
Telinga Neeha terasa gatal. Sepertinya ada yang sedang membicarakannya.
"Gitu Ya Ca" Neeha menutup Panggilan.
Aca memang tak secara langsung mengatakan bahwa Neeha itu pewaris. Tapi Neeha dengan kepintarannya dan kecurigaan yang mulai timbul tak mau berdiam diri.
"Siapa?"
"Aca Mas, dia bilang Meskipun Rinto Grup pernah jadi saingan Perusahaan punya Aron. Pasti ada alasan kenapa Aron memutuskan untuk kerjasama dan menghapus persaingan"
"Terus?" Langit melempar tatapan bingung.
"Aca nyuruh aku nggak harus khawatir tentang Saham lagi Mas"
"Baguslah kalau begitu" Langit duduk di samping Neeha.
"Kok bagus sih Mas, kan aku udah bikin rencana"
"Rencana apa lagi?. pinjam uang Sama orang-orang di sekitar kita?"
"Bukan Mas, lebih tepatnya di sekitar kamu" Neeha tersenyum jahil.
"Siapa yang mau kamu tawarkan saham itu?"
"Pilihan pertama sih Ayah, nggak jadi karena kamu nggak ngebolehin"
"Bagus nggak jadi kamu pakai "
"Ayah nyuruh aku nyimpan Mas, tetap saja nanti aku pakai"
Langit geleng-geleng kepala "Kamu masih kau pakai uang ayah?"
"Kalau terdesak Mas, kalau terdesak" Neeha menambahkan.
"Lalu siapa lagi?"tanya Langit
"Agung atau Ajeng?" Makin menggoda Langit, yang tidak mau disangka tidak bertanggung jawab.
"Mereka bukan pemilik dana simpanan Nee, jangan" Langit melarang.
"Aku pikir mereka punya cukup dana sih Mas yaudah deh" Kali ini Neeha yang membuat Langit kesal.
"Itu saja kan?" selidik Langit.
Kok Mas Langit biasa aja sih?. Nggak kalau biasanya aku dibikin kesal, dia juga harus
"Pemilik restoran sama dua mahasiswa kamu juga Mas"
"Hah?" Langit terperanjat tak percaya, "jangan sampai kamu meneruskannya Neeha, mau taro dimana muka saya"
"Muka Mas ya taro di wajah Mas. di kepala" Neeha menahan tawa.
__ADS_1
"Jangan Nee, saya minta kamu dengan baik!"
Ekspresi datar kaku Langit mulai bisa dibaca. Kali ini seperti peringatan jangan coba-coba.
"Rencana Mas, rencana Mas. Besok aku tanya Papa aja Deh. Gimana terkait Dananya" Neeha mengurut Dadanya.
Ketika Mas Langit jadi lebih ekspresif gini, akunya yang jadi ngeri.
...************...
Neeha duduk di kantor Papanya menunggu dengan bosan. Sampai-sampai ia bahkan tiduran, selonjoran di sofa.
Dunia ini terasa seperti miliknya, yang lain ngekos. Setelah beberapa kali hampir tertidur karena kelamaan menunggu Tuan Rinto yang super sibuk.
Papanya masuk bersama sekretaris kepercayaannya. Ia meminta ditinggalkan berdua saja karena ingin mengobrol berdua saja dengan putrinya.
Setelah sang sekretaris itu keluar, Neeha langsung mencecar Papanya "Papa harus jujur mengenai Dana Sahamnya?"
Meskipun sudah berusaha dialihkan oleh Tuan Rinto. Tetap saja ia tak mau merahasiakan lebih lama lagi.
"Sepertinya kini adalah saat yang tepat Papa menceritakan semuanya" Tuan Rinto menarik nafas dalam.
"Tunggu Pah, apa ini bukan sesuatu yang umum?" Neeha was-was, "Apa bisnis kita ilegal juga?"
"Kamu sudah dewasa, Apalagi dengan masalah Aron. Papa tidak mau kamu yang terbebani"
"Jadi benar Bisnis kita ilegal Pa?" Neeha tak mau menerima jika itu fakta sesungguhnya.
"Jangan menyimpulkan sendiri Nee!" tegur Tuan Rinto, "Bilang kalau kamu tidak mau mendengarnya!"
Kali ini Neeha yang membuang nafas. Selain pencerita harus siap, pendengar juga harus siap. Sehingga terbentuklah suatu kesepakatan bahwa mereka akan saling menerima.
"Enggak Pa, kini aku akan menerima apapun itu. Aku akan cari solusinya"
Tuan Rinto menerangkan fakta bahwa Neeha adalah pewaris tunggal kaya raya. Di luar yang dibayangkan Neeha selama ini.
Di sekitar Neeha, selalu ada yang mengawasi. Kerjaan mereka adalah memberantas hal yang membahayakan Neeha.
Jadi itu sebabnya aku selalu pindah sekolah ketika mendapat perlakuan buruk. Karena Papa yang awasi aku.
Bahkan sesuai tebakan Aca, Rinto Grup juga berperan dalam memberantas mantan pacar Neeha yang ingin mengganggu. Mencari tahu mengenai mantan pacar Neeha dahulu dan latar belakang mereka sehingga Neeha tahu seluk beluk mereka.
Melindungi Neeha dari tangan jahat, contohnya sewaktu 3 pria mengganggu Neeha. dan yang terbaru adalah melarang Jordi bertindak lebih jauh dan mengganggu ketenangan Neeha.
"Pantas saja Jordi agak jarang interaksi sama aku Pa" Neeha memastikan.
"Iya" Tuan Rinto mengangguk.
Setelah cukup lama mencerna semuanya. Neeha menatap Papanya kembali sendu.
"Jadi aku seorang pewaris tunggal kaya raya Pa?" Neeha terdiam beberapa saat, "kalau begitu pekerjaan akuu?"
__ADS_1
"Papa bersumpah tidak pernah ikut campur Pendidikan maupun pekerjaan kamu. Kamu meraihnya karena kerja keras kamu Nee"
Neeha merasa lega, setidaknya hal itu ia dapatkan sendiri "Makasih ya Pa"
"Tentu putriku"
Didalam hati Neeha ia sangat bersemangat dengan fakta bahwa ia pewaris tunggal. Ia langsung terbayang bagaimana nanti saat Langit tahu siapa dirinya. Tidak mungkin Langit akan rendah diri bukan.
"Lalu Saham itu?" tanya Neeha.
"Tidak usah kamu pikirkan. Hal mengenai Perusahaan, Biar Papa yang urus. Papa tahu kamu sangat ingin mandiri maka dari itu Papa juga tidak bisa menyerahkan Perusahaan ini sama Kamu, Papa takut kamu memikirkan Perusahaan hingga kamu stress atau botak"
Neeha menyentuh rambut panjangnya Bersyukur ia memang mengetahui hal ini sekarang. Sekaligus kini ia kembali terlihat sedih.
"Kenapa kamu Nee?"
"Kalau aku tahu lebih awal, aku pasti nggak akan ngejual mobil hadiah dari Papa dan aku nggak akan ngejual tas bermerek aku Paa, bahkan aku berniat pinjam uang buat menyelamatkan saham kitaaa" Neeha tertunduk lesu.
Tas kesayanganku, mobilku yang nyaman dan penuh kenangan.
"Kamu tenang saja, Sebenarnya sekretaris Papa sudah mengamankan semua barang kesukaan kamu itu"
"Benarkah Pa?" Neeha kembali bersemangat, suasana hatinya kembali ceria.
"Tentu saja, Papa pikir bisa jadi kamu merindukan mereka jadi Papa antisipasi"
"Papa emang yang terbaik"
"Iya dong, apa yang tidak untuk Putri Papa"
"Tapi gimana sama Mas Langit Pa?"
"Kenapa sama suami kamu?"
Neeha berpikir begitu lama. "Sebenarnya Nee mau ngomong sesuatu juga sama Papa"
Iya, perihal kesepakatan ia dan Langit. Awalnya Tuan Rinto marah, namun karena Neeha kini benar-benar menyukai Langit Tuan Rinto memakluminya.
"Jadi rencana putri Papa ini apa?"
"Aku mau bikin Mas Langit ngerasain cinta. Bukan karena tuntutan pernikahan atau janji sama kedua Mertua aku Pa, Tapi karena perasaan aku sendiri. Papa setuju kan?" Neeha agak ragu.
"Tentu saja Papa setuju" Tuan Rinto tak akan marah lebih dari 5 menit mengenai putri manjanya.
Tuan Rinto memilih Langit juga bukan tanpa Alasan. Ia tahu sikap dewasa putrinya juga karena peran Langit yang begitu banyak.
Mendengar kabar dari Neeha membuat Nyonya Rinto begitu bahagia. Bahkan asisten yang ada di rumah ikut berbahagia.
"Semoga aku dapat Cucu" Nyonya Rinto sangat bahagia.
Nyonya Rinto bahkan menemui besannya secara pribadi. Ia tak sabar menemui Nyonya Sanjaya, putrinya yang berkemauan keras pasti akan mendapatkan hati Langit dan mencairkan lelaki monoton itu.
__ADS_1
Bersambung....