seorang ahli. Tangan satunya sudah mulai meraba bagian lain. Bukankah waktu itu Langit seperti serigala di atas ranjang. Kini pun demikian, dengan lihai pakaian dibuang sembarangan.
Suasana begitu menggelora, ciuman yang tak henti-hentinya dilandaskan ke tubuh Neeha. Terutama bagian leher Neeha yang amat ia sukai.
"Shhhh ahhh"
Begitu juga Neeha, ia juga sudah lama menginginkan hal ini terjadi. Tubuhnya menggeliat menikmati apa yang dilakukan suaminya.
Malam ini akhirnya menjadi malam yang membuat dua insan yang akhirnya mengukuhkan perasaan menyatukan hati dan raga. Beberapa *******, erangan dan rintihan yang mengikuti bergantian. Malam romantis dengan kesadaran penuh baik Neeha maupun Langit.
__ADS_1
Bersambung....