Suami Monoton Milikku Seorang

Suami Monoton Milikku Seorang
Suami Sayang Istri


__ADS_3

Neeha memakai pakaian rapi dengan bawahan rok, setelan andalannya. Neeha melihat wajahnya di cermin yang selalu sedia di atas meja, jaga-jaga kalau ada cabe nyangkut di gigi atau ada kotoran nempel di wajah cantiknya.


"Neeha" Jordi langsung menyapa dengan penuh semangat.


Aduuh ngapain sih ini Jordi. Padahal aku udah nikah


"Eh Jordi"


"Kamu nggak nanya saya Neeha?"


"Nanya perihal apa?" Neeha melempar tatapan bingung.


"Saya darimana?"


Ngapain aku nanya hal itu. Lagipula urusannya sama aku apa?


"Aku nggak terlalu penasaran sih sama urusan kamu"


"Perjalanan bisnis kemarin begitu mendadak. Kalo enggak saya bakal ajak kamu jalan-jalan"


"Nggak usah Jordi, ngapain juga kamu ngajak aku"


"Neeha, saya tahu kamu suka sekali Shopping terutama mengenai Tas. Saya dapat info kalau ada tas yang baru saja keluar"


"Oh ya?" Neeha antusias.


Eh sadar Neeha. Dia itu Jordi, berusaha menjauh darinya.


"Iya, kamu belum dengar kabarnya?"


"Udah kok, tapi aku....Nggak tertarik"


"Tumben kamu nggak tertarik. Saya sering dengar kamu begitu bersemangat kalau mengenai tas"


Darimana dia tahu. Perasaan aku cuma semangat sama Aca doang.


"Ah enggak kok Jordi"


"Sebagai ganti saya nggak jadi ajak kamu shoping. Saya bawakan ini" Jordi menyodorkan sebuah hadiah terbungkus.


"Ini apa Jordi?"


"Kalau kamu penasaran, ya buka aja!"


Meskipun kamu sangat penasaran dengan isi hadiah itu, harus Tahan Neeha, Penasaran hanya akan menyulitkan kamu.


"Kalau gitu, aku nggak penasaran. Kamu simpan aja Jordi!"


"Ini tas yang baru keluar. Sengaja saya pesan bahkan rela berebut dengan orang lain"


"Oh ya" Mata Neeha berbinar, tangannya gatal untuk menerima hadiah tersebut.


"Ini" Jordi tersenyum. Berharap wanita yang disukainya akan senang.


Tanpa disangka Neeha menolak Hadiah itu. "Maaf ya Jordi, aku nggak bisa Nerima hadiah ini"


"Kenapa?. Hadiah ini sangat mahal. Saya sengaja membelinya untuk kamu"


"Tapi aku benar-benar nggak bisa Jordi. Lagipula sekarang aku udah nikah. Aku nggak bisa Nerima hadiah terutama dari laki-laki lain"

__ADS_1


"Kenapa?. Apa suami kamu menyulitkan kamu?. Apa dia akan menghukum kamu kalau menerima hadiah dari saya?"


Mendengar kata menghukum pikiran Neeha langsung terbang membayangkan ciuman dari Langit. Neeha segera membuyarkan bayangan itu.


"Enggak kok Jordi. Mas Langit itu suami yang sangat menyayangi Istri. Asal kamu tahu, Mas Langit bahkan pernah membelikan aku banyak jenis tas yang aku sukai " Neeha berusaha terlihat sumringah.


Yaa meskipun itu juga karena dia kapaksa biar aku maafkan.


"Ya udah kalo gitu. Tapi kalau misalkan aku ajak kamuu..."


Belum selesai Jordi bicara, Neeha memotongnya "Aku juga nggak bisa pergi sembarangan lagi Jordi. Aku sekarang punya suami. Aku harus dapat izin dahulu"


Bagus Neeha, kamu terdengar sangat keren. Itu adalah fakta yang tak terhindari.


"Oh ya, saya ngerasa sejak kamu menikah. Kita semakin jauh, serasa ada suatu dinding yang membatasi kita Neeha"


"Bukan gitu Jordi"


"Saya hanya berharap, meskipun kamu sudah menikah. Kita masih bisa berteman. Kamu adalah teman pertama saya sejak awal masuk ke Perusahaan ini"


Jordi melanjutkan ucapannya "Saya juga terlahir dari keluarga kaya sama seperti kamu, banyak yang bilang saya hanya mampu menghabiskan uang keluarga saya dan nggak bisa mandiri. Tapi kamu satu-satunya yang memberikan semangat kepada saya karena kamu juga sama, berusaha mandiri tanpa nama Orangtua."


Benar juga yang dibilang Jordi. Kita memang dekat karena punya latar belakang keluarga yang sama


"Kita masih bisa berteman kok Jordi. Asalkan kamu nggak ngasih perhatian berlebihan kayak hadiah ini. Kita adalah rekan kerja kan?" Neeha kini tersenyum.


"Ya sudah, kalo gitu saya kembali ke kantor saya dulu"


"Ok Jordi"


Jordi segera meninggalkan tempat Neeha. Jelas ia kecewa, tapi ia tak bisa memaksa Neeha untuk menerima apa yang ia berikan.


Semoga Lasmi bisa mendetail ngasih tahu si Sera. Aku nggak pernah memberikan kesempatan buat Jordi.


Lasmi berlari dan menceritakan semuanya pada Sera. Seulas senyum terpancar dari wajah Sera.


"Bagus juga, ternyata Neeha. Wanita itu cukup setia sama suaminya"


"Benar banget Sera, aku yakin Neeha dan Jordi nggak akan ada kemungkinan buat bersama"


"Tapi bagaimanapun juga kita harus terus mengawasi Neeha. Kalau dia macam-macam, kita laporkan ke Suaminya"


"Kamu tahu tempatnya Sera?"


"Tempat apa?"


"Tempat suaminya"


"Bukannya dia Dosen ya di kampus lah"


"Oo iya bener banget Sera"


*****


Langit asik scroll scroll pada layar ponselnya. Ia juga mencatat dengan ekspresi serius di sebuah kertas, lalu melihat layar ponselnya lagi. Itu berulang dan Langit tak menghiraukan pandangan sekitarnya.


Agung memperhatikan sahabatnya. "Langit"


"Apa?"

__ADS_1


"Tumben banget Lo nggak baca buku sejarah lagi"


"Emangnya harus?"


"Ya enggak takut Lo lupa aja"


"Nggak perlu dibaca, gue udah hafal. Itu cuma selingan"


"Nah itu dia, kok selingan Lo sekarang jadi ngelihat Ponsel?. Makanya gue bilang Tumben"


"Nggak usah kepo Lo. Ketularan Romi ya?" Langit tidak melepaskan pandangannya pada layar ponselnya.


"Lo ngapain? Sibuk banget kelihatannya"


"Ini mau pesan barang"


"Hah Lo mau pesan barang lagi?"


"Mm"


"Bukannya waktu itu udah?. Lo kalo nggak salah pesan sepeda sama apa..."


"Sama sepeda.." sambung Langit. "Sekarang barang yang lain"


"Barang apa lagi nih sekarang?"


"Meja rias"


"Buat apa?"


Langit geleng-geleng kepala secara tiba-tiba, menatap Agung dengan sendu. "Meja rias buat merias kan. Kalo meja kerja buat kerja. Masa Lo nggak tahu sih?"


"Kenapa Lo menatap gue sedih begitu?"


"Kasihan gue Lo nggak tahu hal dasar kayak gini"


"Ngeselin Lo. Iya tahu, maksud gue buat apa Lo pesan meja rias?. Lo mau dandan, apa sekarang Lo nemuin jati diri Lo yang sebenarnya?" Agung memandang Langit dari ujung rambut hingga ke kaki.


"Maksud Lo apa?" Langit menatap datar sahabatnya.


"Lo sadar kalo jiwa Lo sebenarnya feminim awwhhh " Agung mengedipkan matanya.


"Gila Lo. Ini buat Neeha" Langit syok sesaat.


"Istri Lo?.


"Mm" Langit mengangguk.


Agung melihat kertas yang ditulis Langit. Isinya adalah kelebihan dan kekurangan dari beberapa tipe meja rias serta harganya.


"Ooh, iya bener juga. Lo pesan sepatu, sepeda, sekarang meja rias. Semua demi istri Tercinta" Agung salut.


"Apaan istri tercinta?" Langit memelankan suaranya, takut ada yang mendengar.


"Nggak gue sangka kalo Lo itu sebenarnya adalah tipe suami yang loyal banget sama istri. Apa Lo mulai perhatian sama istri Lo?. Apa Lo jatuh cinta?"


" Ini sebagai bentuk tanggung jawab gue aja. Kan gue suaminya"


"Ooh gitu ya..Tetap saja. Suami sayang istri"

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2