
Seperti yang dijelaskan sebelumnya. Langit bisa terkesan lebay bagi sekitar kalau sudah jatuh cinta.
"Ngit kenapa makan bekal kaya gitu?"
"Ini buatan Neeha,"
Saat akan tidur Mengecup dalam. Menginginkan hubungan romantis setiap hari.
Pernah dengar Neeha iri dan juga ingin dinyanyikan oleh Langit. Hal itu tidak berakhir di konser saat Hari jadi Kampus saja.
Setiap hari libur mereka. Langit akan bernyanyi dengan judul Aku Mencintaimu dan lirik yang hampir dihafal Neeha karena selalu dinyanyikan secara berulang oleh Suaminya.
Bukan itu saja, karena Dahulu Neeha sempat protes dengan jawaban Langit yang tanpa Variasi, iya tidak atau Hmmm sajaa.
Langit memvariasikan jawabannya menjadi lebih panjang. Langit lebih terbuka dan selalu banyak bicara.
.......
Begitu pula hari ini di rumah mereka. Saat Tuan Rinto beserta istri datang juga Tuan Sanjaya dan dan istrinya.
Langit terus menatap Neeha seolah-oleh akan jatuh kapan saja karena kecerobohan.
"Aku nggak apa-apa Mas, Lihat Papa sama Mama natap kita, Ibu dan Ayah juga" keluh Neeha.
"Saya takut kamu jatuh, waktu itu saja kamu tersandung, kelingking kamu nyut-nyutan kan?"
"Biasa Mas, semua orang juga pernah"
"Orang lain boleh, kamu yang nggak"
"Ibu sudah bilang kan Yah. Neeha pasti bisa mencairkannya. Membuat Langit menjadi penuh cinta" Nyonya Sanjaya terharu melihat mereka.
"Iya Bu, Ayah setuju"
Tuan Rinto kini menatap putrinya. Raut wajahnya menunjukkan sedikit rasa iri.
"Bukannya Papa udah rela. Jangan kentara dong Pa"
"Mama jangan gitu lah. Putri kecil Papa bahagia. Tentu Papa senang"
Mereka duduk di meja melingkar di pekarangan rumah.
"Tempat ini waktu kamu harus membetulkan pencernaan ya. Kita bolak-balik disini"
"Iya, aku kedinginan waktu itu" Neeha juga mengingat momen tersebut.
"Jadi rencana kalian kedepannya apa?" tanya Tuan Rinto.
"Aku mau tetap kerja Pa, Meskipun aku pewaris tapi kan masih bisa kerja" jawab Neeha.
"Papa nggak akan kasih kamu posisi Papa secepatnya. Kamu bisa menikmati kehidupan rumah tangga dan pekerjaan yang santai"
"Kalo gitu aku Nerima uang aja Pa"
"Boleh juga"
__ADS_1
Nyonya Rinto menghentikan percakapan Ayah dan putrinya yang kadang lupa sekitar itu. Mempersiapkan Nyonya Sanjaya besannya yang sangat ingin bicara untuk mengungkapkan perasaan.
"Ibu nggak akan minta apa-apa. Tapi karena kalian sudah saling tahu perasaan masing-masing. Apa tidak bisa dipercepat?"
"Aduh Bu, nggak sabaran sekali" Tuan Sanjaya menasehati istrinya.
"Ibu tenang saja Kami akan terus berusaha. Ayah punya tonik kan. Aku bisa minum tiap hari"
"Kebetulan ibu memang udah bawa banyak stok. Dijamin pas" Nyonya Sanjaya Menaikkan jempolnya.
"Kalo gitu saya bisa melakukannya tiap hari" ujar Langit dengan tampang santuy tanpa dosa.
"Tiap hari?. apa yang tiap Hari Mas?"
Langit berbisik di telinga Neeha. Hal yang dilakukan jika ingin cepat memiliki bayi.
Mendengar suaminya itu membuat Neeha gemas. Ia juga menginginkannya tapi kesal saja jika Langit terus menggodanya begitu.
...**********...
Beberapa bulan kemudian...
Langit menyiapkan sarapan mereka berdua. Karena dari tadi Neeha belum juga keluar dari kamar mandi.
Beberapa hari ini bahkan Neeha sering mual-mual. Sering ditanya apakah hamil atau tidak. Tapi Neeha meyakini ia hanya masuk angin saja.
Neeha keluar dari kamar mandi. Ia menuruni tangga perlahan dan melihat suaminya yang sibuk membuat sarapan.
Langit sedang menyiapkan Telor dengan bentuk hati, entah mengapa rasanya hari ini ia akan sangat senang. Memang biasanya juga Langit selalu senang menyiapkan sarapan pagi yang dimakan Neeha. Istrinya yang selalu memuji kemampuan memasaknya sambil terus belajar sesekali.
Neeha mendekat, ada kebahagiaan dan sukacita berbarengan di wajahnya.
"Mas aku mau ngomong sesuatu..."
Neeha mengatupkan bibirnya ragu-ragu. Kedua Tangannya berada di belakang tubuhnya.
"Kamu mau bilang apa?" Langit mencoba mengintip sesuatu yang disembunyikan istrinya.
"Tadi aku ke toilet"
"Terus?" Langit memundurkan kursi agar Neeha mudah untuk duduk.
"Coba Mas Langit tebak?"
"Tebak?. Apa kamu sembelit?"
"iih Mas Langit. Bukan itu"
"Apa jangan-jangan kamu Diare?"
"Jangan jorok gitu Mas, ntar aku mual loh"
Neeha memberikan benda yang sedikit asing bewarna putih. Itu adalah alat tes kehamilan yang menunjukkan dua garis.
Untuk beberapa saat Langit memastikan benda tersebut memang menunjukkan garis dua yang amat jelas.
__ADS_1
"Neeha apa kamu..."
Neeha mengangguk. Sesuai dengan apa yang mereka inginkan.
Hal itu membuat Langit segera memeluk istrinya ia juga mencium perut istrinya dan berbisik.
"Semoga kamu mirip Mama ya!"
"Kalau mirip aku, dia manja juga gimana?. Ntar kamu repot ngurusin dua wanita yang manja"
"Nggak apa-apa. Saya akan memanjakan dua wanita sekaligus. Tidak begitu sulit. Pasti menyenangkan melihat Neeha versi kecilnya"
"Aku maunya dia mirip kamu Mas"
"Kalo mirip aku dia harus bisa menjaga Mamanya, dan saudara perempuannya!"
"Dia kan belum lahir Mas?. Terus siapa bilang aku mau hamil lagi?"
"Nanti kalau dia lahir, kita bisa bikin lagi" Langit menampakkan giginya.
"Jangan buru-buru Mas" Neeha berubah kesal.
"Iya deh iya. pokoknya terserah kamu. Aku nggak akan buru-buru janji..."
Begitulah masa-masa kehamilan Neeha yang berlanjut. Meskipun mualnya merepotkan, ngidam yang aneh-aneh. Tapi suami monotonnya tak pernah mengeluh. Tipe ayah siap siaga yang selalu ada di saat yang tepat.
Langit membeli buah asam yang sangat diinginkan Neeha. Atau harus di tidur di luar kamar karena tiba-tiba Neeha mual saat melihatnya.
Seperti sekarang... Langit bolak-balik mengatur bagaimana mengosongkan satu ruangan untuk kamar sang calon buah hati mereka. Bahkan beberapa hadiah dari Mertua sudah berjejeran memenuhi sudut ruangan itu.
"Mas kalau barang-barang itu begitu berharga kan nggak perlu kamu jual Mas!"
Langit berhenti "Gimana kalau Saya sumbangkan ke museum yang dikelola Michele?. Tapi kalau kamu..."
"Nggak apa-apa Mas, disumbangkan ke situ saja. Bukannya Michele kan sudah berpengalaman. Pasti barang-barang kesayangan kamu akan aman"
"Iya udah, tapi nggak semua ya Nee. Saya sayang" ujar Langit.
"Terserah kamu Mas, pasti kamu nggak rela berpisah dengan barang-barang kuno itu"
.......
Neeha mengusap perutnya "Meskipun Suamiku itu Monotonnya tak begitu berubah, Tapi itu keistimewaannya yang juga aku sukai. dan yang terpenting Suami Monoton itu Milikku. Milikku seorang"
Tak lama kemudian ada pergerakan yang dirasakan Neeha. Mungkin calon buah hatinya protes.
"Iya sayang, Dia juga milik kamu, Papa Kamu"
Langit menghampirinya. Mencium mesra istri yang amat ia cintai itu. Apapun yang terjadi kedepannya semoga saja semua kenangan yang mereka lalui berpihak dengan benar.
"Mas kayaknya dia juga mau dicium" Neeha menunjuk calon buah hatinya.
Langit ikut mencium calon buah hati yang masih bersiap untuk masuk ke dunia mereka. Dunia baru sebagai keluarga.
....... SELESAI.......
__ADS_1