Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Membuat Kesal


__ADS_3

Ketika masuk supermarket, Langit langsung mengambil troli belanja dan mendorongnya menelusuri tiap rentetan barang yang dijual dalam rak-rak tinggi dan tersusun rapi.


Neeha mengikuti suaminya, matanya dari awal tidak terlepas dari makanan instan yang berlimpah. Snack, kripik dan Mie instan.


"Kita beli kebutuhan hidup, bukan jajanan!" Langit memperingati.


"Iya Mas, aku tahu kok" Neeha lalu mendekati rak sayuran. "Ini aja Mas, warnanya bagus pasti sayurannya lebih sehat"


Langit meletakkan kembali sayuran yang diambil Neeha. "Beli yang lainnya saja, kalau sayuran kita beli besok di pasar!"


"Hah, selain olahraga pagi, kamu juga mau aku beli sayur di pasar gitu Mas?"


“Olahraga pagi demi kesehatan, beli sayuran di pasar biar kita bisa dapat banyak dan lebih segar dan sehat. Oh ya satu lagi, otak kecil kamu itu gak akan paham dengan perhitungan saya.”


"Ooh iya deh terserah Mas Langit aja, kan otaknya Mas Langit lebih besar aku yang punya otak kecil mana paham" Neeha memonyongkan bibirnya.


"Kamu kesal karena saya bilang otak kecil. Beruntung saya nggak bilang otak udang"


Harus ya, tiap kata-katanya selalu berujung dan dilengkapi dengan sindiran. Otak udang?. Dia bilang aku sebodoh itu apa?


Karena Neeha sedikit sebal dengan ucapan Langit, ia berencana membeli berbagai benda yang kebetulan di lihatnya saja, ditambah melakukan hal yang membuat Langit mengelus dada.


Awas saja Mas Langit, kamu bilang aku otak kecil bahkan otak udang. Silahkan ladeni istri otak kecil ini. Aku akan bikin kamu kesal. Neeha tersenyum licik.


Neeha memelas dan mengeraskan suaranya untuk meminta Langit mengizinkannya membeli berbagai makanan instan. Langit yang malu, terpaksa menyetujui hal itu dan menahan diri saat satu persatu makanan yang tercatat di dalam kamus hidupnya tidak sehat dan tidak higienis masuk ke troli belanjaan.


Rasain kamu Mas, Nggak bisa nolak kan


Mereka terus berjalan menelusuri tiap-tiap bagian rak. “Ayo kita beli cangkir ini mas!”


Neeha menunjuk cangkir pasangan yang menyatu membentuk hati dengan satu cangkir bewarna merah muda dengan gambar kucing betina. Sementara cangkir lain bewarna biru bergambar kucing jantan.


“Buat apa, kan ada gelas di rumah. Warnanya dan gambarnya juga norak dan kekanakan sekali” Langit berlalu.


“Bagus tahu Mas, biar hidup kamu lebih bewarna dan menggemaskan kayak kucing ini” Neeha masih terus memegang cangkir pasangan tersebut.


“Buat apa bikin hidup bewarna, nggak ada warna juga kita nggak akan mati”


Neeha tetap mengambil cangkir itu dan memasukkannya ke troli. Neeha benar-benar tertarik karena gambar kucing itu begitu menggemaskan. Bukan hanya karena ia ingin membuat Langit kesal.

__ADS_1


“Beli aja mumpung harganya lebih murah kalau yang pasangan daripada beli yang Cuma satu ya Mass yaaa”. Neeha memelas sambil memanyunkan bibirnya. “Aku suka cangkirnya Mass, lagipula ini diskon tahu Mass harga pasangan”


Dasar ibu-ibu, gak tau kalau dia sudah ditipu trik marketing. Langsung saja matanya segar tiap lihat diskon


Tapi tetap saja akhirnya Langit membiarkan Neeha memasukkan cangkir tersebut ke dalam troli. Ia malu dilihat orang lain dan takut disangka pelit.


“Ayo kita beli ini mas.” Neeha mengambil sendal rumah untuk pasangan bergambar kucing juga.


"Apa?. kelihatannya kita salah jalan, ayo pindah ke rak yang lain!"


"Nggak Mas" Neeha mendekap lengan Langit dan memanyunkan bibirnya lagi, memelas.


“Kamu punya obsesi apa sih sama kucing.Kalau kamu mau, beli aja kucing sekalian buat dipelihara!” Langit sudah kembali ke wujudnya, rewel, kesal dan kesal ditambah ekspresi datar yang berusaha diperlihatkan.


“ Aku gak bisa melihara kucing, repott. Belum lagi biayanya, perawatannya bahkan bisa lebih mahal dari aku, tapi tetap saja karakter mereka imut ya kan” Neeha meminta pendapat Langit.


“Anggap saja iya. Kamu bahkan membandingkan biaya perawatan kucing dengan kamu” Langit geleng-geleng.


Neeha tetap mengambil sendal itu dengan alasan dapat potongan harga jika membeli yang pasangan. Neeha juga menyesuaikan dengan ukuran kaki Langit yang dengan enggan diukur serta kakinya sendiri. “Pas betul” Ucap Neeha dengan bahagia.


“Sebenarnya ada alasan aku milih kucing” Neeha berhenti berjalan dan menahan lengan Langit.


“Kucing punya banyak waktu istirahat, bahkan dia bisa tidur 14 jam sehari. Aku iri Mas, kucing adalah inspirasi aku dan sumber kedengkian hati” Neeha kembali berjalan.


Ternyata karena dia iri dengan kehidupan santai kucing. Lah, bagaimana dengan saya yang bahkan sempat tak tidur saat dituntut oleh kampus, saya yang harus ngajar mahasiswa bandel dan bawel sementara kucing ngak ngapa-ngapain. Harusnya kucing menjadi dendam kesumat buat saya.


"Jadi gimana Mas? Boleh kan... Boleh yaaa"


Terpaksa, karena Langit malu dilihat oleh orang lain. Membiarkan Neeha mengambil sendal itu.


Neeha memasukkan berbagai bahan makanan yang bahkan ia tak tahu cara mengolahnya. Langit lalu kembali meletakkan barang itu ke raknya semula.


Selain itu, Neeha bahkan mengambil barang-barang seperti pisau, sikat gigi, topi, sarung tangan, yang semuanya untuk pasangan.


Memasak nggak bisa, milih bahan makanan pun nggak bisa. Beli apapun cuma karena alasan lucu dan diskon. Derita saya harus bertanggung jawab dengan istri seperti Neeha. Semoga dia cepat bertemu jodohnya, sehingga kita bisa berpisah.


Mereka sampai ke bagian pakaian dalam dan baju tidur. "Kenapa ada pakaian dalam dan baju tidur di supermarket, memang kompleks sekali supermarket ini ya"


"Tentu saja" ujar Langit.

__ADS_1


"Ya udah Mas, kita lewatin aja!" Neeha berbalik ingin pergi.


Tetapi Langit menahannya sambil memanggil seorang pelayan.“Kenapa gak sekalian saja, daripada beli dari tempat lain” Langit menaikkan alisnya menggoda Neeha.


Tadi kamu bikin saya kesal dan menahan malu. Kini giliran kamu Nee


"Bu buat apa Mas?. Kan kita bisa beli masing-masing"


Dasar mesum, Dosen macam apa dia beli pakaian dalam barengan lagi


“Ada diskon untuk pembelian pasangan tidak” Langsung kali ini Langit ikut membeli yang pasangan, karena seru sekali berbalik menggoda dan melihat wajah panik Neeha menurutnya.


Pelayan itu menawarkan model terbaru dan diskonnya. Langit hanya mengangguk seolah mengerti, ia menatap Neeha.


“Berapa ukuran kamu?.” Langit bertanya tanpa rasa bersalah.


Neeha langsung memerah, Ukuran?


"Ah saya lupa, saya tahu ukuran istri saya" Langit menunjuk beberapa jenis. "Ini saja"


Saat pelayan wanita tersebut ingin memasukkannya, Neeha menukar ukuran pakaian dalam tersebut. "yang ini Mbak"


Neeha berbisik dan mencubit pinggang Langit sangat kesal. "punyaku nggak sekecil itu"


Neeha berlalu memutuskan untuk menunggu Langit di dekat kasir. Wajahnya merah dan panas. Niat membuat Langit kesal, justru berbalik menyerangnya.


Langit senyum-senyum melihat kekesalan Neeha. Ia lalu memilih beberapa baju tidur yang tentunya untuk pasangan.


Langit sudah di dekat Neeha. Antri untuk membayar ke kasir. “Bagusnya kecil atau besar?” Langit bergumam dan didengar oleh Neeha


Kecil atau besar, dia benar-benar brengsek. Neeha menarik baju Langit.


“Maksudnya apa, Mas Langit tau gak itu masuk ke pelecehan verbal. Ukuran punya mas bagaimana. Lagian ukuran aku normal kok untuk tinggi dan postur tubuh” Neeha meremas baju Langit.


“Ukuran kamu. Ukuran punya saya?. Saya mau pilih ukuran kotak penyimpanan untuk bahan makanan di kulkas” Langit menunjuk kotak-kotak bewarna-warni dari sebuah rak.


Neeha melepaskan baju Langit. Langit menahan tawanya. Sampai di kasir Neeha hanya diam tak bersuara. Langit menunggu kasir menghitung belanjaan yang banyak sambil melihat Neeha yang tertunduk.


Bersambung.....

__ADS_1


__ADS_2