Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Bertengkar Lagi


__ADS_3

Seusai kepulangan Ajeng karena sibuk. Neeha merasakan kebosanan yang menghadang.


Neeha menghidupkan Televisi, meskipun tak ada tayangan yang disukainya. Lalu ia inisiatif membersihkan rumah.


"Bersihin rumah juga gak susah-susah amat ternyata"


Ia lalu kembali menonton TV. Karena bubur yang dibuatkan Langit sudah habis. Ia membuka kulkas, melihat semua makanan alami ditambah ramuan yang dibawa mertuanya.


Huh gak ada yang menarik..


Akhirnya, Neeha pergi ke lantai 2. Melihat kamar ruang kerja dan sekaligus perpustakaan sejarah dan buku-buku milik Langit. Melihat buku, Neeha justru semakin bosan.


Karena ia masih bosan, Neeha mencoba membuka ruangan lainnya. Tempat benda bersejarah yang berdebu.


Ini ruangan mau dijadikan museum apa ya? Kok gak dibersihkan. Padahal dia pencinta kebersihan.


"Eh kalo aku bantuin buat bersihin barang-barang ini, dia pasti bakalan muji aku, terus dia bersyukur dan nanti bisa nambah uang belanja buat akuu" pikir Neeha.


Pada saat bersih-bersih, tanpa sengaja Neeha menjatuhkan sebuah kardus. Bunyi yang ditunjukkan seperti ada yang pecah di dalamnya.


Neeha membuka kardus tersebut. Ternyata yang pecah adalah sebuah pigura foto. Disana ada wajah Langit yang masih begitu muda dan cerah dengan seorang gadis yang juga tersenyum sumringah.


"Ternyata dia bisa senyum secerah ini juga ya. Apa ini yang namanya Michele itu?"


Neeha melihat barang-barang lainnya. Beserta surat-surat romantis yang membuatnya mual.


Tak hanya itu saja, ada sebuah Flashdisk yang iseng dihidupkan oleh Neeha. Isinya adalah video-video keseruan antara Langit dan gadis di foto. Tak hanya itu saja, juga ada sebuah Video dimana Langit bernyanyi romantis.


"Apa ini anniversary yang dibilang sama Ajeng itu, semua orang di angkatan mereka tahu. Kalau dilihat ini emang super romantis sih"


Lalu, karena Neeha merasa bersalah sudah memecahkan pigura dan tampaknya ia terlalu lama menonton berbagai video. Ia harus pergi membeli gantinya, kalau Langit tahu, pasti ia akan dimarahi, tapi setidaknya kalau piguranya sudah diganti pasti kemarahan Langit akan sedikit berkurang. Ditambah lagi Neeha juga sudah membantu membersihkan kamar yang penuh debu tersebut.


Akhirnya dengan sedikit pincang karena kakinya terluka. Neeha berjalan ke Supermarket terlengkap yang ada tak jauh dari Rumah mereka. Hari juga sudah lumayan gelap, tak terasa karena Neeha sibuk seharian.


****


Neeha membeli pigura baru serta makanan instan yang sangat ia rindukan, bisa dibilang ia sudah sangat jarang makan makanan instan karena Langit tidak mau kotor dan tidak suka melihat makanan tersebut.


Setelah cukup lama berbelanja, akhirnya dua kantong belanjaan berhasil didapatkan Neeha. Neeha kembali berjalan pulang dengan kaki agak pincangnya yang dibalut akibat terluka oleh Ajeng.


Neeha membuka gerbang dengan kunci yang dimilikinya, Langit takut kejadian yang sama terulang sehingga kunci cadangan Ditinggalkan di Meja dekat Sofa.

__ADS_1


Saat Neeha membuka gerbang, ternyata Langit sudah berada di Rumah. Tampak dari mobil bewarna hitam yang terparkir di garasi.


Neeha membuka pintu untuk ke dalam rumah. Ia melihat Langit yang berdiri dengan raut wajah tak senang.


"Mas Langit udah pulang?"


"Siapa?" Langit langsung bertanya sambil menahan amarah dan tidak menghiraukan Neeha.


"Siapa apa Maksudnya Mas?"


"Siapa yang nyuruh kamu menyentuh barang-barang di kamar itu?" Langit menunjuk kamar tempat yang dibersihkan Neeha tadi.


"Ooh, karena berdebu dan aku bosan gak ada kerjaan makanya aku..."


"Siapa yang minta kamu bersihkan?" Nada Langit sudah meninggi memotong pembicaraan Neeha.


"Nggak ada kok Mas, aku kan tadiii...


"Kamu lancang banget masuk kamar orang tanpa izin. dan bahkan menyentuh barang pribadi saya"


"Aku cuma mau bantuin Mas Langit buat bersihin kamar itu aja kok"


"Karena kebetulan ....


"Kebetulan kamu lihat ada yang bisa kamu hancurkan. Jadi kamu bahkan menonton isi dalam flashdisk. Kamu sangat tidak punya etika. Bahkan kamu pecahin piguranya" Langit marah


"Aku nggak sengaja Mas mecahin pigura, oke kalau Video aku.."


"Kamu sengaja kan. Apa kehidupan manja kamu begitu menomorduakan kesopanan. Berani menyentuh barang orang lain seenaknya"


"Mas, aku nggak sengaja. Oke aku minta maaf udah nonton video itu. Aku juga minta maaf pecahin kaca pigura. Ini aku bawa gantinya" Neeha menyodorkan dua kantong belanjaan yang ia bawa.


"Makanan gak sehat dan membawa penyakit itu yang kamu bawa"


"Apa-apaan sih kamu Mas, aku bahkan nggak ngeluh loh sama ramuan yang dikasih Ibu kamu"


"Ramuan itu lagi, dari semalam cuma itu yang kamu ocehkan. percuma saya kasihan sama kamu, bisanya hanya mengarang alasan"


Langit lalu mendekati kulkas, mengeluarkan ramuan yang masih bersisa. Ia lalu mengambil gunting di rak dapur.


"Mas kamu mau ngapain Mas?"

__ADS_1


Tanpa menghiraukan Neeha, Langit menggunting semua ramuan dan membuang isinya pada wastafel. "Udah kan, gak perlu pakai ramuan ini lagi buat alasan"


"Mas, itu Ibu yang kasih"


"Biarin, supaya kamu nggak punya alasan lagi"


"Mas tahu nggak, itu ramuan juga buat kamu. Aku minum dan nggak nawarin ke kamu karena takut kamu nggak suka"


"Nggak usah pura-pura peduli dengan saya. Jalani saja kehidupan kamu yang hedon dan tidak teratur itu"


"Kamu nggak berhak buat kritik hidup aku!"


"Siapa bilang?. Kamu udah rusakin barang saya juga"


"Mass" Neeha meneteskan air mata.


"Kenapa?. Mau nangis lagi. Emang kamu nggak ada ide lainnya apa?"


"Langit kamu bajingan. Aku minta maaf udah ngerusak barang dan kenangan cinta pertama kamu. Maaf Maaf Maaf" Nada Neeha ikut meninggi "Makan tuh kenangan sama wanita yang namanya Michele, dia udah punya kehidupan baru tapi kamu masih terjebak, kalau masih cinta kenapa gak pajang aja sekalian di kamar tamu kenapa barangnya disimpan di kardus"


Neeha akhirnya pergi ke kamar tamu. Ia merapikan barang-barangnya.


***


Setelah Neeha pergi,


Ponselnya berdering... dari Ajeng


"Nomor istri kamu nggak aktif. Oh ya kalau bisa jangan kena air dulu kakinya ya. Aku lupa karena keasikan cerita sama dia"


"Apa kamu cerita soal Michele?"


"Mm iya maaf ya Langit, habisnya cerita sama Neeha itu seru aku mudah akrab sama dia"


Langit menarik nafasnya. Bukan Neeha yang ingin kepo dengan barang-barangnya. Langit melihat kembali kardus di kamar itu. Ia menyadari tidak seharusnya ia memarahi Neeha sebelum mendengar cerita lengkapnya.


Bisa jadi karena memang Neeha tidak sengaja menjatuhkan kardus itu. dan lagipula ia memang sudah seharusnya membuang barang-barang tersebut. Sudah 8 tahun, seharusnya kenangan itu hanya menjadi kenangan masa lalunya.


Langit teringat kata ayahnya, Ia yang harus lebih bersabar menghadapi Neeha. Ia harus lebih legowo sebagai lelaki dan bahkan sebagai Suami Neeha meskipun mereka nikah tanpa cinta.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2