
Aca baru mengetahui bahwa Wiliam dan koneksinya mendapatkan informasi tentang Aron. Ternyata Aron dicurigai menggunakan metode ilegal pada bisnisnya dan memang sangat hobi menghancurkan perusahaan saingannya.
"Pantas Dulu Ibunya selalu berharap agar putranya hanya menjadi orang biasa dan tidak ambisius ya" Neeha mengingat kilas balik ketika Ibunya Aron terlihat sedih membahas anaknya.
"Aku takut Anak Perusahaan Rinto Grup bahkan Rinto Grup sendiri akan dikuasai oleh Dia Nee"
"Tapi Aca bukannya dia ngelakuin itu ke Perusahaan saingannya, lah dia udah kerjasama dengan Anak Perusahaan Papa, tempat kita kerja"
" Kamu jangan berpikir polos Nee, kamu tahu betapa munafik dan berbahaya dunia bisnis yang kita geluti, kalau kamu hanya karyawan seperti aku, aku nggak akan khawatir, karena kamu adalah satu-satunya penerus Rinto Grup aku takut dia...." Aca ingin mengutarakan analisanya.
"Apa Aca?"
" Kamu percaya aku Kan Nee?"
" Aku percaya Aca, kamu adalah analis paling kompeten yang aku kenal, tanpa kamu bahkan anak Perusahaan kita gak akan Semaju sekarang" Neeha menggenggam tangan sahabatnya.
"Aku pikir, setelah kerja sama mungkin dia akan coba menguasai semua saham Nee, lalu dia mulai mengambil kendali dan merenggut semuanya, itu gambaran besar yang bisa aku jelasin Nee"
" Jadi aku hanya perlu mengamankan Saham Perusahaan Papa kan Aca" Neeha tersenyum.
Walaupun Neeha ceroboh dan terkesan bodoh dalam hal kehidupan. Otak Neeha adalah warisan otak bisnis Tuan Rinto ayahnya yang berhasil mendirikan Rinto Grup.
Akhirnya, dari Aca dibantu suaminya yang juga seorang yang berpengalaman. Mereka menyepakati sebuah rencana.
****
Neeha duduk di meja makan seusai membuat makan malam. Tak lupa ia memamerkan bagaimana plester menutupi hampir kesepuluh ujung jarinya.
"Gimana Mas rasanya?" Neeha menatap Langit suapan demi suapan.
"Neeha saat kamu dibantu Aca memasak, apa kamu pernah mencoba hasil masakan kamu sendiri?" Langit berbicara dengan hati-hati.
"mmm pernah kok"
" yasudah sekarang ayo kamu coba !"
"enggak ah Mas, tadi pas proses masaknya aku udah cicipin"
"Tetap saja kamu harus tahu bagaimana rasanya"
__ADS_1
"Emangnya nggak enak ya Mas?" tanya Neeha.
"Bukan begitu, karena kamu pemula saya rasa ini lumayan"
Akhirnya Neeha ikut mencoba masakannya sendiri. Baru satu suapan, ia sudah merasa eneg.
"Nggak usah dihabiskan Mas!"
Neeha segera merapikan masakannya. Namun satu piring penuh sudah masuk ke kerongkongan dan mengisi perut Langit.
Hampir sepanjang malam, Langit bolak-balik ke kamar mandi. Hal itu juga membuat matanya menjadi mata panda. Diare semalaman, ia tidak tidur-tidur.
****
Sampai pagi ini di Perusahaan, Langit masih meminum obat pencernaan yang dibawakan oleh Agung. Mendengar Langit makan masakan Neeha yang salah memasukkan takaran garam dan gula serta bumbu MSG berlebihan. Agung bersusah payah menghentikan tawanya.
"Langit-langit, Hahahahahh" Agung memegangi perutnya.
"Bener-bener Lo ya Gung, nggak ada rasa persahabatan"
"Oke deh sorry. Emang alasannya apa dia mau jadi istri sempurna buat Lo?"
"Ooh gitu, terus Lo izinin?"
"Ya iyalah, dan gue nggak mau makan masakan dia tanpa gue awasin. Bisa-bisa gue keracunan Gung"
*****
Clara akhir-akhir ini sangat jarang bertemu dengan pacarnya Azkal. Meskipun mereka di Perusahaan yang sama, terasa semakin ada jarak diantara mereka.
Aron meminta bertemu Clara secara diam-diam. Ia membeberkan percakapan bahwa Azkal menolak bekerjasama perihal mantannya Neeha.
"Mengapa?. Mengapa semua laki-laki mapan dan tampan hanya tertarik pada Neeha wanita sialan dan bodoh itu" Clara melempar sepatu high heelsnya dan mengacak barang-barangnya.
Clara tidak bisa tinggal diam. Apalagi setelah mendengar Aron bahwa Azkal tidak mau mencoreng nama baik Neeha.
Neeha, alangkah baiknya jika nama kamu yang cacat. Aku benci semua tentang kamu. Bisa-bisanya Azkal masih memikirkan kamu disaat aku yang berkorban untuk dia.
Ia bertemu dengan Azkal di hotel, memakai pakaian seksi dengan dandanan yang biasanya mampu menaklukkan Azkal, kini hanya bisa membuat Azkal merasa muak.
__ADS_1
"Apa yang mau kamu bicarakan. Aku bilang aku sibuk sayang!" Azkal melepaskan tangan Clara yang mengelus miliknya.
Azkal menolak minuman beralkohol yang diberikan Clara. Ia bahkan menolak ciuman dan permintaan S** dari Clara. Alasannya selalu sama, ia tidak bisa karena tugasnya di kantor menumpuk.
"Sayang apa kamu bosan Sama aku?" Clara kembali melet manja.
"Enggak, aku nggak bisa hari ini"
"Terus kapan?" Clara mengatur nada bicaranya.
"Bisa nggak sih kita berhubungan normal saja!" Azkal ikut menurunkan suaranya.
"Apa? normal? Bukannya ini bentuk hubungan normal kita. Kamu selalu butuh kepuasan dari aku kan?. dan aku adalah orang yang selalu ada buat kamu dan ngasih semua itu" Clara berubah sendu.
"Clara kamu itu wanita, masih muda, apa kamu tidak takut hal ini merusak masa depan kamu?"
Kenapa Azkal yang tidak pernah tertarik dengan masa depan justru bahas masalah itu.
"Masa depan aku udah aku serahin Sama kamu, bukannya kamu janji nikahin aku?"
Janji menikahi, selintas bayangan Neeha kembali menghampiri Azkal. Iya benar, harusnya ia sudah menikahi Neeha andai saja ia tidak tergoda Clara dan benar-benar melepaskan kebiasaan buruknya yakni minum-minum dan bermain wanita.
"Kamu tahu kan aku tidak tertarik menikah. Aku bisa saja menyelingkuhi kamu Sama seperti..."
Clara memotong ucapan Azkal " Sama seperti kamu selingkuhin Neeha kan"
"Iya jadi jangan mancing aku buat marah sama kamu!" Azkal meremas dagu Clara.
Saat Azkal beranjak pergi, Clara menahan lengan Azkal. Dia harus bisa meyakinkan Azkal bahwa hanya ia yang pantas dimiliki dan memiliki Azkal.
"Aku nggak akan paksa buat kita nikah, aku tahu kalo kamu nggak suka. Makanya aku mau kita kayak gini aja, Aku tidak sama seperti wanita lainnya yang menuntut banyak hal. Aku hanya minta, tolong jangan acuhin aku sayang!"
Akhirnya Clara mengatakan perihal ia membuntuti Azkal. dan bahwa ia tahu Azkal kembali bermain wanita. Namun ia akan tetap mempertahankan Azkal, karena Clara sudah sangat mencintainya.
"Kamu tidak akan aku acuhkan. Apa yang kamu takuti"
Mungkin awalnya Clara menginginkan posisi dan uang dari Azkal. Namun karena perhatian yang ia terima, Clara jadi menginginkan Azkal seutuhnya, toh dirinya juga sudah penuh noda. Baginya hanya Azkal orang yang tidak merendahkan martabatnya.
Akhirnya setelah mereka melakukan hubungan in*** Azkal memindahkan Barang-barang Clara ke hotel lainnya. Clara selalu mencoba menghibur diri dan mengatasnamakan cinta.
__ADS_1
Bersambung....