
Langit membuka pintu, Neeha langsung menunggunya di depan pintu. Mencoba menghalangi pandangan Langit.
"Neeha, minggir karena juga mau masuk!"
"Mas Langit akuuu laperrr" Neeha mengelus perutnya.
"Ini belum jadwal makan malam kita, nanti saya yang masak biar cepat kamu tak usah ikut membantu!"
"Aku lapar banget Mas, pasti energi aku terkuras waktu masuk perkuliahan kamu" Neeha memelas.
"Sejak awal kamu hanya tidur Nee, jangan pikir saya tidak tahu. Kalau saya nggak tahu mahasiswi Aneh itu kamu. Saya sudah mengusir kamu keluar"
"Aku mohon Mas!" Neeha berkaca-kaca.
"Yasudah kamu mau makan apa?" Langit mengeluarkan ponselnya.
"Mas Langit mau ngapain?"
"Ya mau order makanan di **"
Nggak, Mas Langit nggak bisa masuk rumah sekarang. Mikir Neeha Mikiiir.
"Nggak Mas, aku mau makan sup yang waktu itu"
Iya Neeha benar. Pikirkan apapun asalkan Langit tidak masuk ke rumah. dan kamu bisa mengulur waktu.
"Yasudah" Langit mau masuk ke dalam.
Neeha segera mendorong Langit agar menjauh dari pintu rumah. Ia bagai laba-laba yang tangannya mengembang menghalangi siapapun yang ingin masuk.
"Kamu ngapain Nee ?. Kamu ngusir saya?"
"Enggak Mas ngapain kamu masuk?. Nggak pergi beli?. Aku udah lapar loh Mas"
"Saya ambil jaket dahulu Nee. Di luar dingin"
"Langsung aja Mas!"
"Dingin Neeha. Apa kamu tuli dan tidak memiliki perasaan. Saya kan juga beli buat kamu"
Neeha melepas jas milik Langit dan melemparkannya ke muka Langit "Ini bisa kan Mas", ia segera menutup pintu.
Mengapa saya menikah dengan wanita seperti ini.
Langit terpaksa menuruti keinginan istrinya. Ia menembus dingin yang menusuk kulit hingga bulu romanya berdiri.
...****************...
Langit membuka pintu, Neeha yang kaget sudah menelungkup keberatan karena tas yang melebihi muatan di tangannya.
Mas Langit beli supnya pakai sayap ya. Kok cepat banget udah balik.
"Oo jadi ini yang membuat kamu terburu-buru?"
__ADS_1
Langit meletakkan bungkusan sup yang masih panas di meja makan.
Langit mendekat dan mengambil salah satu tas. Melirik Neeha berapi-api yang kini hanya mampu berdiri mematung bagai murid yang ketahuan berbuat sesuatu di belakang Dosennya.
"Aku cuma bawa ini ke perpustakaan lagi kok Mas" Neeha menurunkan nada suaranya hingga hampir tidak terdengar.
"Saya yakin nggak cuma ini" Langit mengangkat dan menunjuk tas tersebut.
Tatapannya mengartikan, mana yang lainnya hingga sampai ia kembali dari membeli sup Neeha belum selesai membereskannya.
Langit mengedarkan pandangan, Di sofa menang masih tertumpuk banyak tas. Selain itu, pintu kamar tamu terbuka.
Neeha menyadari, ia membuang tas-tas yang ia dekap. Jangan sampai Langit tahu bahwa di kamar tamu sudah ada gunungan tas.
"Jangan Mas!! Nggak ada disana kok", ia memegang lengan suaminya, menghentikan Langit sekuat tenaga.
Langit seorang Dosen dengan gelar S3. Ia sudah hafal gerak-gerik mahasiswa sejenis Neeha. Kebohongan yang terlalu kentara, pikirnya.
Langit melepaskan tangan Neeha, membuka kamar tamu, penuh tas model lainnya. Ia mengusap tengkuknya berusaha mengontrol emosi.
"Neehaaa "
"Mas Langit aku mohon.."
Neeha berlutut dan mengatupkan kedua tangannya. Saat ini hanya satu yang ia inginkan, selamatkan...selamatkan tas-tas kesayangannya tersebut.
"Segera jual kembali Neeha!" Perintah lelaki yang kini berubah menjadi dingin.
"Apa karena sayang kamu menginginkan mereka?"
"Iya, aku,, aku juga sayang Kamu Mas"
Kruk...krik keheningan melanda. Neeha yang tak bisa memikirkan ide lain serta Langit yang tak percaya ucapan barusan melantur dari bibir Neeha.
"Apa hanya demi tas kesayangan kamu ini. Kamu berbicara yang tidak-tidak?"
"Bukan demi tas, aku nggak tahu kapan mulainya tapi aku sadar kalau aku jatuh cinta sama Mas Langit"
Glekk,, sekali lagi. Langit tidak bisa berkata-kata.
"Neeha kamu tahu kan sejak awal kesepakatan kita..."
"Aku tahu Mas, Tapi aku juga nggak bisa kontrol perasaan aku"
"Silahkan kamu simpan tas-tas kamu dan lupakan apa yang barusan kamu katakan. Anggap saya tidak pernah mendengarnya"
"Tapi Mas Langit udah terlanjur dengar. dan aku nggak bisa narik kata-kata aku Mas. Aku serius"
"Neeha saya tidak bisa mencintai kamu"
"Kan kamu nggak harus jawab begitu Mas!"
"Kamu sudah tahu juga bagaimana saya kan"
__ADS_1
"Aku nggak mau dengar. Setidaknya kamu juga harus mencoba untuk membuka hati kamu Mas"
"Saya tidak mau menyakiti siapapun lagi Neeha"
"Bukan itu intinya, Mas Langit masih cinta sama Michele?" tanya Neeha.
"Saya tidak mencintainya jangan singgung dia, karena saya sudah melupakannya!"
"Terus kenapa Mas Langit nggak bisa mencintai lagi?"
"Karena hal itu nggak mungkin terjadi kalau bukan karena saya, puas kamu"
Kalau saya tidak berbuat yang tidak ia mau. Kalau saya tidak membuat ia kecewa, hal itu mungkin tidak terjadi. Gadis sepolos Michele tidak akan dengan mudahnya mengaku kalau ia sudah tidur dengan orang lain.
Neeha berkaca-kaca dan hatinya amat pedih. Pengakuannya tidak ditolak namun ia dilarang membuat pengakuan cinta.
Tetapi melihat Langit justru hatinya lebih pedih, ia tak mau Lelaki yang kini sudah ia cintai masih terjerat dengan masa lalunya. Menyalahkan diri sendiri karena pasangan yang tidak setia.
"Mas Langit masih belum bisa Nerima hal itu kan. Itu bukan salah mas Langit, adalah salah jika pasangan memutuskan selingkuh sebelum menyelesaikannya dengan pasangannya Mas"
"Neeha saya,,," Langit tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Neeha menghentikan Langit bicara "Mas, tidak ada pembenaran untuk selingkuh. Karena hubungan harus dilandasi oleh kepercayaan. Kalau selingkuh berarti yang rusak adalah inti dari hubungan Mas, kepercayaan yang mereka rusak"
Langit hanya diam, ia tak bisa membantah Neeha. Langit juga tahu bahwa Neeha adalah orang yang diselingkuhi.
Situasi mereka berbeda, Langit tidak tahu mengapa Michele melakukannya padahal mereka saling mencintai. Bahkan sehari sebelumnya mereka masih santai merencanakan pendidikan dan pernikahan bersama-sama
Tapi jika Neeha mencintainya. Bukan tidak mungkin nantinya Neeha akan menjadi seperti Michele, berubah menjadi sosok yang tidak ia kenal.
Neeha mengambil nafas panjang sekali lagi "Mas, jangan pernah mencoba melupakan dia, tapi kamu harus coba Nerima apa yang sudah berubah dari dia Mas, dia menduakan kamu"
"Neeha stop!. Langit tidak mau mendengarnya lagi.
"Mas dia sudah jadi istri seseorang kan. Meskipun istri simpanan tapi dia juga punya kehidupan sendiri sudah 8 tahun juga kan sejak terakhir kalian bertemu..."
"Neeha Saya lelah" Langit kehilangan energi untuk berdebat.
Sebelum Neeha bicara lagi dan meminta Langit mengingat pengakuannya. Langit sudah memberikan peringatan.
"Jangan bahas ini, sebaiknya urus tas-tas kamu. Saya nggak bisa melihat tumpukan itu lagi!" Langit berjalan naik ke kamarnya.
Yah balik lagi ke masalah Tas, Padahal bahasan kita barusan udah serius banget.
"Mas Langit nggak makan sup dulu!"
"Saya sudah kenyang" Balasan dingin dari Langit menutup hari melelahkan mereka, sementara pengakuan yang melebar kemana-mana.
Akhirnya Neeha terpaksa tidur dengan tas-tas kesayangannya di dalam kamar tamu. Langit masih menyuruhnya untuk instrospeksi diri dan melupakan semuanya. Sementara Neeha tetap tidak mau.
Bersambung...
...************...
__ADS_1