
Agung menghampiri meja Langit.
"Ngapain Lo?" Langit sinis.
"Enggak ada, gue kangen sama Lo nggak boleh Ngit?"
"Nggak!" ketus Langit.
"Oh iya ya, yang boleh kangen sama Mas Langit kan istrinya aja" goda Agung.
"Gung Lo mau ngapain sih?" Langit menatap sahabatnya kesal.
"Ajak istri Lo mau nggak??" Agung memperlihatkan giginya.
"Lo mau ngajak istri gue?" Langit syok.
"Bukan gue ngajak istri Lo. Tapi gue nyuruh Lo ajak istri Lo!"
"yang jelas Gung, Lo ngomong apaan sih?"
"Acara kemah di.... , Lo baca sendiri deh!" Agung menyodorkan sebuah pamflet.
Acara kemah di desanya dahulu. Acara yang tepat dilakukan pada saat libur semester.
"Neeha bukan petugas pendidikan, mana mungkin dia libur"
"Tepat sekali, acara kemah ini pada saat libur nasional juga, gimana?. Cuma 3 hari Ngit" Agung memelas.
"Masih lama juga Gung. Gue kayaknya nggak bisa ikut"
"Kenapa Lo nggak bisa ikut?. Pokoknya Lo harus ikut, karena nama Lo udah gue daftarin"
Langit berdiri, "Eh seenaknya aja Lo daftarin nama Gue, kan gue belum setuju"
Agung meminta Langit duduk kembali. Menenangkan Langit karena Dosen lain terganggu.
"Lo belum setuju. Tapi Istri Lo udah" Agung memperlihatkan giginya sekali lagi.
"Gue belum ngomong sama Neeha Gung"
"Ajeng udah ngomong sama Neeha. Awalnya dia nolak, tapi Ajeng istri gue itu emang pintar sampai Neeha mau"
Kenapa dia itu memutuskan sendiri tanpa izin saya?.
****
Langit menjemput Neeha...
Di perjalanan pulang Langit hanya diam, mengatakan bahwa ia ingin membicarakan sesuatu di rumah.
Mas Langit mau ngomongin apa sih?. Bikin penasaran aja. Kalau mau dibilang pas di rumah kenapa nggak nanti aja pas di rumah disampaikannya.
"Emangnya Mas Langit nggak bisa bilang sekarang ya?" Neeha mendesak.
"Saya lagi Nyetir Nee, nanti saya nggak bisa fokus"
Setibanya di rumah, Langit langsung mencecar Neeha mengapa setuju dengan acara Kemah tersebut.
Ternyata acara itu diikuti oleh banyak siswa kurang mampu. Acara yang juga boleh memberikan berupa bantuan pada mereka.
Jadi itu alasan Neeha ikut. Tidak saya sangka dia sangat dermawan.
"Mas Langit nggak mau ya?" Neeha menurunkan suaranya.
"Siapa bilang?"
"Berarti Mas Langit mau kan?" Neeha kembali bersemangat.
__ADS_1
"Iya, tapi lain kali diskusikan dahulu dengan saya sebelum kamu menyetujui apapun Nee!"
"Iya Mas. Aku janji"
****
Neeha sibuk mengetik banyaknya file keuangan. Ia bahkan belum sempat mencicipi Kopi yang sudah dingin di meja akibat diangguri.
Sebuah panggilan masuk....
"Neeha, sepertinya nanti saya akan terlambat pulang"
"Jam berapa Mas?"
"Sekitar tengah malam mungkin. Ada file kampus yang harus saya cari"
"Oh oke Mas"
"Kok kamu kedengarannya bahagia?"
"Ah enggak Kok Mas, perasaan kamu aja kali"
" Satu lagi, pastikan kamu aktifkan kunci gerbang dari rumah. Pastikan semuanya beres, tidak ada mesin yang menyala dan kompor mati"
" Iya Mas, bukannya kamu cuma pulang telat nanti kamu juga bisa periksa sendiri Mas"
"Kemungkinan saya akan menginap di asrama kampus saja Nee"
"Kenapa Mas ?"
"File itu sudah cukup lama dicarai tapi tidak ketemu. Hari ini saya harus menemukanya"
"Ooh begitu ya Mas"
"Ingat pesan saya Nee?"
Mas Langit nggak akan pulang cepat, berarti aku bisa ngelakuin apa yang aku suka semaunya. Aku juga bisa makan camilan dan semuanyaaaaa.
....
Lasmi menemui Neeha...
Duh mau ngapain lagi sih ini orang.
"Ada apa?" Neeha berpangku tangan.
"Kamu mau ikut perjalanan bisnis sama Jordi nggak?" Lasmi menawarkan.
Tumben banget nanya hal ini sama aku. Mau ngetes aku ya Lasmi, aku nggak akan mau dekat sama Jordi.
"Enggak, nggak mau?" jawab Neeha santai agak ketus.
"Cuma hari ini aja" Lasmi memperhatikan dengan saksama apakah Neeha mau atau tidak.
"Hari ini?. Aku lebih senang berada di rumah" Neeha tersenyum apalagi Langit suaminya yang monoton itu tidak akan pulang cepat.
"Kalo gitu kamu bisa ngusulin orang lain" Lasmi berbinar.
"Kamu nggak usah pura-pura nggak tahu Lasmi. Suruh aja si Sera. Lagipula aku udah punya suami nggak bisa pergi sembarangan tanpa izinnya" Neeha menepuk pundak Lasmi.
"Kamu beneran nolak kan Neeha?"
"Iya Lasmi, nggak perlu aku ulang dua kali kan?" Neeha meladeni Lasmi dengan malas.
"Oke"
.....
__ADS_1
"Jadi Neeha nolak to the poin Lasmi?"
"Iya Sera, dia bahkan sangat bersemangat bilang mau di rumah"
"Kayaknya dia memang nggak ada ketertarikan sama sekali dengan Jordi ya"
"Menurut aku sih gitu Sera. Dia pasti benar-benar mencintai suaminya itu"
"Bagus deh Lasmi. Berarti aku nggak harus begitu waspada sama Neeha. Aku hanya perlu membuat Jordi mencintai aku"
"Iya Sera"
.....
Neeha membeli banyak camilan bersama Aca.
"Kamu yakin suami kamu pulang telat. dan kamu nggak akan ketahuan beli dan makan ini, Nee?"
"Yakin Aca, bahkan dia bilang mungkin nginap di asrama Kampusnya. yang artinya dia mungkin nggak bisa pulang"
"Emangnya Suami kamu itu nggak merasa bersalah dan rindu ya Nee?"
"Maksud kamu Aca?"
"Kalian udah cukup lama kan menikah. Pasti dia akan ngerasa bersalah ninggalin kamu sendirian di rumah sebesar itu" Aca berlagak seperti detektif.
"Dia nggak cinta sama aku Aca, bahkan tertarik pun enggak. Indra perasanya udah mati" Neeha menekankan kata mati.
"Mati?"
"Iya"
"Kamu harus lihat ini!" Aca mengeluarkan ponselnya, menunjukkan foto yang ia ambil waktu itu.
Ciuman yang begitu mesra. yang membuat Neeha merasakan nyaman, ciuman lembut yang bahkan saat ia mengingatnya membuatnya tersenyum seperti sekarang ini.
"Tuh kan kamu senyum Nee"
"Enggak Kok Aca"
"Ya udah kalo gitu aku hapus aja"
"Eh jangan Aca, kirim dulu buat aku!"
"Kamu senang kan Nee?"
"Lagipula aku senang Mas Langit itu nggak akan mencintai siapapun Aca"
"Darimana kamu tahu Nee, laki-laki itu harus dites dan kamu bisa ngebuktiinnya sendiri. Apa dia benar-benar nggak tertarik sama kamu"
"Maksud kamu Aca?" Neeha bingung.
"Kamu coba deh, dandan yang seksi. Terus godain suami kamu. Aku yakin dia nggak akan kuat" Aca menaikkan alisnya.
"Iih kamu jangan ngomong mesum dong Aca!" Neeha menutup mulut sahabatnya.
"Itu wajar kali Neeha. Apalagi dia udah pernah ngelihat tubuh kamu kan"
Neeha menutup mulut Aca lagi, "Aca kamu kalau ngomong pelan dikit dong!. Kalau ada yang dengar gimana?"
Aca melepas tangan Neeha. "Aku nggak yakin dia sedikitpun nggak ada rasa sama kamu. Apalagi dia ngasih kamu sepeda, meja rias sepatu dan beliin apapun yang kamu mau walaupun itu harus menghabiskan pendapatannya"
"Tapi kan aku juga ngasih dia parfum Aca. Itu kan memang tugas dia memenuhi kebutuhan istri"
"Kamu lebih ke arah istri yang boros Neeha. Coba deh Kamu bandingin dari apa yang udah dia kasih buat kamu Nee. Pokoknya sekali-kali kamu bisa tes dia Nee!"
"Iya-iya deh Aca, tapi kapan-kapan ya. Hari ini aku harus menikmati camilan camilan ini"
__ADS_1
Bersambung....