Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Jangan terluka!. Saya tidak Suka


__ADS_3

Neeha membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Baru kali ini ia merasakan pegal gara-gara olahraga. Terakhir kali adalah semasa ia SMA.


"Saya lupa kalau kamu bisa sakit juga"


"Namanya juga manusia Mas, ya bisa lah"


"Saya baru menemui manusia sejenis kamu Nee, Gambang sekali sakit, jatuh, terluka..."


"Iya Mas iya, makanya Mas Langit harus sering-sering ada di samping aku!"


Lebih tepatnya selalu berada di sisiku!


Seperti sekarang. Posisinya Neeha lagi dipijit suaminya yang kaku. Kebetulan kan Langit sudah sering melakukan hal demikian karena suka olahraga sejak dahulu bersama Agung.


"Lagipula Nee, kamu bahkan naik dibantu oleh kekuatan saya. Kenapa bisa kamu lebih pegal daripada saya"


"Namanya juga baru pertama kali Mas"


Langit menatap istrinya heran. "Sebelumnya kamu belum Pernah?"


"Ya belum lah Mas, kalau udah mah. Aku bakal bolak-balik naik turun lebih cepat dari Mas Langit"


"Ooh pantas saja tadi kamu tampak tidak beranjak padahal saya sudah naik turun berulang kali"


"Aku juga udah hampir nyampe tau Mas. Kamunya saja yang nggak lihat"


"Sampe mana?" tanya Langit menahan senyumnya.


"Hampir di atas" jawab Neeha pasti.


Hampir saja Langit memecahkan tawanya. Selama di arena ia terus melirik Neeha yang kesusahan beranjak naik.


"Di tengah-tengah pun kamu nggak sampai Nee"


Neeha manyun, darimana Langit bisa tahu. Padahal dia lihat Langit begitu asyik sendiri sebelum membantunya.


"Pijit lebih keras Mas!" Neeha mengalihkan pembicaraan.


"Kalau lebih keras lagi, bisa-bisa tubuh kamu merah-merah dan makin sakit"


"Kalo sakit ya Dicium Mas!. Pasti langsung sembuh"


Dengan ekspresi nakal Neeha menggoda Suaminya.


"Jangan mulai Nee" tegur Langit datar.


"Bercanda Mas"


Langit memandang istrinya melempem, wajah taplak mejanya menandakan menolak candaan itu.


Neeha mengusap kerongkongannya. "Mas Haus"

__ADS_1


"Mau minum?"


Neeha mengangguk cepat.


"Ya ambil sana ke dapur ! Langit tak peduli.


"Mas Langit, badan aku sakit-sakit niih"


Memang Neeha selalu berlebihan. Sebelumnya saja hanya karena tergores pisau sedikit. Neeha sengaja memakai alasan itu agar bisa Mangkir dari tugas bersih-bersih.


Kini hanya pegal sehabis olahraga, manjanya seperti orang yang habis mendaki ke puncak gunung saja. Dengan berat hati Langit turun ke arah dapur dan mengisi gelas pasangan mereka dengan air dingin.


Di tengah-tengah tangga. Langit berpikir sejenak. Jika meminum air dingin, mungkin istri manjanya itu akan merengek perutnya sakit gara-gara Langit.


Hingga ia kembali ke dapur untuk mengganti air dengan yang panas, sangat panas, baru saja direbus Langit dengan jumlah sedikit agar cepat matangnya.


Namun lagi-lagi, di tengah perjalanan menuju kamar mereka. Langit meratapi gelas yang berisi air dengan asap mengepul.


Balik lagi ia membayangkan apa yang terjadi. Kalau Neeha secara tak sengaja dengan kecerobohannya minum air panas. Bisa bisa bibirnya melepuh dan dijadikan alasan lagi untuk mangkir dari tugas.


Ketiga kalinya Langit balik ke dapur. Air panas itu ia masukkan setengah ke cangkir miliknya. Air yang hangatnya pas itu dibawa ke kamar mereka. Dengan demikian, tak akan ada alasan untuk Neeha merasa terluka.


Masuk ke kamar, Langit sudah disuguhi sikap tak terduga Neeha.


"Cantik nggak Mas?" tanya Neeha sambil memainkan lidah.


Apa?, kenapa lidahnya melet-melet begitu?


Lidahku sariawan?. Mas Langit kenapa kayak sengaja menghindar sih. Ya kali aku sariawan.


"Hahah Maksudnya wajah aku Mas atau Leher. Bukannya mas Langit pernah bilang kalau aku punya leher yang indah? Kalau kamu salah jawab kamu tidur lagi saja di depan pintu Mas."!


Rupanya Neeha tahu saya memang ketiduran di depan pintu.


Senang sekali Neeha rasanya saat membalikkan situasi seperti ini. Biasanya Langit yang akan terus menggodanya, dengan tatapan mesum yang menakutkan.


Kini, bahkan untuk menjawab pertanyaan Neeha saja Langit ragu-ragu. Hal itu tampak jelas dari cangkir yang bergetar di tangannya.


Dengan kesungguhan hati, Langit memberikan cangkir itu dan menunggu sampai dihabiskan Neeha semua isinya. Lalu Langit meraih wajah istrinya lembut, mereka membuat kontak mata.


Wajah Neeha memerah. Sulit dipercaya kalau Langit yang mulai beraksi padanya, ia malah tak mampu berkutik dan seakan berpasrah diri.


Cantik sih cantik. tapi Amat ceroboh. Langit memandangi seluruh bagian wajah istrinya. dan terpaku pada bekas kemerahan di dagu Neeha yang sedari tadi mengganggu penglihatannya.


"Ini kenapa?" tunjuknya. "Kok bisa luka?"


"Mana Mas?" Neeha mengelus Dagunya merasakan dengan tangan bagaimana bentukan luka itu.


"Nggak sakit Mas?"


"Lihatlah ke cermin!"

__ADS_1


"Capek Mas" elak Neeha.


Akhirnya ia melihat ke kamera Ponselnya. Hanya luka gores yang amat sangat tipis. Memang warnanya kemerahan, namun hampir tak terlihat jika tidak teliti.


"Ada kan?" Langit memastikan bahwa apa yang ia lihat benar.


" Iya Mas dikit doang."


"Kenapa itu?"


"Nggak tahu nih. Kegores kuku kali Mas. Nggak apa-apa kok"


"ceroboh sekali" omel Langit sembari mencari salep mana tahu ada di laci.


"Nggak ada disini, saya harus ambil di kotak P3K di bawah"


Langit berdiri dan segera berlari ke bawah. Neeha tersenyum mengelus dagunya. Mendapatkan perhatian suami yang kaku dan monoton itu begitu menyenangkan.


Langit Mendapatkan salep, kemudian lari lagi ke kamar usai mematikan lampu.


"Ini oles!" perintah Langit.


Namun Neeha bukannya mengambil salep tersebut Justru memejamkan mata dan mendongakkan sedikit kepalanya condong ke arah suaminya.


"Oles Mas!. Aku kan pegel"


Langit menurut, ia mengoles Salep dengan sangat lembut di dagu Neeha. Wajahnya yang khawatir melengkapi tindakannya.


"Jangan ceroboh karena kamu mudah terluka Nee. Berulang kali saya peringati!" omel Langit.


"Itu gunanya aku ceroboh buat kamu Mas, biar aku lebih sering diobati dan dapat perhatian kamu"


"Jangan sering terluka. Saya tidak suka."


Apakah kata-kata romantis tersebut benar-benar keluar dari mulut Langit?. Mimpi apa bisa dengar Langit kembali bersikap santai sejak Neeha menyatakan perasaannya.


"Tidak suka mengobatinya, melelahkan" tambahnya.


Neeha cemberut, sebisa mungkin bersikap tenang. Tenang saja, suaminya pasti memang khawatir.


"Tapi Mas Langit mulai manggil aku Nee lebih sering. Apa aku yang nggak nyadar ya kapan mulainya?" Menggaruk kepalanya yang tidak gatal sedikitpun


"Iya mulainya sudah lama"


Memijit tangan dan kaki Istrinya hingga memejamkan mata. Baru kali itu Langit pernah melakukannya hingga tangannya sendiri pegal.


Melihat wajah tidur istrinya membuatnya lupa akan rasa pegal tersebut. Dipandanginya mata, hidung, bibir dan seluruh wajah. Rambut yang menutupi turun di sekitar kening ia singkirkan perlahan. Agar istrinya tidak terbangun.


"Sangat cantik" gumamnya lagi.


Kenapa dia tidak menyadarinya selama ini. Pantas saja bahkan mahasiswanya menggoda Neeha saat diam-diam bergabung di kelas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2