Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Secepatnya


__ADS_3

Neeha memeluk Aca. Sambil menenteng kardus berisi barang-barang miliknya.


"Kamu beneran mau berhenti Nee?" Dengan raut kekecewaan Aca menatap sahabatnya.


"Tenang aja Aca, Sementara aja kok. Nanti aku kembali. Setelah masalah Perusahaan selesai"


Ini anjuran Tuan Rinto agar Neeha tidak menjadi sasaran empuk bagi Aron dan suruhannya. Catatan pekerjaan Neeha juga sudah dipastikan bersih.


"Kapan?" tanya Aca lagi.


"Secepatnya" Neeha tersenyum.


"Ya udah" Aca pasrah.


"Tapi Aca, kenapa kamu mutusin buat nggak ikut Camping?. Padahal kalau ada kamu. Pasti lebih seru"


"Bilang aja kamu mau aku membuat kalian dekat kan?" Aca curiga


"Hehe" Neeha berjalan pergi. "Eh tunggu, alasan kamu nggak ikut apa?."


Masih saja Neeha penasaran. Aca hanya menjelaskan bahwa ia tiba-tiba harus menyelidiki sesuatu yang sangat mendesak.


Neeha hilang dari pandangan. Aca tertunduk dan kembali. Sebenarnya Aca bertengkar hebat dengan Wiliam, karena suaminya itu begitu fokus dengan pekerjaannya.


...***********...


Jordi hanya mampu melihat Neeha dari jauh. Hanya sedikit basa-basi perpisahan yang ia lontarkan kepada Neeha.


Seiring waktu berlalu, tampaknya Jordi juga mulai menghilangkan perasaannya pada Neeha. Ditambah lagi Sera yang kini sedang dekat dengannya.


"Kamu nggak apa-apa Jordi?" tanya Sera.


"Emangnya kenapa?. Aku hanya rekan kerja dengannya"


Sera mendapatkan isyarat semangat dari Lasmi. Tidak ada Neeha, pastinya Sera akan punya banyak kesempatan pada Jordi. Ditambah lagi Sera sudah jadi rekan tetap dalam perjalanan Bisnis bersama Jordi.


...*********...


Kesempatan mengundurkan diri itu bukanlah hal yang merugikan Neeha. Dia akan melakukan sesuatu selagi menikmati pekerjaan barunya sebagai pengangguran.


Seperti saat ini, Neeha duduk Menunggu sosok yang akan ia Pepet terus-menerus. Di meja terbuka tempat para Dosen biasa makan. Ia memainkan Ponsel mengambil beberapa selfie.


Agung menarik Langit agar bergabung dengan Neeha.


"Kamu ngapain kesini Nee?" tanya Langit

__ADS_1


"Ya menemui suaminya lah. Ya kan Meha?"


"Heh, masih saja memanggilku Meha" sungut Neeha.


Agung duduk berhadapan dengan mereka seusai mendorong Langit agar duduk di samping Neeha. Agung juga antusias mengatakan bahwa ia dan Ajeng akan mengikuti program bayi tabung.


Setelah Agung dan Neeha puas bercakap-cakap. Agung sadar diri dan segera pergi untuk memberikan privasi pada suami istri itu. Agung juga pastinya lebih mendukung Neeha dibandingkan mantan terindah sekaligus menyakitkan bagi Langit.


Melihat Neeha yang Santai dengan minumannya, Langit memastikan sekali lagi apa yang mau dilakukan Neeha. Karena setiap Neeha mengunjungi kampusnya, selalu terjadi hal yang tak terduga.


"Aku mau jadi asisten Dosen kamu aja gimana Mas?"


"Kamu bukan jurusan Sejarah. Kamu bahkan bukan lulusan kampus ini Nee"


"Maka dari itu aku cuma bisa mengunjungi Kamu seperti ini Mas. Tadi pas ngelamar buat jadi petugas kantin Bibinya marah-marah bilang aku nggak becus. Jadi tukang fotokopi juga dia marah-marah karena aku nggak sengaja jatuhin beberapa kertas. Untung saja aku bisa ngasih dia uang buat tutup mulut" jelas Neeha panjang lebar.


Membayangkan bagaimana Neeha melalui itu semua membuat Langit tertawa. Entah mengapa hal itu terasa lucu baginya.


"Akhirnya kamu tertawa Mas, ini seperti penantian panjangku akhirnya terkabul loh"


Langit kemudian terdiam. Sadar dengan apa yang barusan terjadi.


....


Seketika senyuman di wajah Langit lenyap. Ia pikir kehadiran Michele tak akan mempengaruhinya. Namun melihat Neeha membuatnya bimbang. Bukan karena Michele, tapi Neeha yang ia takutkan.


"Saya adalah Dosen, dan acara ini bekerjasama dengan kampus jadinya..." Langit menatap dua bola mata istrinya, keraguannya dengan pendapat Neeha.


"Aku tahu kok. Mas Langit harus ikut kan. Aku dengar kalian bakal sibuk disana" Neeha memainkan sedotan di minumannya.


"Saya benar-benar akan profesional disana. Saya tidak akan menyinggung apapun lagi dari masa lalu saya..." Langit berhenti bicara, Neeha menahan senyum padanya.


"Biasanya Mas Langit tidak banyak bicara. Aku percaya sama Mas Langit kok" Neeha tersenyum lagi.


Neeha kemudian pamit untuk duluan pulang. Ia berbalik sesaat dan melambaikan tangan pada Langit. Rambut panjangnya yang hitam terurai tertiup angin. Neeha benar-benar cantik. Sangat cantik, lebih dari biasanya.


Langit tak mengalihkan pandangannya sedikitpun hingga Neeha benar-benar pergi. Ia merasakan jantungnya berdegup kencang.


"Apa saya sakit jantung?. Apa perlu saya periksakan ke Rumah Sakit Universitas?. Atau sama Ajeng saja?" Langit mengusap jantungnya.


Langit melihat sedotan yang diputar dan dipelintir oleh Neeha. Juga selebaran yang dicolok pada bagian wajah Michele. Langit tahu Hal itu sangat kekanakan, Neeha pasti sedang kesal setengah mati makanya buru-buru pulang.


Anehnya, Langit justru merasa hal itu lucu, Kenapa sifat kekanak-kanakan Neeha tidak membuatnya marah lagi. Sepertinya dia menerimanya lebih dari sebelumnya.


...************...

__ADS_1


Neeha menemui Ajeng sekaligus memperkenalkan Aca dan Ajeng. Sekaligus mengatur rencana untuk Pameran Museum yang pasti mempertemukan Langit dan mantannya.


"Jadi kamu ingin memperkenalkan kita dengan tujuan itu Nee?" Aca merungut kesal.


"Aku juga sampai kelabakan cari alasan biar nggak ngajakin Agung ikut. Aku bilang ini khusus para wanita karir saja" Giliran Ajeng yang mengeluh.


"Bukannya kini kita bertiga sudah sehati, aku butuh kalian" Neeha memanyunkan bibirnya.


"Kamu terlalu tua untuk manyun-manyun gak jelas begitu Nee" hampir saja Aca menepuk bibir Neeha.


"iih, nggak apa-apa, kalau kalian punya keraguan dan kekhawatiran juga aku pasti bantu" Neeha meyakinkan mereka.


"Aku pasti bantu, kamu juga udah pernah bantu aku kan" ujar Ajeng menawarkan diri.


"Nah gitu dong Ajeng" Neeha merasa bahagia.


"Kapan kamu bisa bantu kita?" Aca sedikit sinis.


Kamu nggak akan ngerti kalau aku omongin Neeha. Kamu nggak akan percaya tanpa bukti yang jelas. Kamu hanya berpikir Wili baik.


Melihat Aca yang sudah berpikir jauh dan dalam, Ia menyentuh pundak Aca. "Secepatnya" tegas Neeha pasti.


"Maksud kamu Nee?" Aca berdiri.


Bukan berarti Neeha mendoakan Aca punya masalah yang melibatkan Neeha. Tetapi secepatnya apabila Aca sendiri berani jujur dan menghadapi permasalahan tersebut.


Neeha tahu kalau Aca akhir-akhir ini sering lembur di kantor. Neeha juga sebelumnya sudah menemui Wiliam. Apa yang terjadi pada Aca, tak mungkin ia abaikan begitu saja.


...************...


Di tempat lainnya...


Michele duduk termenung di sofa berwarna hitam. Suaminya sudah pergi lagi meninggalkannya.


Para pelayan ingin memberikan Minuman namun Ia menolak. Ditawarkan untuk dibantu membersihkan diri juga ditolak.


Michele merapikan pakaiannya yang urakan. Dia adalah istri simpanan, seusai berhubungan dengan suaminya, ia biasa ditinggal sendirian seperti ini. Memang dia ditemani para pelayan bak wanita kaya, tapi raga dan hatinya selalu merasa kesepian.


Sudah 8 tahun lamanya, dan selama itu pula dirinya bagaikan pungguk yang merindukan rembulan. Ia masih ingin terbang namun sayapnya terasa rapuh dan sudah patah.


Michele berharap, acara Pameran Museum itu bisa terlaksana secepatnya saja. Ada sosok yang harus ia temui. yang tanpa sadar ia harapkan membebaskannya.


Ketika Langit berjumpa kembali dengannya, ia akan merasakan kehangatan itu kembali. Kehangatan Pria yang mencintainya sepenuh hati dan begitu tulus.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2