
Setibanya di rumah, Neeha sudah sangat bersemangat. Langit duduk di sofa istirahat sebelum pekerjaan rutin mereka dimulai.
"Mas Langit, Hari ini biar aku yang masak ya buat makan siang"
"Memangnya kamu bisa?" Langit tak percaya.
"Jangan meremehkan gitu dong Mas" Neeha menaikkan bibir.
"Apa kamu mau memasak sambil melihat tutorial?"
"Iya"
Neeha tidak merasa ada yang salah dengan memasak sambil melihat tutorial. Bahkan di dalam video, mereka menyuruh langkah yang harus dilakukan seperti guru yang meminta siswanya mengikuti.
"Jangan, sebaiknya kamu ikuti arahan saya saja"
"Tapi aku udah sering kan bantuin Mas Langit masak. Aku biasanya kan ngikutin arahan Mas Langit terus. Sekarang aku mau masak sendiri Mas"
"Kenapa kamu tiba-tiba mau masak ?"
"Karena Mas Langit udah mau nemenin ke tempat tadi"
"Tapi saya nggak mau kalau nanti dapur saya itu" Langit ragu
"Tenang aja Mas, aku nggak akan nyentuh sembarangan"
Akhirnya mereka sepakat jika Neeha memasak tapi tetap diawasi Langit. Bagaimanapun juga, Langit tidak mau dapurnya hancur berantakan hanya karena ketidakmampuan Neeha.
.....
"Oke sekarang Mas Langit jadi pengawas dan aku masak sesuai keputusan kita!" Neeha langsung memakai sarung tangan.
"Tunggu!"
"Ada apa Mas?. Mas Langit masih nggak rela ya?"
"Bukan nggak rela. Lagipula kamu nggak akan mau saya bilangin"
"Betul, akhirnya Mas Langit sadar juga"
"Tapii, Kamu nggak pakai celemek Nee?" Langit menunjuk.
Neeha melihat Pakaiannya "Oh iya Mas, aku lupa" Neeha cengengesan.
Langit mengambil celemek..
Berlagak mau memasak, pakai celemek saja dia bisa lupa.
"Pasangin buat aku Mas!"Neeha membusungkan dadanya dan mendekat pada Langit.
"Kenapa harus saya?" Langit melempar celemek ke muka Neeha.
Wanita aneh, dia membuat saya salah fokus.
"Biasa aja kali Mas" Neeha terpaksa memakai sendiri celemek tersebut.
..
"Awwh Kebakaran"
Baru beberapa menit Langit pergi mengambil telur di kulkas. Teriakan Neeha sudah keluar.
__ADS_1
Langit menutup kulkas "Ada apa Nee? Kebakaran mana kebakaran "
Langit segera ingin membasahi kain meredam jika kebakaran masih kecil. Atau mengambil APAR jika api tidak bisa dikendalikan.
Tapi Langit melihat Neeha berdiri tanpa melihat percikan api sedikitpun. Langit berkacak pinggang.
Dia ini mau main-main rupanya
"Mas, ini kompornya gak bisa hidup ya?. Atau emang rusak, udah aku putar kok gak nyala-nyala daritadi?"
"Hanya karena kompor nggak nyala kamu teriak kebakaran?" Langit membuang nafas kesal. "Mungkin kalau kamu lihat Matahari gelap ditutup awan kamu bilang gerhana"
"Kok kamu bahas gerhana sih Mas. Gini-gini juga aku tahu gerhana kok Mas"
"Ya sudah, coba saya lihat" Langit mendekati kompor.
"Enggak Mas, aku pikir mau meledak karena aku nyium bau gas tapi apinya nggak ada"
Langit memutar tombol dan akhirnya hidup. "Kamu tidak menekan dengan benar baru memutarnya"
"Udah rusak kali Mas" Dengan santainya Neeha berceletuk.
"Ini masih baru Neeha dan harganya mahal. Seenaknya saja kamu bilang rusak"
"Ya Sorry" Neeha mengatupkan bibirnya.
"Memangnya kamu nggak pernah ngidupin kompor ya?"
"Iya" Neeha bernada seolah ia bangga
"Terus gimana selama ini?"
"Saya yakin sahabat kamu punya kesabaran tingkat tinggi"
"Iya karena emang cuma Aca sahabat aku. Dari SD smpai SMA aku selalu pindah sekolah jadi nggak punya teman"
"Kenapa?" Langit menambahkan "Kenapa kamu pindah terus?"
"Karena emang nggak cocok dan aku selalu dimanfaatkan orang"
Langit memandang Neeha agak kasihan "Kamu tidak instrospeksi diri dulu kenapa kamu bisa dimanfaatkan?"
"Aku nggak salah kok Mas"
"Jangan membela diri sendiri. Cobalah untuk mema...".
"Aku nggak salah..." Neeha memotong ucapan Langit dan menekankan bahwa ia tidak salah.
Langit hanya geleng-geleng kepala.
Aku cuma terlahir kaya dan baik. Apakah itu salahku? Kenapa aku yang harus instrospeksi diri sendiri sih. Mas Langit nggak tahu apa-apa malah nasehatin aku.
Neeha memotong wortel dengan pisau, namun pikirannya agak goyang. Karena kekesalannya pada ucapan instrospeksi dari Langit, pisau tajam melukai jarinya.
"Aww"
"Apalagi sih Nee?" Langit berusaha mengontrol diri
Neeha mempertontonkan jari telunjuk kirinya yang mengeluarkan darah "Ini Mas"
"Ya ampun" Langit panik. "Mengapa kamu tidak hati-hati Nee?"
__ADS_1
"Ini karena Mas Langit"
"Kok jadi salah saya?"
"Iya Mas Langit nyalahin aku yang nggak punya teman. Bukan aku yang salah Mas.. "
Langit memberhentikan Omelan Neeha "Tunggu, kita obati dulu luka kamu baru cerita ok!"
"Oke" Neeha mangut.
Langit mengambil kotak P3K yang juga berada di rak atas dekat dapur. Lalu ia memberikan alkohol dan perban pada luka Neeha.
"Kok nggak pakai plester aja Mas?. Kalo diperban kelihatannya parah Mas"
"Biar cepat kering. Besok baru ganti dengan plester," jelas Langit.
"Kayaknya Mas Langit ahli banget"
"Saya dan Agung itu sudah sangat sering cedera atau terluka karena kami hobi olahraga. Ini sudah makanan sehari-hari"
"Ooh gitu. Aku penasaran juga gimana Mas Langit bisa ngambil jurusan Sejarah dan bukannya olahraga"
"Saya rasa Ajeng sudah menceritakannya"
"No no, lebih mau Mas Langit yang cerita sendiri"
"Kamu harus lebih dulu menceritakan kisah kenapa kamu nggak pantas disalahkan Neeha!"
"Hehe iya ya"
Jadii, Neeha memang pada dasarnya manja. Ia memiliki asisten rumah tangga lebih dari 2 sejak kecil.
Semua orang disekitarnya mengira dia adalah orang yang bisa diperas. Namun Neeha tidak suka jika orang lain memperlakukannya demikian. Terlebih orangtuanya yang memiliki pengaruh dan kaya tidak mau anaknya yang pulang dalam keadaan sedih.
Itulah mengapa Neeha tidak memiliki teman. dan Aca adalah satu-satunya, orang yang menganggap Neeha sebagai orang normal tidak memanfaatkan kekayaan Neeha.
Bahkan Aca yang sering mengingatkan Neeha tentang mantan pacarnya yang hanya ingin memoroti kekayaan Neeha dengan memanfaatkan kebaikan Neeha.
Ketika ada mantan pacar Neeha yang mencoba mendekati Neeha lagi. Aca akan jadi tameng nomor satu dan berada di garda terdepan untuk menghembuskan mereka seperti angin.
"Bagus juga Aca sahabat kamu itu"
"Sekarang giliran Mas Langit!" Neeha menyibakkan rambut ke belakang telinga, biar lebih jelas.
"Nanti cerita waktu mau tidur, setelah saya masak dan beres-beres rumah"
Lah masih lama dong. Mas Langit ini mau ngasih harapan palsu rupanya.
Neeha berdiri, "Tapi kan aku yang mau masak Mas"
"Jari tangan kamu sudah kaya gitu masih mau masak?. Mungkin sebentar lagi semua jari kamu yang luka"
"Kok Mas Langit nyumpahin aku?" Neeha melihat jarinya miris.
"Saya nggak nyumpahin kamu, itu kemungkinannya Neeha"
Niat mau bantu masak.Ternyata tambah merepotkan.
Langit memasak dengan cekatan. Neeha menyantap juga dengan sangat lahap. Sementara Langit hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan wanita dihadapannya tersebut.
Bersambung.....
__ADS_1